Menjadi Muslim Tiga Dimensi

Menjadi Muslim Tiga Dimensi

Ilustrasi (strecosa/pixabay.com)

Bagi beberapa orang, kehidupan hanya memberi dua pilihan bertentangan alias oposisi biner: gelap dan terang, senang dan sedih, miskin dan kaya, pintar dan bodoh. Begitu seterusnya.

Maka, akan sulit bagi mereka memahami seseorang yang sekalipun bersedih karena mendapat musibah bisa merasa senang di saat yang sama. Bagaimana seseorang yang kaya bisa menjadi miskin tanpa melepas kekayaannya. Bagaimana seorang pintar bisa menjadi bodoh dengan kepintarannya.

Saya pikir mungkin orang-orang berkacamata hitam putih ini hidup di alam dua dimensi, sementara banyak hal yang tidak bisa digambarkan sempurna hanya dengan dua sisi, termasuk perihal benar salah. Sebab, seluas apapun definisi kebenaran yang kita sampaikan, ada batas ruang pengalaman dan sudut pandang. Pelatihan dari Mini School of Peace yang pernah saya ikuti memiliki penjelasan yang baik soal ini.

Saat itu, para peserta diminta duduk melingkar mengelilingi sebuah cangkir keramik kecil dengan jarak sekitar satu hingga dua meter. Selama kurang lebih sepuluh menit, kami ditugasi menggambar cangkir tersebut dari tempat masing-masing tanpa berpindah posisi atau mendekati objek. Hasilnya, kami menggambar obyek yang sama dengan citraan yang luar biasa berbeda.

Saya menggambar bagian gagang cangkir, teman lain menggambar sisi samping dengan motifnya (saya baru tahu kalau cangkir itu tidak polos!), teman lain menggambar sesuatu yang benar-benar mengagetkan saya: patahan cangkir!

Ternyata kalau dilihat dari sisi depan, cangkir itu tidak bisa dipakai karena sudah retak bahkan patah. Konsep kebenaran saya soal cangkir tersebut runtuh ketika mendekat dan melihatnya secara utuh.

Momen melukis cangkir itu selalu menjadi pengingat saya ketika mulai akan sok tahu terhadap konsep salah benar dalam ilmu agama. Apalagi saya sadar apa yang saya yakini saat ini belum lah utuh, sebab dalam sejarah keilmuan dan pergerakan Islam pun masih ada banyak hal tersembunyi yang tidak saya ketahui.

Sebagai muslim saya pernah bertanya-tanya, kenapa para Sahabat terdekat Nabi (khulafaurasyidin) justru tidak terlalu banyak meriwayatkan hadis (cukup banyak, tapi bukan yang terbanyak)? Padahal, intensitas interaksi mereka dengan Nabi tidak perlu diragukan.

Tapi ada banyak sekali ‘ilmu langsung’ yang tidak mereka sampaikan pada kita. Bahkan dalam beberapa riwayat hadis pun disebutkan bagaimana Nabi melarang Sahabat menyampaikan apa yang diterimanya kepada banyak orang.

Menurut Guru saya, hal itu dilakukan Nabi dan para Sahabat karena setiap orang memiliki masa belajar masing-masing. Kalau kata pepatah, the teacher will come when the student is ready. Ilmu akan datang ketika kita sudah siap mempelajarinya.

Sebelum waktunya tiba, pengetahuan kita hanyalah sebatas apa-apa yang sampai pada kita beserta tafsirannya. Seperti saya sebelum mendekat dan menyentuh cangkir yang patah.

Menjadi bahaya adalah ketika baru bisa melihat dari satu sisi tapi tergesa menyimpulkan seolah sudah mengetahui semuanya. Apalagi menolak mempercayai kebenaran tiga dimensi karena hanya tersedia fakta dua dimensi.

Dan, bagi mereka yang kebetulan pernah menjumpai fakta tiga dimensi, hidup dengan alam pikir dua dimensi orang lain sungguh sangat merepotkan.

Ada masa ketika citraan ‘islami’ yang saya kenakan (bergamis longgar, berjilbab lebar meski tanpa cadar) membuat saya harus rela diteriaki sebagai teroris bodoh waktu berjalan santai di depan Islamic Center di Washington. Padahal saat itu saya sedang mengikuti kursus pluralisme agama yang tentunya sangat bertolak belakang dengan stereotip yang disebutkannya.

Dari penjelasan warga sekitar diketahui ternyata orang tersebut just some stupid brats yang habis mabuk-mabukan dan asal melampiaskan kekecewaan pada pemerintah terhadap imigran muslim yang lewat. Oleh karenanya, saya merasa nggak pantas kalau harus terpancing marah padanya, bahkan cenderung kasihan pada ketidaktahuannya.

Bagi orang-orang dua dimensi sepertinya, citra muslim seolah hanya terbagi menjadi dua: anti-terorisme atau pro-terorisme. Kalau versi (ehem) jualan politik di sini, anti-bhinneka atau pro-bhinneka. Tapi bagaimana bisa mengklasifikasi seseorang adalah pro-keberagaman dan nasionalisme atau tidak? Physical stereotyping is the easiest way. And media helps us a lot to do it.

Narasi media yang mencitrakan orang-orang dengan tampilan fisik tertentu sebagai kelompok ini dan itu, membuat muslimah berjilbab lebar macam saya (apalagi bercadar) kerap dilabeli tidak nasionalis dan anti-keberagaman. Sementara muslimah yang memilih berkonde dianggap lebih nasionalis dan cinta keberagaman.

Tentu saja ini dimensi yang dilihat oleh satu kelompok. Bagi kelompok di dimensi ‘sebaliknya’, muslimah bercadar adalah pelaksana syariat yang mulia. Sementara muslimah berkonde adalah penyembah tradisi yang menyesatkan.

Sulit bagi masyarakat dua dimensi ini untuk menerima dimensi ketiga, dimana terdapat muslimah berjilbab lebar dan bergamis longgar yang mencintai keberagaman dan nasionalisme. Sebab bagi mereka hanya ada dua sisi di dunia ini.

Kamu tidak bisa mencampur atribut keyakinan kelompok A dengan kelompok B, karena itu akan merusak perpecahan kubu yang susah payah dibangun, eh? Padahal, tahu apa kita soal keyakinan seseorang? Ideology is a state of mind, not body.

Maka pahamilah, muslim yang tidak latah berkomentar soal isu-isu penistaan bukan berarti dia adalah cebong yang membenci agamanya sendiri. Pun ketika seorang muslim menyayangkan kebodohan publik tanpa ingin terlibat kebodohan tersebut, bukan berarti dia adalah kamvret yang mudah dibakar isu.

Sebab seringkali keberpihakan tidak hanya perihal dua dimensi cebong dan kamvret. Oh, tapi mungkin kamu tidak tahu kalau ada sisi penuh warna bernama dimensi ketiga yang pernah menyatukan kita sebagai saudara sebangsa.

1 KOMENTAR

  1. Jadi dimensi ketiganya itu pengetahuan yang lebih dalam lagi kak?
    Sebelumnya, Bagus artikelnya kak. mewakili pikiran saya yang gak bisa saya ungkapkan selama ini.

TINGGALKAN PESAN