Negara Tanpa Konflik dalam Perspektif Nakal Pidi Baiq

Negara Tanpa Konflik dalam Perspektif Nakal Pidi Baiq

ayahpidibaiq.blogspot.com

Ada banyak tokoh di Bandung, tapi jika hendak ditunjuk siapa yang paling pantas dianggap wajah Kota Bandung, dia adalah Ridwan Kamil Pidi Baiq. Sebagai seorang seniman, tingkahnya nyeleneh dan humoris khas orang Bandung.

Ia mengaku pernah menolak mengambil ijazah setelah lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Katanya, itu kenang-kenangan untuk kampus.

Ia bahkan pernah ‘mengkudeta’ pemerintahan Ridwan Kamil dengan mendadak menjadi wali kota Bandung, meski dalam satu hari. Tak seperti kudeta-kudeta lainnya yang berlangsung alot dan dramatis, Ridwan Kamil secara sukarela menyerahkan jabatan kepada Pidi Baiq selama satu hari.

Saya mengetahui informasi itu lebih dalam setelah bertemu dengan beliau langsung di sebuah acara kampus di Jatinangor, Jawa Barat. Di Jatinangor, Ayah – sapaan akrab Pidi Baiq – menyanyikan lagu yang sudah jelas dihafal seantero Jatinangor: ‘Sudah Jangan ke Jatinangor’.

Dan tentu saja, personel The Panasdalam selalu setia mengikuti improvisasi ayah kapan saja. Sebab, sang ayah adalah imam besar. Ya betul, imam besar The Panasdalam.

Gadis-gadis pun berkerubun mendatanginya, karena merasa rindu dengan cinta pertama mereka setelah membaca Dilan. Novel yang menjadi panduan laki-laki Bandung mengenai taktik dan cara menguasai perempuan.

Meski terlihat sangat eksentrik, Pidi Baiq sebenarnya orang yang cerdas. Suksesnya novel Dilan adalah contoh yang sederhana. Branding-nya sebagai seorang yang nyeleneh adalah hal lain. Seorang dosen komunikasi bahkan pernah mengatakan bahwa dahulu Pidi Baiq sempat menjadi rektor, meski tak lama.

Namun, semua itu tak ada apa-apanya, jika dibandingkan ini: Ia pernah menciptakan negara dalam negara pada tahun 1995. Negara itu berlokasi di Bandung, tepatnya di lantai dua FSRD ITB.

Manuvernya menciptakan negara sama dengan caranya saat ‘mengkudeta’ pemerintahan Ridwan Kamil meski hanya sehari, yaitu melalui kekonyolan.

Dalam esai-esainya Linda Christanty, saya mengetahui bahwa pada 90-an, Aceh masih panas dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Situasi menjadi mencekam, karena orang-orang saling berperang. Suara teriakan seolah menjadi suatu hal yang lumrah. Selain itu, ada juga perlawanan di Timor Timur.

Semuanya melawan dengan berkorban nyawa, darah, dan air mata. Di sisi lain, Pidi Baiq mempertontonkan kekuatan humor sebenarnya.

Pidi Baiq selaku proklamator dan pendiri Negara Kesatuan Republik The Panasdalam menciptakan negara dengan sumber daya yang sangat lemah, namun tak bisa diusik. Dalam acara kampus yang saya ikuti, ia dengan bangganya mengaku bahwa produk mereka saat itu diimpor dari luar negeri. Bahkan apa-apa harus dilakukan di luar negeri.

Mau pacaran? Di luar negeri. Rumah pun di luar negeri. Bahkan masyarakatnya harus ke luar negeri hanya untuk urusan buang air kecil. Tentu saja, luar negeri yang ia maksud ketika itu adalah Indonesia.

Dengan luas hanya 8×10 meter dan tak memiliki tanah, negara tersebut bisa terbentuk dengan damai dan tenteram. Semboyannya? Argumentum in Absurdum atau argumentasi yang absurd.

Pidi Baiq
Pidi Baiq

Di negerinya itu, Pidi Baiq menjadi satu-satunya presiden di dunia yang hafal nama seluruh rakyatnya. Rakyatnya berjumlah 17 orang. Semuanya dari FSRD ITB. Tak pernah ada protes dari militer atau polisi yang hendak membungkam kenakalan semacam itu.

Satu-satunya kesalahan Pidi Baiq adalah tak pernah mempertimbangkan bahwa sebuah negara perlu diakui oleh beberapa negara lain, sehingga bisa diakui dunia. Ia abai, meskipun saya rasa ia bisa.

Dengan pengalamannya menciptakan sebuah negara tanpa konflik ataupun ‘mengkudeta’ Pemerintah Kota Bandung secara bahagia, seharusnya tak sulit bagi Negara Kesatuan Republik The Panasdalam untuk mendapat pengakuan.

Namun, negara tersebut akhirnya memutuskan untuk kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1998 dan mendeklarasikan diri sebagai Daerah Istimewa The Panasdalam, sebelum bubar dan menjadi The Panasdalam Bank pada 2002.

Dari situ, kita bisa ambil kesimpulan bahwa kehidupan yang aman, damai, adil, dan sejahtera adalah hak warga yang harus dijamin penuh oleh negara. Jika tidak, bisa repot. Masyarakat bisa tergerak, meski dengan kekuatan humor.

Sikap Pidi Baiq yang nyeleneh adalah hal yang membuatnya bisa melakukan apapun. Tindakannya menjadi bebas tanpa tafsir dan bisa diterima oleh sejumlah kalangan.

Singkatnya, kita tahu sebenarnya bagaimana menciptakan sebuah negara yang absurd dengan maksud yang benar. Negara yang dibangun tanpa peperangan, namun penuh kebahagiaan.

Kalau anda terobsesi menjadi pemimpin, setidaknya ada empat syarat yang harus anda penuhi berdasarkan narasi saya tadi.

Pertama, orangnya harus dapat dimuliakan sekaligus ditertawakan seperti Pidi Baiq. Seorang yang tak gila hormat dan dapat dikatakan bodoh sekaligus jenius.

Kedua, dalam proses penciptaan tersebut, harus menggunakan humor. Dengan begitu, anda aman dari jerat hukum dan tuduhan yang aneh-aneh. Lagipula ini komedi, dan mereka pun akan tertawa terpingkal-pingkal.

Ketiga, jangan memiliki rakyat yang terlalu banyak. Karena selain banyak kepala bakal banyak masalah, anda akan kesulitan menghafal nama setiap orang.

Keempat, ciptakanlah negara di tempat yang tak menyentuh tanah.

Absurd? Ya memang…