Narasi Hemingway dalam Timnas Indonesia di Piala AFF

Narasi Hemingway dalam Timnas Indonesia di Piala AFF

redaksisport.com

Perhelatan Piala AFF 2016, kejuaraan sepak bola internasional antarnegara se-Asia Tenggara, terselenggara untuk yang kesepuluh kalinya. Sebuah usia yang masih muda belia, bila dibandingkan turnamen internasional lainnya, semisal Piala Asia, Piala Eropa, dan Piala Dunia.

Usia yang bergerak menuju kematangan itu laiknya generasi milenial yang sedang bertumbuh dan rakus-rakusnya mengkonsumsi jagat teknologi dan informasi. Juga seperti kisah cinta dedek-dedek gemes dalam sinetron-sinetron yang laku keras di televisi.

Sebagai bagian dari negara satu kawasan yang tak pernah absen berkecimpung dalam perhelatan itu, meski tak pernah juara, Indonesia pun larut dalam euforia. Setidaknya konsistensi penyelenggaraan turnamen ini terjaga, dengan perubahan regulasi yang barangkali untuk menambah hawa panas persaingan.

Babak penyisihan grup Piala AFF Suzuki Cup 2016 sudah tuntas dengan pertandingan-pertandingan sengit dan bikin hati berdebar-debar. Beruntungnya, tim nasional (Timnas) Indonesia yang diprediksi tak mampu berbuat banyak itu turut lolos dari fase grup, setelah menundukkan Singapura.

Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi nasionalisme, sudah sepatutnya berbangga. Kalau perlu bertepuk tangan yang semeriah-meriahnya. Lebih bagus lagi, kita harus menggelar aksi super damai dan doa bersama bersyukur, meski apapun nanti hasil akhirnya.

Bukankah sang profesor sepak bola Arsene Wenger pernah bilang bahwa tak masalah seberapa sering kau jatuh, yang terpenting seberapa cepat kau bangkit. Karena itu, kebangkitan dalam bentuk apapun tetap harus dirayakan.

Lolosnya timnas memang mengejutkan. Waktu persiapan yang singkat setelah bebas dari hukuman FIFA cum regulasi bahwa masing-masing klub hanya menyerahkan dua pemainnya sempat membuat sang pelatih Alfred Riedl pusing kepalang untuk menyusun komposisi tim.

Riedl pun memboyong anak asuhnya tanpa menjanjikan target yang muluk-muluk. Ia realistis. Barangkali kebanyakan dari kita pun pesimistis.

Namun, datang ke arena pertarungan tanpa membawa harapan tinggi bisa memberikan keleluasaan kepada para pemain untuk bermain lepas tanpa beban. Tak ada yang menggadang-gadang. Tak ada yang berkoar-koar penuh ekspektasi tinggi.

Hal ini tentu saja berbeda dengan perlakuan publik, misalnya terhadap timnas dalam Piala AFF 2010. Belum bermain di final saja, timnas kala itu sudah dielu-elukan sebagai sang juara. Bahkan, pemain-pemainnya pun jadi bintang iklan sosis. Sungguh mental ngartis. Mau main bola atau jadi tukang jual sosis?

Lantas hasilnya menyedihkan. Di final, Bambang Pamungkas cs kalah dari Malaysia dengan agregat skor 2-4. Asa juara di depan mata harus pupus seketika. Euforia yang luar biasa, gila-gilaan, dahsyat, bahkan militan sekalipun dari para pendukung runtuh tak berdaya.

Timnas kali ini memang berbeda. Tak jarang dari kita menganggap keikutsertaannya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Sekadar formalitas belaka. Makanya, barangkali di ruang-ruang publik, kita tampil memberikan dukungan, tapi dalam hati kecil, jujur saja, kita tetap realistis.

Bahkan kita mungkin cenderung pesimistis. Saya, salah satunya. Kamu, salah duanya. Para penulis Voxpop cum sang editor ketje, Mas Jauhari Mahardika, salah tiganya. Buktinya, sejak turnamen hingga babak penyisihan selesai, tak ada satupun tulisan yang membicarakan Piala AFF kali ini.

Namun, di tengah euforia yang tak berlebihan itu, di tengah perhatian publik yang tidak terlalu mewah itu, Boaz Solossa cs justru menyajikan hasil yang berbeda. Tak diduga-duga. Tak disangka-sangka. Mereka bisa lolos ke babak semifinal dan bersua juara grup B, Vietnam.

