Yang Kebarat-baratan dan Ketimur-timuran dalam Nama Kita

Yang Kebarat-baratan dan Ketimur-timuran dalam Nama Kita

Ilustrasi (Photo by Ylanite Koppens from Pexels)

Jaman dahulu kala, para empu ilmu pengetahuan meyakini bahwa yang namanya Barat identik dengan agresivitas, rasional, dan kemodernan. Namun, pada satu sisi menyajikan dekadensi. Sementara bagian Timur ditandai dengan sesuatu yang arif, bijaksana, kemuliaan, tradisional dan adiluhung.

Karena itu dibikinlah garis batas yang tegas antara Barat-Timur, termasuk dalam urusan penamaan anak. Nama menjadi sesuatu yang lekat dengan kepribadian si manusia, nama orang Timur ya harus berbau dan berwatak Timur supaya pribadinya ketimuran juga. Kalau perlu dipagari sekalian supaya tidak kena virus Barat yang dekaden.

Dengan demikian, problem penamaan adalah sesuatu yang serius dan itu barangkali yang melandasi Rencana Perda Nama Anak agar nama anak segenap tumpah darah Indonesia tidak semakin kebarat-baratan.

Saya percaya nama adalah doa, segala harap dan asa ditiupkan dalam nama. Tidak jarang, ada orang tua yang rela berdebat dengan siapapun perihal nama yang ideal. Kalaupun nama yang ideal itu sudah didapat, eh, nggak taunya si jabang bayi malah sakit-sakitan dan dianggap keberatan nama hingga perlu untuk mengganti nama.

Seiring waktu berjalan, nama Paiman, Bambang, Sukarto, Wagirah, Tukijem dianggap sebagai nama yang berbau kedesa-desaan, antik, atau generasi jaman doeloe. Sementara nama Richard, William, James dianggap perwakilan Barat dan modern, meskipun pada dasarnya nama ini juga super retro dan berbau Eropa Abad Pertengahan.

Saat Orde Baru berkibar nama anak-anak mendadak di-Jawa-kan. Bahkan, salah satu anak di daerah Sumatera, mulai dari fisik, dialek, hingga silsilahnya etnik Melayu, namun namanya mengingatkan seseorang dari Klaten, “Maklum Om, biar gak susah jadi pegawai!” katanya.

Peristiwa penting juga sering dijadikan inspirasi penamaan anak, jelasnya peristiwa yang baik-baik, menginspirasi dan heroik. Misalnya Trikora, Dwikora, Ganefo, Revolusi bisa ditebak mereka lahir awal tahun 1960-an, saat pidato Bung Karno masih menggelegar di angkasa.

Beruntung sampai hari ini, saya belum pernah mendengar ada orang dinamakan Gestok atau Malari. Bisa dibayangkan betapa nestapanya si anak dalam menyandang nama itu.

Saya juga pernah bertemu dengan beberapa anak yang dinamakan sesuai dengan tokoh idola sang orang tua. Supaya tampak netral dan tidak ­boleh ikut-ikutan politik, dipilihlah idola dalam sepakbola. Misal, Muhammad Zidane. Benar tebakan saya! Ia lahir tahun 1998 saat Prancis jawara Piala Dunia.

Kemudian sempat tren pada 1980-an yaitu nama Gary Lineker, setelah terjadi interkoneksi Piala Dunia Meksiko 1986. Apa ada di antara orang tua tahun 2010-an menamakan anaknya Messi atau Ronaldo? Sangat mungkin.

Persoalannya, saya belum pernah mendengar anak dinamakan sesuai pelatih legendaris. Misalnya Guardiola, Ferguson, Ancelotti, dan seterusnya. Mungkin terdengar aneh kali ya. Oh tunggu sebentar, semoga tidak ada yang menamai anaknya Balotelli atau Pepe? Kebayang kan betapa bandelnya si anak itu. Haha!

Tahun 2000-an, muncul tren baru, yaitu menamakan anak kearab-araban supaya dekat dengan nilai ke-Islam-an. Misalnya Salsabila, Rayyan, Al Ghazali, dan masih buanyak lagi.

Kemudian untuk membedakan dengan nama kearab-araban versi generasi 50-an yang cuma satu suku kata, misalnya Soleh atau Solekan, nama cah bayi pada tahun 2000-an dibikinkan tiga suku kata. Misalnya Salsabila Rahma siapa gitu.

