Nasihat Burung, Termasuk soal Kabar Burung

Nasihat Burung, Termasuk soal Kabar Burung

weknownyourdreamz.com

Demi menghindari kegaduhan suasana pilkada, Burhan memutuskan pergi ke dalam hutan untuk beberapa hari. Selama berada di dalam hutan, Burhan tinggal di sebuah pondok kecil, seorang diri.

Tinggal di dalam hutan adalah hal yang menyenangkan baginya. Jauh dari keramaian, jauh dari ujaran kebencian, jauh dari hiruk-pikuk para pembela ‘kebenaran’, dan tentunya jauh dari kegalauan hati akibat putus cinta.

Berteman angin, berteman suara alam, Burhan menikmati betul suasana hutan. Hingga suatu waktu, ketenangan yang menyenangkan itu terganggu oleh kehadiran seekor burung kecil. Burung itu selalu meracau di waktu istirahat, merusak perbekalan milik Burhan, hingga dengan sengaja mengotori pondok tempatnya tinggal.

Burhan tak tinggal diam, ia pun berniat membuat jebakan untuk si burung, menjebloskannya ke dalam sangkar, setidaknya untuk sementara waktu hingga Burhan keluar dari hutan.

Jebakan dengan berbagai macam jenis umpan pun dibuat, namun burung itu selalu berhasil lolos. Hingga akhirnya, Burhan menaruh selembar uang Rp 50 ribu di dalam jebakan sebagai umpan, dan di luar dugaan, burung itu berhasil tertangkap.

“Dasar burung mata duitan!” ujar Burhan, sambil membawa sang burung menuju sangkar.

“Ya iyalah, Bro. Hari gini, siapa yang gak demen duit?” balas si burung.

“Aku kira cuma manusia yang doyan duit, ternyata binatang juga.”

“Manusia kan juga punya sifat binatang. Sudahlah, mending lepasin. Gak guna juga menjadikan aku sebagai tawanan. Aku janji kasih tiga nasihat deh nanti.”

“Enak amat. Udah ganggu hidup orang, pake umbar janji segala.”

“Yah, namanya juga usaha. Kalau burung ya bisanya berkicau. Tapi ini nasihat, bukan curhat!”

Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama, ketika berada dalam genggaman Burhan. Yang kedua, ia akan memberikannya kalau sudah berada di cabang pohon, dan nasihat ketiga akan diberikan ketika si burung sudah mencapai di puncak bukit.

Si burung juga berjanji, ia tak akan lagi mengganggu hidup Burhan setelah dilepaskan. Lobi-lobi pun terjadi, hingga akhirnya Burhan setuju.

Burhan kemudian mengambil si burung dan menaruhnya di dalam genggaman. Ia langsung menagih janji dengan meminta nasihat pertama. Tak mau disebut binatang pengumbar janji, si burung kecil itu pun mengeluarkan nasihat pertama.

“Kalau kamu kehilangan sesuatu, meskipun kamu menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan pernah menyesal.”

Burhan kembali menepati janjinya dengan melepaskan si burung. Sesaat setelah dilepaskan, si burung langsung melompat terbang ke salah satu cabang pohon. Disampaikannya nasihat yang kedua.

“Jangan percaya kepada segala hal yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti!”

“Ah, tidak mungkin, mengesampingkan akal sudah jadi kebiasaan baru yang menyenangkan bagi manusia saat ini,” celetuk Burhan.

“Dasar manusia! Ingat, setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar.”

“Termasuk kabar burung?”

“Sssst… Diam! Dengerin suara hati. Ingat firman pertama-Nya; kita melampaui setiap kata. Kabar-kabar yang belum tentu benar itu kok dipercaya. Akal Bro, akal…”

Kemudian burung itu terbang ke puncak bukit. Dari sana ia berteriak, “Wooi… Wahai manusia! Dalam perutku ada dua bongkah permata. Kalau saja tadi kau membunuhku, kau pasti bisa kaya raya. Hahahaha…”

Burhan mulai sedikit menyesal memikirkan kehilangannya. Namun, ia pun tetap menagih janji terakhir si burung. “Berisik kau… Setidaknya mana itu janji nasihat yang ketiga. Cepat bilang!”

Mendengar tagihan Burhan, si burung pun menjawab, “Alangkah bodohnya kau masih minta nasihat ketiga, sedangkan yang pertama dan kedua saja kau tidak mengerti.”

Deg…

“Sudah ku bilang jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan percaya hal yang bertentangan dengan akal. Badanku yang kecil begini mana muat buat nyimpen dua permata besar. Coba pikir! Tampaknya engkau memang harus tetap berada di dalam keterbatasan yang disediakan untuk manusia. Hahaha…”

Burhan terdiam, ia meraba kepalanya yang tiba-tiba terasa hangat oleh sebuah cairan yang jatuh dari atas…

*Kisah disadur dari karya klasik Rumi