Nasionalisme dalam Seporsi Makanan

Nasionalisme dalam Seporsi Makanan

klikhotel.com

Sejak dulu, jujur saja, saya kurang tertarik dengan gagasan nasionalisme. Bukan tentang idenya. Melainkan cara penyampaiannya.

Selama ini, banyak guru sejarah maupun PPKn mengajarkan nasionalisme dengan cara yang terlalu bombastis. Mulai dari perang sampai kebanggaan buta. Bukannya bikin cerdas, nasionalisme semu macam itu malah bisa melahirkan chauvinisme, kesempitan pikiran.

Tak heran, ketika kenal Soe Hok Gie, saya jadi jatuh cinta dengan mendaki gunung. Gie mengajarkan nasionalisme dengan cara yang sangat menyenangkan. Mengenal negara tak hanya dari keindahannya, melainkan juga soal kebobrokannya. Dari indahnya alam, hingga miskinnya warga Indonesia.

Belakangan, saya belajar bahwa nasionalisme sangat bisa diajarkan melalui makanan. Apalagi makanan Nusantara mengajarkan banyak hal. Dari sejarah sampai kemanusiaan. Ndak percaya?

Coba tengok soto.

Bisa jadi, soto adalah makanan Indonesia yang paling banyak variasinya. Mulai dari Padang sampai Bandung. Dari Kalimantan sampai Lamongan. Dari Makassar sampai Madura. Nyaris semua daerah di Indonesia punya varian soto masing-masing.

Karena perbedaan daerah itu, soto yang disajikan pun punya kekayaan yang berbeda satu sama lain. Mulai dari variasi kuah, cara penyajian, sampai tambahan lauknya.

Soto Banjar bisa dibilang yang paling dekat dengan saya secara personal. Ibu saya orang Banjar. Sejak kecil sudah ahli masak Soto Banjar. Setiap lebaran, hidangannya ya soto Banjar. Makan soto itu sampai bosan dan stok di panci tandas.

Soto Banjar yang dimasak ibu saya menggunakan ayam kampung rebus. Kaldunya itu yang digunakan untuk kuah soto. Pelengkapnya adalah perkedel. Bisa dimakan pakai lontong atau nasi. Kalau mau tambah yahud, kucuri jeruk nipis dan sambal yang banyak.

Setelah makin dewasa, saya mengenal semakin banyak khazanah soto. Di Madura, soto memakai jerohan, dengan kuah yang keruh. Betawi, kuahnya bisa menggunakan susu ataupun santan. Di Lamongan, soto diberi koya. Di Padang, soto diberi bihun dan kerupuk merah, disajikan dalam mangkok kecil.

Kudus punya soto berkuah sedikit manis dengan pilihan aneka lauk. Tinggal pilih saja. Mulai dari tahu bacem hingga sate telur puyuh. Makassar sedikit berbeda. Memakai nama coto, dengan kuah kental nan keruh. Biasa disajikan dengan buras, alias lontong ala Sulawesi Selatan. Sedangkan di Yogyakarta, soto disajikan dengan kuah bening dengan rasa yang cenderung ringan.

Beraneka macam kan?

Tapi mana yang terbaik? Jawabannya: ya tidak ada. Karena tiap daerah punya keunggulan masing-masing. Para penggemar soto pun punya jagoan masing-masing.

Tapi setahu saya, hingga kini belum ada orang yang berani menobatkan satu soto terbaik. Apalagi ini berkaitan dengan selera. Kalaupun ada, ya paling cuma dianggap angin lalu. Ndak ada pernah ada kasus bentrokan gara-gara ngotot soto mana yang paling enak.

Seharusnya, ini sekadar saran saja, nasionalisme juga diperlakukan demikian. Dicintai, tapi tak perlu berdebat siapa yang lebih hebat dan lebih baik. Luwes dan lentur saja. Seperti kalian memakan soto. Hari ini makan soto Betawi, besok makan soto Madura, lusa makan soto Padang. Besoknya lagi kolesterolmu naik.

Selain soal keberagaman, makanan Indonesia juga mengajarkan saya tentang keberanian dan keseloan. Soal apa? Terutama soal keseloan menghadapi berbagai ‘pengaruh asing’.

Iya, tak perlu takut dengan apa yang disebut ‘asing’ dan ‘aseng’. Makanan sudah mengajarkan bahwa kita, orang Nusantara, sudah akrab dengan pengaruh ‘asing’ dan ‘aseng’ sejak ratusan tahun lalu.

Makanan Aceh, banyak dipengaruhi rasa Timur Tengah. Solo punya banyak pengaruh dari Eropa. Bistik Solo dan Selat Solo itu beberapa di antaranya. Sop buntut? Ya bawaan Belanda. Itu baru beberapa pengaruh dari ‘asing’.

Kalau ‘aseng’? Wah lebih banyak lagi. Kalau ada orang yang bilang anti ‘aseng’, ya berarti dia gak boleh makan mie, tahu, bakso, nasi goreng, atau pempek. Lha piye, makanan-makanan itu berakar dari China, jeh. Beranak pinak dan berkembang jadi aneka macam makanan di Indonesia. Ada batagor, bakmi Jawa, sampai nasi goreng ala Pantura.

Yakin masih mau teriak-teriak anti ‘asing’ dan ‘aseng’? Kalau saya sih enggak. Karena itu pula, saya sih selo saja soal pengaruh ‘asing’ dan ‘aseng’ ini. Gak usah ada paranoia berlebihan. Kalau cocok, ambil. Gak cocok, ya tinggalkan.

Begitulah, menurut saya, bagaimana sebaiknya nasionalisme diperlakukan. Ia bukan sesuatu yang menakutkan. Bukan pula sesuatu yang membuat pikiran cupet. Atau membuat kita, mengutip band Koil, “…menjadi tak berpenghasilan.” Karena, menurut Koil, nasionalisme sempit bisa “…membawa bangsa kami menuju kehancuran.”

Dan makanan, adalah salah satu medium paling efektif mengajarkan keberagaman. Mengajarkan, sekaligus mungkin menyadarkan, bahwa Indonesia ada karena keberagaman.

  • Mending mencontoh “Soto” dari pada mencontoh “Wakil Rakyat” deh… #AmbilHikmahnyaAja