Nasionalisme Ala Seporsi Bulgogi

Nasionalisme Ala Seporsi Bulgogi

gybbq.com

Tulisan ini terinspirasi dari artikelnya Nuran Wibisono di voxpop berjudul ‘Nasionalisme dalam Seporsi Makanan’. Melalui makanan, contohnya soto, kita bisa belajar soal nasionalisme yang lebih luas dan masuk akal.

Fenomena itu saya alami sendiri, saat berkunjung ke Seoul, Korea Selatan, akhir Agustus 2015. Tapi, saya tidak makan soto di sana, melainkan bulgogi, tepatnya gwangyang bulgogi. Bulgogi dan soto punya kesamaan, yaitu makanan khas masing-masing negara.

Bulgogi dan soto juga termasuk makanan tanpa kelas, mirip konsep masyarakat tanpa kelasnya Karl Marx yang tersohor itu. Faktanya, bulgogi dan soto tersedia mulai dari resto mewah sampai kaki lima. Makanan itu dinikmati semua kalangan dan sangat populer.

Sama dengan soto, bulgogi juga banyak variasi. Tapi pada dasarnya bulgogi adalah sejenis makanan ‘daging api’, kalau merujuk dari cara memasaknya, yaitu di atas api. Makanan yang sudah ada sejak Zaman Goguryeo (37 SM-668 M) itu berbahan dasar daging sapi yang diasinkan.

Kebetulan saya makan yang sapi, meski ada juga yang berbahan dasar daging ayam (dak bulgogi) dan babi (dwaeji bulgogi). Daging tersebut kemudian diiris tipis-tipis dan diberi campuran saus kacang kedelai, minyak wijen, bawang putih, dan bumbu-bumbu lain, seperti daun bawang, jamur kancing putih dan shiitake. Terkadang ditambahkan juga mie.

Bulgogi beserta cara memasak dan penyajiannya juga mengajarkan nasionalisme, sama seperti soto. Tapi, tentunya dengan caranya masing-masing. Jika soto merefleksikan ideologisasi dan pemahaman lebih luas, bulgogi lebih mengisyaratkan sebuah tindakan nyata.

Rupanya budaya ‘pali-pali’ di Korsel sudah merasuk hingga ke bulgogi. Apa itu budaya ‘pali-pali’? Di Negeri Ginseng tersebut, ‘pali-pali’ bisa diartikan cepat! atau lebih cepat!

Bagaimana tidak? Daging mentah bulgogi dimatangkan secara supercepat dengan arang. Hanya butuh waktu 3 menit, warna daging yang merah sudah berubah kecoklat-coklatan. Para pelayan juga menyajikan secara cepat, sehingga seluruh makanan sudah siap dalam waktu 5 menit!

Budaya ‘pali-pali’ adalah salah satu kunci sukses sebuah resto dalam menyajikan bulgogi. Itu hanya contoh kecil dan sederhana. Yang paling fenomenal, ‘pali-pali’ berhasil membangun Korsel menjadi salah satu negara maju di dunia.

Hari kemerdekaan Korsel dan Indonesia hanya berselang dua hari. Korsel merdeka pada 15 Agustus 1945, kalau Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sama-sama 70 tahun. Tapi, saat ini, kemajuan Korsel sedemikian pesatnya dibandingkan Indonesia.

Padahal, pada 1950, Korsel menjadi salah satu negara termiskin di dunia, dengan GNP per kapita hanya US$ 81. Negara yang juga dijajah Jepang itu sempat menjadi negara penerima bantuan dari negara-negara donor.

Tapi, saat ini, Korsel menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia. Semua itu berkat ‘pali-pali’, budaya kerja cepat – super cepat dalam membangun negeri. Bahkan sampai ke makanan segala seperti bulgogi. Sebuah tindakan progresif dari negara yang sebagian besar penduduknya atheis.

Korsel membangun nasionalisme tidak hanya sebatas teori dan ideologi, melainkan dengan sebuah kemajuan. Sebab, dengan menjadi negara maju, rakyat akan bangga terhadap negaranya. Dengan begitu, rasa cinta terhadap tanah air akan tumbuh sepanjang masa.

Di bidang teknologi, Samsung dan LG mampu membawa Korsel ke pentas dunia. Di bidang olahraga, tim sepak bola Korsel pernah menjadi juara empat dalam ajang World Cup 2002. Di dunia hiburan, siapa tak kenal K-Pop dan K-Drama? Atau, PSY yang mampu mengguncang dunia lewat goyang Gangnam Style-nya.

Nasionalisme dibangun melalui prestasi dan kemajuan bangsa, bukan sekadar pemahaman, apalagi jargon belaka. Jokowi-JK sepertinya harus merevisi jargon ‘Kerja, kerja, kerja’ menjadi ‘Kerja Cepat, Lebih Cepat!’