Selain itu, ada pula yang memberikan nama yang kesansekerta-sansekertaan supaya kadar ke-Indonesiaan-nya semakin valid dan refleksi dari kemegahan para pembesar-pembesar Nusantara. Misalnya Airlangga Putra siapa gitu.

Walhasil, karena sudah kadung tiga suku kata bahkan empat, makin susah dieja dan dipanggil itu nama. Apa mau meniru model Manuel Francisco dos Santos yang akhirnya dikenal karena nama julukannya Garrincha alias burung kecil?

Jadi, setelah melihat konstelasi penamaan anak di Indonesia yang semakin rumit, lantas mengapa perlu direncanakan Perda Nama Anak? Baiklah, saya akan menganggap rencana itu dalam rangka menjaga kemurnian nama Indonesia yang arif dan adilihung dan bernafaskan kesusilaan Timur dari gempuran budaya Barat.

Namun, masalahnya, saya tidak terlalu yakin jika pada 2018, di tengah kota-isasi segala wilayah, kelas menengah yang semakin membludak dan sudah terpapar arus digitalisasi di segala bidang, ada orang tua yang menamakan anaknya hanya satu suku kata, macam Senen, Wage, Kliwon En toch.

Semoga saya tidak sendirian jika ragu terhadap orang tua yang bakalan menamakan anaknya macam Gajah, Hayam atau Lembu.

Meng-hibrid-kan jelas menjadi pilihan, ada unsur Barat, Timur, Selatan, Utara, ada Eropahnya, ada Turki-nya, ada Arab-nya, ada India-nya, ada Jawa-nya atau barangkali ada Eskimo-nya. Jadi, kebayang kan betapa nama itu seperti pantulan interaksi manusia dan kebudayaan yang maha panjang.

Mungkin di antara keributan nama Barat-Timur dan apa urusannya dengan kecintaan terhadap nasion, kita bisa bercermin dari nama-nama orang Afrika yang kebanyakan hibrid. Ada nama Barat-nya, juga ada nama Afrika-nya. Misalnya Didier Yves Drogba Tebily. Bayangkan, ada kata Didier dan Yves yang notabene dipakai Prancis, mantan negeri penjajahnya.

Untuk urusan kadar kecintaan terhadap bangsanya, wah, situ harus berkaca pada Didier Drogba, ya pesepakbola, ya juru damai pula untuk perang saudara di Pantai Gading.

Di Indonesia, agaknya sang pemula dalam nama hibrid ialah Wage Rudolf Supratman. Coba perhatiken, ada campuran Eropa, ada Jawanya pulak! Mungkin, si pemberi nama ingin mencirikan nama yang berfikir modern ala Barat, namun berkepribadian luhur layaknya orang Timur. Dalam satu nama, dalam satu jiwa raga.

Wabil khusus, untuk nama yang sering disingkat W.R Supratman, wujud kecintaan terhadap calon jabang bayi Republik Indonesia sudah disiapkannya lagu Indonesia Raya pada Sumpah Pemuda 1928.

Jadi, daripada kita dibingungkan mana yang murni Timur dan mana yang tidak, atau menggaris batasan tegas antara Barat-Timur, lebih baik dipikirkan kemungkinan bentuk baru model penamaan sebagai wujud saling silang budaya. Itu sudah terjadi, Quod Erat Demosntrandum!

Bukankah kita sudah biasa mengawinkan banyak unsur budaya dalam satu nama? Atau, memang kita terobsesi dengan fantasi budaya asli? Atau, jangan-jangan saat mengkategorisasikan ke-asing-an kita, ada pengecualian tertentu?

1 KOMENTAR

  1. kok ga ada singgung literasi soal inkulturasi agama pada budaya???? nama barat di Indonesia masuk karena ada inkulturasi yg diwajibkan pada saat seorang Asia dgn budayaAsia menerima kepercayaan baru yg berasal dari para Misionaris Barat. cth saat pembaptisan maka seseorang (Katolik) harus diberikan nama Santo atau Santa Pelindung nya yg nota bene kebanyakan nama St dan Sta dr Eropa. so…. inkulturasi Agama Bro…

TINGGALKAN PESAN