Maaf, Tak Ada Nasionalisme saat Diskon Besar-besaran

Maaf, Tak Ada Nasionalisme saat Diskon Besar-besaran

Ilustrasi (indianonlineseller.com)

Warga Indonesia sempat (masih) marah ketika bendera merah putih terbalik dalam cetakan buku panduan SEA Games 2017 di Malaysia. Kemarahan terasa paling panas di media sosial. Memangnya di mana lagi?

Orang-orang Indonesia yang marah merasa terhina, meski Malaysia melalui menterinya sudah minta maaf. Ketika itu, kemarahan belum juga reda. Warga Malaysia membalas dengan mengunggah video kerusuhan suporter saat final sepak bola antara Indonesia dan Malaysia di GBK pada SEA Games 2011.

Dengar-dengar, kemarahan itu dibalut semangat nasionalisme yang sedang tebal-tebalnya. Hey… Agustus adalah bulan kemerdekaan kita. Bangsa ini telah berjuang mati-matian. Pahlawan tumbang untuk kemerdekaan. Jelas itu tak bisa dihina dengan membolak-balik lambang negara.

Yang berikut ini juga terjadi pada bulan kemerdekaan. Ratusan orang yang katanya berasal dari kelas paling cerdas, jago adu pendapat di media sosial, dan sebagian di antaranya tentu memasang tagar #shameonyoumalaysia, tampak beringas di mal Grand Indonesia. Rolling door mereka jebol, booth bazaar Nike mereka rusak.

Saling desak, saling sikut, bersaing memburu sepatu merek Amerika yang sedang diobral dengan potongan harga besar. Nike, salah satu merek yang membuat kepala perajin sepatu lokal di Cibaduyut berdenyut-denyut memikirkan strategi persaingan di pasar domestik.

Kali ini, hampir tak ada komentar-komentar kemarahan bernafas nasionalisme. Sindiran yang menyindir nafsu bergaya memakai sepatu bermerek Amerika, terselip di sana sini. Hanya terselip, tidak kentara.

Bisa jadi, sindiran itu keluar dari orang-orang yang iri, sebab berada jauh dari Grand Indonesia. Atau, sedang bokek-bokeknya setelah jatuh tempo angsuran kredit.

Lalu, kemana perginya rasa terhina sebagai bangsa di tengah nasionalisme yang sedang tebal-tebalnya pada bulan kemerdekaan itu tadi? Entahlah.

Tak ada rasa terhina, meski saudara-saudara sebangsa kita pernah dihargai dengan sangat murah untuk membuat sepatu merek Amerika ini. Tidak ada rasa hina dianggap murahan? Mungkin saja.

Saking murahnya, gaji sebulan saudara sebangsa kita yang bekerja di ruang produksi sepatu Nike tak akan cukup untuk membeli sepasang sepatu seri Mercurial Vapor VII FG atau WMNS Air Maz 95, apalagi Vapor Superfly III FG 5.

Tiga seri sepatu Nike itu sedang didiskon sampai 90% di Grand Indonesia. Diskon berlangsung sampai 27 Agustus 2017. Sudah sana, sebelum kehabisan! Pakai kartu kredit bisa dapat tambahan diskon lagi 5%, cicilan 0%. Oh sudah lewat ya? Yahh…

Sejak dekade 80-an, Indonesia memang menjadi lahan subur bagi tumbuhnya industri manufaktur yang terintegrasi secara global. Kendati sejak 1960-an gelombang protes menentang globalisasi sudah dimulai, jargon-jargon yang diusung globalisasi masih saja terdengar manis di Indonesia.

Globalisasi berkoar akan menyatukan seluruh umat manusia tanpa batasan ras dan perbedaan lain. Bersama-sama memerangi kemiskinan. Manis bukan? Oh so sweet…

Tahun 80-an kawasan-kawasan industri dibuka, dengan iming-iming letak geografis Indonesia yang strategis untuk menjangkau pasar Asia. Itu menyusul tawaran menggiurkan upah murah lewat penerapan kebijakan upah minimum yang berlaku sejak 1980.

Perusahaan sepatu dan pakaian Nike tak ketinggalan menghirup angin segar peluang investasi itu, dan masuk ke Indonesia pada 1988. Nike menggunakan 11 perusahaan kontraktor asal Korea Selatan dan Taiwan yang lebih dulu masuk ke Indonesia pada 1985.

Perusahaan kontraktor itu masuk ke Indonesia dengan latar belakang ongkos produksi yang mahal dan ketersediaan buruh yang menipis di negara asalnya. (sumber: majalahsedane.org dan makalah “Pelanggaran Hak Buruh Pabrik Nike di Indonesia” oleh Bambang Surya Ningrat – Program Pascasarjana Universitas Muhamadiyah Palembang)

Perempuan-perempuan muda Indonesia direkrut menjadi tenaga produksi mereka. Perusahaan kontraktor pemegang lisensi tak hanya memproduksi Nike. Tapi juga sepatu merek asing lainnya.

