Negeri Ini Aman karena Soto Lamongan

Negeri Ini Aman karena Soto Lamongan

seputarmakan.com

Berapa banyak orang yang belum pernah merasakan kenikmatan dari Soto Lamongan, walau cuma setetes kuahnya? Rakyat Indonesia yang lidahnya sehat dan tidak kebal lapar pasti menganggap pertanyaan itu absurd.

Dalam urusan kuliner yang nikmat ini – sama halnya dengan pecel, rawon, rendang, sate, dan lain-lain – tidak diperlukan pertanyaan yang butuh ketepatan jumlah.

Misalkan, ada yang menjawab kalau jumlah orang yang sama sekali tidak pernah mencicipi Soto Lamongan itu mencapai 7 juta. Jawaban tersebut pasti memunculkan serangkaian pertanyaan baru, semisal dari mana ia tahu kalau memang jumlahnya 7 juta orang?

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara ia menghitungnya dan memakai kalkulator model apa, kok tahu jumlahnya segitu? Nah, benar-benar sulit memproyeksi ketepatan jumlah, apalagi sampai berjuta-juta orang.

Berbicara tentang Soto Lamongan, tidak usah bawa-bawa ilmu matematika yang njlimet. Ini benar-benar persoalan rasa, bukan angka. Ini juga persoalan jasa para pedagang yang menyebar dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Pulau Rote. Warung dan gerobak Soto Lamongan selalu hadir dan berdiri tegak di tengah masyarakat.

Penyuka Soto Lamongan juga jangan diragukan lagi. Seluruh lapisan masyarakat Indonesia adalah pengecap kuliner berdaging dan berkuah ini. Presiden suka, para anggota kabinet juga suka. Para hakim, jaksa, dan pengacara juga doyan. Apalagi para habib, kyai, dan santri-santrinya.

Tak cuma itu, orang asing dan aseng pun gemar menyantap makanan khas Lamongan, Jawa Timur ini. Bahkan para preman pun suka. Pokoknya, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, sangat menyukainya. Sebuah kenikmatan yang paripurna.

Soto Lamongan disantap untuk sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Warung dan gerobaknya selalu siap sedia di mana pun kita berada. Pagi buka, sore masih buka, dan malam pun tetap eksis menyambut para pemburu kuliner.

Beberapa waktu lalu, ketika ada survei yang menempatkan Rendang dan Nasi Goreng sebagai makanan terlezat di dunia, para pedagang Soto Lamongan tidak resah gelisah. Tidak takut dagangannya sepi pembeli, lalu kalap menyewa lembaga survei untuk mengerek elektabilitas pamor masakannya.

Mereka juga tidak meng-endorse para seleb di media sosial atau menyewa jasa buzzer demi memoles citra Soto Lamongan. Tidak membayar pemilik akun anonim untuk menyebar hoax agar masyarakat benci kepada rendang, nasi goreng, atau soto-soto lainnya.

Para pedagang Soto Lamongan tetap santai, bahkan berdampingan mesra penuh cinta dengan Rumah Makan Padang, Warung Tegal, gerobak Nasi Goreng, Warung Kopi, dan lain-lainnya. Mereka sadar bahwa persaingan kuliner itu soal biasa.

Mereka yakin kualitas dan rasa tidak bisa dibohongi pakai macam-macam itu. Terlebih penghuni di Republik ini getol berwisata kuliner dan tak pernah lupa upload foto makanan ke media sosial.

Ngomong soal dunia maya, coba deh ketik Soto Lamongan di mbah Google. Kita akan digerojok informasi yang beraneka warna. Salah satu temuan mengungkapkan kalau Soto Lamongan itu sebenarnya makanan yang menyatukan aneka tradisi.

Soun-nya berasal dari Tiongkok, kunyitnya dari India, gubisnya dari Indonesia. Boleh jadi santannya berasal dari kelapa Hawaii, jeruknya dari Thailand, atau perkiraan-perkiraan imajinatif lainnya. Jadi, Soto Lamongan itu makanan yang bernuansa multikultural. Kuliner yang berwujud Bhinneka Tunggal Ika.

Tapi, jangan dikira kehebatan Soto Lamongan yang sangat populer itu diawali dengan proses yang mudah. Seorang penjual soto langganan saya – kebetulan orang asli Lamongan – pernah bercerita, “Bapak saya dulu memberikan modal tidak seberapa dan sebuah rombong (gerobak) untuk saya jalankan sebagai usaha.”

“Di mana sampeyan dulu berjualannya, Pak?” tanya saya.

“Saya dulu belum di kota ini. Bapak menaruh saya di kota ‘anu’. Wah, Mas, di awal usaha itu benar-benar batin ini menangis.”

“Kok bisa?”

“Bagaimana nggak nangis, Mas. Saya dorong rombong sudah begitu jauh, bahkan sampai sore, tapi tak satu pun orang yang beli. Bener-bener Mas, ingin rasanya air mata ini tumpah. Waktu itu saya masih dagang gado-gado.”

“Sekarang kok bisa sampeyan jualan soto di kota ini?”

“Wah itu sejarahnya panjang. Saya dulu sempat pusing jualan nggak laku-laku, malu sama bapak-ibu di Lamongan. Akhirnya saya jadi kuli bangunan di kota ini. Pagi saya nguli, sorenya coba-coba jualan soto. Eh ternyata peminatnya banyak. Akhirnya, saya milih jualan Soto Lamongan saja sampai sekarang.”

Apakah yang jualan Soto Lamongan pasti orang asli kota itu? Ternyata tidak, karena banyak pula yang berasal dari daerah lain, yang sudah terbiasa berjualan makanan berkuah di atas mangkuk. Mereka beralasan, Lamongan adalah salah satu daerah dengan pengaruh yang besar di dunia kuliner. Ada semacam kepercayaan di mata masyarakat.

Dan memang, untuk urusan siapa menjual apa, hingga detik ini tidak pernah ada klaim kedaerahan. Dari situ, muncul satu kesimpulan menarik bahwa rasa cinta para pegiat kuliner kepada Nusantara begitu nyata di depan mata.

Orang Lamongan tidak akan marah, kalau banyak orang Jakarta yang menjual Soto Lamongan. Orang Jakarta pun tidak akan emosi, ketika orang Surabaya menjual kerak telor. Orang Surabaya pun pasti bangga, ketika ada orang Padang yang bisa mengulek rujak cingur dengan begitu lekohnya.

Siapapun orangnya, apapun agama dan rasnya, semua sama di hadapan mas-mas, bapak-bapak, atau emak-emak penjual Soto Lamongan. Semua bisa hidup rukun, damai, dan tenteram.

Coba sesekali saksikan ketika mereka menaruh banyak irisan daging ayam di mangkuk, ah begitu terasa nikmatnya hidup ini. Begitu tenteramnya batin ini. Daging ayam yang berserakan, segarnya perasan jeruk nipis, dan kuahnya yang begitu maknyuss. Hmmm… Mari kita seruput, maka semua akan baik-baik saja…