Lolosnya timnas ke semifinal adalah oase di tengah padang gurun anjloknya prestasi sepak bola tanah air. Wabil khusus bila menilik kembali pada persiapan dan tetek bengek aturan kampret soal utus-mengutus pemain dari pihak klub.

Belum lagi ada klub yang berkeras tak mau melepas pemainnya dalam situasi yang sudah darurat. Miris memang nasib Indonesia. Baru saja bebas dari hukuman internasional, kendala selanjutnya justru datang dari ruang internal sendiri.

Tapi, dengan skuat tumpul tambal sulam seperti itu, anak asuh Riedl membuktikan bahwa Indonesia masih bisa bernafas di pentas internasional. Indonesia masih punya jati diri. Tak boleh diremehkan. Meski berstatuskan tim underdog.

Sampai pada titik ini, saya jadi teringat pada novelet fenomenal ‘Lelaki Tua dan Laut’ karya Ernest Hemingway. Sebanjar gambaran timnas di atas sama seperti kisah pergulatan nelayan tua Santiago bersama perahu kecilnya, yang berusaha membawa pulang tangkapan seekor ikan marlin raksasa dalam cerita penulis asal Amerika Serikat tersebut.

Timnas Indonesia adalah perahu kecil itu. Yang tak dianggap, yang dipandang sebelah mata, yang dilihat secara pesimistis untuk mengarungi lautan sulit bernama Piala AFF 2016. Sementara opa Riedl adalah pelaut tua itu sendiri.

Ia pergi ke pentas pertarungan dengan perbekalan seadanya. Dengan amunisi pemain yang begitu-begitu saja. Secara lebih jauh, Riedl memang layak digaransi sebagai sang pelaut tua. Karir kepelatihannya telah berlangsung sejak lama. Bahkan, ia adalah pelatih timnas Indonesia pada Piala AFF 2010. Timnas Vietnam sendiri juga pernah ditukangi beliau.

Lantas, kenekatan tetap lah kenekatan, tetap lah keharusan guna bertahan hidup. Santiago nekat ke laut lepas sendirian untuk menunjukkan bahwa dia bukanlah nelayan karbitan yang pantang menyerah pada banyak sedikitnya tangkapan. Dia memberanikan dirinya untuk larut dalam perburuan.

Dalam narasi Hemingway, sosok lelaki tua itu tampak berkeras mempertahankan buruannya dari serangan ikan-ikan hiu. Dia berani mengambil risiko, meskipun tantangan datang bertubi-tubi.

Sebenarnya, kisah itu akan habis perkara, bila sang nelayan rela melepaskan ikan marlin raksasa jadi makanan empuk para musuh. Namun, kegigihannya mempertahankan hasil buruan adalah kisah heroik yang menggugah jiwa, meski memang dia harus pulang ke daratan tanpa membawa hasil yang diharapkan.

Riedl pun sama. Dia adalah pelatih berpengalaman yang sudah kenal betul pasang surut pun deras tenangnya lautan sepak bola Asia Tenggara. Dan bertahan hidup ala Riedl dan timnas yang ditukanginya adalah soal marwah sepak bola Indonesia itu sendiri. Suatu harga diri yang harus ditunjukkan ke dunia internasional. Apalagi baru saja lepas dari sanksi FIFA.

Dan, dalam pentas Piala AFF kali ini, Riedl beserta anak asuhnya telah menunjukkan itu. Beliau sendiri bilang bahwa lolos ke semifinal saja sudah merupakan sesuatu yang sensasional.

Namun, abaikan dulu itu, sodara-sodari. Buang saja dulu segala prediksi dan analisis. Juga harapan tinggi yang baru bangun dari tidur atau setelah melek mata menyaksikan perjalanan tim Garuda sejauh ini.

Biarkan timnas sebagaimana mestinya. Sebagaimana mereka memulai kompetisi tanpa beban atau tanpa punya target yang muluk-muluk. Elu-elukanlah mereka sebagai tim dengan materi apa adanya yang telah lolos ke semifinal, dan bukannya sebagai favorit yang harus ini, harus itu.

Jadi, mari kita lihat, apakah lelaki tua bernama Alfred Riedl akan terus melanjutkan tren positif bersama perahu kecil timnas Indonesia, ataukah dia akan bernasib sama dengan sosok nelayan Santiago yang pulang ke daratan dengan hanya membawa seonggok bangkai ikan?