Wartawan kawakan John Pilger, dalam laporan jurnalistik berbentuk film dokumenter “The New Rules of The World” tahun 2002, pernah menguak praktik perburuhan murah berdalih globalisasi di Indonesia.

Pilger menggunakan kamera tersembunyi dan menyamar sebagai pembeli. Ia masuk ke salah satu ruang produksi.

Lebih dari 1.000 perempuan muda bekerja dalam suhu ruangan mencapai 40 derajat celsius. Satu-satunya ruangan ber-AC di pabrik tersebut berada di atas ruangan produksi, yakni ruang manajemen perusahaan kontraktor dan ruang personel Nike, Reebok, dan kawan-kawan.

Mereka mengontrol kualitas pekerjaan para buruh yang merupakan saudara sebangsa kita, dengan standar ketat. Sementara ribuan perempuan muda itu bekerja puluhan jam tanpa pilihan. Ada yang terus berdiri, ada yang terus duduk.

Salah satu yang diwawancarai Pilger menyebutkan, jika mendapat shift panjang, ia akan bekerja dalam 24 jam dengan hanya dua kali istirahat, ditambah 12 jam berikutnya. Total 36 jam. Berapa bayarannya?

Tahun 2012, sebuah LSM berbasis di Amerika Serikat, Educating for Justice melakukan penyelidikan bersama Serikat Pekerja Nasional. Penyelidikan berkaitan dengan upah lembur 4.437 buruh PT Nikomas Indonesia, sub-kontraktor Nike Indonesia.

Hasil penyelidikan mengungkapkan, perusahaan tersebut telah mencurangi buruhnya selama 18 tahun. Sebanyak 4.437 buruh bekerja selama 600.000 jam tanpa dibayar.

Hasil penyelidikan saat itu membuat Nike berjanji memperbaiki kondisi buruh pabrik mereka di Indonesia. Tapi sepertinya kondisi tak banyak berubah.

Tahun 2014, lembaga anti-kemiskinan global SumOfUs mengirimkan petisi kepada Nike karena dianggap mengeksploitasi para buruh. Mereka menguak fakta upah buruh yang kelewat rendah dibanding dengan keuntungan Nike.

Nike tercatat mencapai keuntungan Rp 297,4 triliun pada tahun tersebut. Bos Nike, Philip H Knight, memperoleh gaji US$ 864.583 dan US$ 787.500.

Pebasket LeBron James dikontrak tujuh tahun untuk mempromosikan produk Nike dengan nilai US$ 90 juta. Pegolf Tiger Wood menandatangani kontrak lima tahun mempromosikan Nike dengan nilai US$ 100 juta.

Sementara buruh Nike Indonesia dibayar Rp 5.600 per jam kala itu. Hitunglah sendiri berapa yang didapat sebulan, lalu kurangi dengan kebutuhan hidup harian, seperti makan, minum, air bersih, pakaian, dan body cologne murahan. Adakah sisa?

Jika ada sisa, itu tak akan cukup untuk membeli sepatu Nike, bahkan untuk talinya saja.

Tapi semoga saja sekarang sudah berubah total. Kalau tidak, saya hanya bisa membayangkan rasanya seperti; setiap hari membuat sambel terasi bakar beraroma dahsyat, tapi ndulit sedikit saja dilarang.

Praktik lain yang tak kalah miris adalah perekrutan buruh rumahan. Praktik ini dijalankan dalih pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan yang tidak bekerja. Karena menurut mereka, ibu rumah tangga yang meski lebih dari 16 jam mengelola rumah adalah pengangguran dan beban negara.

Memberdayakan mereka adalah salah satu cara memerangi kemiskinan. Cara kerja buruh rumahan adalah direkrut sebagai mitra. Tidak diakui sebagai karyawan, meski mereka menjalani pekerjaan dalam mata rantai produksi.

Mungkin Nike tak memakai pola ini. Tapi perusahaan sepatu asing lain melakukannya.

Praktik perburuhan semacam itu telah memicu protes di beberapa negara. Puluhan ribu saudara kita sebangsa direndahkan begitu murahnya. Yang berkuasa di negeri ini tak kuasa melindungi. Celakanya, kita tak berbuat apa-apa.

Alih-alih merasa simpati, tak ada rasa marah sedikitpun melihat saudara sebangsa dibayar murah. Yang ada justru perayaan sepatu merek asing diskonan. “Memangnya lulusan SMP atau SMA punya skill apa? Kok minta bayaran mahal!”

Itukah yang ada di benak kita?

  • Kevin Kurnia

    Gak cuma nasionalisme mbak e, kadang di hadapan diskon agama semua org sama hehe…