Ndasmu, Ndasku, Ndas Kita Semua
CEPIKA-CEPIKI

Ndasmu, Ndasku, Ndas Kita Semua

DPMB - NDASMU

Kabar duka datang menyergap kita beberapa hari yang lalu, salah satu guru bangsa berpulang ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa: Fidel Castro. Guru bangsa Kuba, tentu saja. Memangnya orang Indonesia doang yang boleh punya guru bangsa? Itu juga kalian ndas-ndas-in kok.

Bersama dengan wafatnya, menyebar meme kutipan dari Fidel Castro: “Aku tidak akan mati sebelum Amerika hancur.” Biasanya di bawahnya ditambahi foto Donald Trump, presiden baru Amerika, yang lagi nyengir. Gagah ya? Fidel Castronya maksudnya, bukan Donald Trump. Sayangnya itu cuma hoax. Sama-sama jenggotan sih, tapi masak gak bisa bedain Fidel Castro sama Ki Joko Bodo?

Ini presiden Kuba, Bung, bukan paranormal. Banyak kata-kata Fidel yang gahar seperti orangnya yang bisa dikutip dan dipajang di media sosial. Saya ingat satu: “Aku sudah berdiri di depan pintu kematian, tapi inyong balik maning.” Tapi aku balik lagi, katanya. 30 Agustus 2010, selepas pulih dari sakit yang lama.

Gagah. Bahkan di hadapan kematian dia masih galak. Mungkin cuma karena dia selamat aja, kalau gak ya… gak tau lagi ceritanya. Tapi bisa dimengerti juga, konon Fidel Castro memulai revolusi dengan memimpin hanya 82 orang saja. Seandainya dia memulai revolusi dengan mengunggah video editan lawan politiknya yang keseleo lidah, mungkin kutipannya akan berbunyi:

“Aku berdiri di depan pintu kematian, ditahan, dan tidak bisa pulang. Mohon dukungan kawan-kawan semua ya….”

Ngomong-ngomong soal guru, ketika Fidel Castro wafat kebetulan kita sedang memperingati Hari Guru Nasional. Salutlah sama guru-guru kita. Jasanya memang tiada tara. Tapi ya, entah kenapa kita lebih sering mengingat guru-guru kita yang killer, yang galak. Begitupun, jarang yang dendam. Malah pas ada murid yang dipukul gurunya lalu lapor dan dibela orang tuanya, ada yang bikin meme:

“Gua dulu kalau dipukul guru, lapor orang tua… ditambahin!”

Bangga banget digebugin.

Jadi saya bisa maklum kalau sekarang ada yang nulis biografi di akun media sosialnya, di kolom pendidikannya, “Pernah bersekolah di: perguruan tinggi alam semesta.” Lha gak ada gurunya, apalagi yang killer, jam sekolahnya bebas, gak ada PR-nya, gak ada ulangannya, gak ada ujian nasionalnya, dan tawurannya… tiap hari. Di media sosial.

Bonusnya: bisa ng-ndas-ndas-in atau gak bikin video nangis ngejek gurunya. Pak Kiai dan Pak Ustadz kan guru juga.

Tapi ada juga yang bikin sedih. Selain seorang dosen yang ditetapkan sebagai tersangka karena terjerat UU ITE, seorang ulama kharismatik dimaki-maki di media sosial pakai ndasmu. Kayaknya yang kedua ini lagi ngetren, marah-marah sama ulama. Ada juga yang mengunggah foto nikahan kiai yang lain. Ayolah, jones alias jomblo ngenes aja gak segitunya, Mas…

Yang agak miris, tepat sehari setelah Hari Guru ada guru SMK di Pluit yang ditangkap polisi karena ngajak ikut rush money. Lewat media sosial juga. Mana duit yang dipamerin duit SPP murid-muridnya pula. Mungkin pas Pak Guru itu narik duit di ATM, mesinnya njawab: “Maaf, saldo anda tidak mencukupi untuk ikut rush money.”

Itu ATM pasti komunis. Bikinan Fidel Castro pasti itu….

Yang lebih parah, sehari sebelum Hari Guru, anak-anak SD di Semarang terlibat tawuran. Bawa gir sama parang. Anak-anak SD, cui, yang kencing aja belum lurus. Mestinya anak-anak itu dibuatkan akun media sosial supaya emosinya bisa tersalurkan. Kayak kita-kita juga, yang kalau stres karena kerjaan atau gak diajak ngomong sama suami, terus misuh-misuh di media sosial.

Jadi nanti kalau anak-anak itu tantang-tantangan bisa seru.

“Sini, lu! Maju, lu!”

“Lu yang maju!”

“Anak mana, lu?!”

“Gua anak Srondol Wetan. Lu anak mana?!”

“Wah, jauh ya? Gua Muktiharjo Lor.”

“Iya, jauh. Sangu dari bapak gak cukup nih buat ongkos….”

“….”

Jangan lupa, ketika menulis biografi di akun media sosial kalau sekolah kita adalah alam semesta, ada orang yang juga berpikir bahwa alam semesta adalah gurunya. Itu artinya, kita ini murid sekaligus guru semua orang. Ketika jadi guru, semua tingkah laku kita ditiru sama murid-murid kita.

Anak-anak SD di Semarang itu mungkin salah satunya. Siapa yang ditiru kalau bukan bapaknya yang “onta, lu; domba, lu; babi, lu” di media sosial? Siapa yang dicontoh kalau bukan ibunya yang “kafir, lu; 2D, lu; cebong, lu” di media sosial?

Ndasmu itu ndas saya juga. Ndas kita semua.

Udah, gak usah ngeles “kan itu bukan anak saya”, nanti kalau ditantang tes DNA terus terbukti benar anak kalian, kalian malu. Mana udah telanjur konferensi pers, nuduh pasangannya selingkuh, eh, tes DNA-nya gitu. Hidup gak semudah cocote Mario Teguh, Mas dan Mba Bro…

Aduh, jadi ikut misuh saya…

  • umar basahil

    Kaga lucu lu ah . jamet !!!