Agar Kamu Tidak Dihap-hap saat Musim Kawin Komodo

Agar Kamu Tidak Dihap-hap saat Musim Kawin Komodo

twitter/@valeyellow46

“Berani ganggu, gue caplok nih!” Mungkin kata-kata itu yang ada di benak komodo sebelum menggigit kaki kanan Loh Lee Aik, seorang wisatawan asal Singapura, yang nekat melangkahi teritori si komodo.

Binatang purba yang dipercaya hasil evolusi dari reptil raksasa di zaman dinosaurus itu memang berbahaya. Ini beberapa catatan penting yang perlu kamu ketahui ketika berhadapan dengan komodo.

Hewan yang menurut NatGeo dapat mencapai panjang 3 meter dan berat hingga 130 kilogram ini bukan hanya purba, tapi merupakan kadal paling berat yang ada di dunia.

Tapi jangan salah, meskipun berat, komodo mampu memanjat pohon dengan cukup gesit. Jika dia mau, komodo yang terlihat woles dapat berlari sejauh 11 mil per jam atau setara 17 km per jam.

Hewan yang lebih senang berjemur kayak di pantai ini pada dasarnya memang senang berkamuflase dan pemburu yang sabar. Nggak kayak kamu yang lebih banyak tebar pesona dan grusa-grusu ketika berburu jodoh, tapi ujung-ujungnya doi cuma bilang, “Maaf, kamu terlalu baik untukku, kita berteman aja ya.”

Balik lagi ke komodo ya, gaes… Sebagai pemburu yang sabar, komodo biasanya akan diam tak bergerak. Warna kulitnya yang senada dengan batu dan kayu membantu proses penantian. Mereka sangat menikmati proses menunggu. Tak ada istilah ‘menunggu adalah pekerjaan yang membosankan’.

Mereka akan membiarkan mangsanya sampai datang menghampiri. Begitu mangsa lengah dan merasa aman, HAPPP… Langsung dihap-hap…

Kebiasaan komodo yang nyantai juga terbawa dalam caranya berburu. Setelah satu terkaman mengejutkan, tak jarang si kadal purba ini membiarkan mangsanya lari dari cengkraman. Eh, tapi bukan komodonya kalah atau mengalah atau sedang berbaik hati dengan mangsanya. Sebab, senjata rahasia sebenarnya terdapat pada air liur.

Komodo yang memakan bangkai, membuat air liurnya mengandung berpuluh-puluh bakteri mematikan. Cepat atau lambat, liur pada bekas gigitan komodo akan menjadikan mangsanya lumpuh, kemudian mati secara perlahan.

Untung saja ketika itu, Loh Lee Aik yang berprofesi sebagai fotografer segera diselamatkan oleh warga, setelah beberapa gigitan pada kaki kanannya. Peristiwa itu terjadi di Desa Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Insiden tersebut berawal ketika ada ternak warga yang dimakan oleh komodo. Lee yang sudah tiga hari tinggal bersama warga ingin menyaksikan secara langsung dari jarak dekat.

Beberapa warga sudah mencoba memperingatkan, namun Lee – yang kabarnya pernah dilaporkan beradu argumen dengan ranger karena ingin masuk ke kawasan Taman Nasional tanpa pengawasan – tidak mengindahkan larangan.

“Komodo tidak suka diganggu jika sedang makan. Pastinya turis itu berdiri terlalu dekat,” ujar Sudiyono, kepala Taman Nasional Komodo, seperti diberitakan media.

(Natalia Oetama)

Hal penting yang perlu dicatat, bulan Mei hingga Agustus adalah musim kawin bagi hewan yang terancam punah ini. Selama musim kawin, binatang yang kerap disebut ‘Ora’ oleh penduduk lokal itu menjadi lebih agresif. Para komodo jantan akan bertarung untuk memperebutkan komodo betina.

Selain seks, hal lain yang perlu diketahui adalah soal nafsu makan. Dalam sekali makan, binatang yang memiliki 60 gigi setajam hiu ini bisa menghabiskan porsi yang mencapai 80% dari berat tubuhnya. Mereka bisa memakan apa saja untuk memuaskan nafsunya.

Seekor komodo jantan – anggaplah berat badannya 100 kg – bisa memakan mangsanya yang seberat 80 kg. Sekarang saya tanya, kira-kira berapa berat badanmu? 60 kg? 70? 80? Mashookk…

Maka, jangan main-main dengan binatang yang mendapat predikat dragon ini. Dengan semua kelebihannya, tak salah dia mampu bertahan dalam rantai evolusi dan mengalahkan dinosaurus yang telah punah berjuta-juta tahun silam. Jadi, pelajaran penting yang bisa kita ambil dari peristiwa berdarah ini adalah sadar diri.

Jika ingin unjuk gigi, saran saya, pilihlah lawan yang sebanding. Lakukan riset yang mumpuni terlebih dahulu, sebelum terjun ke lapangan. Adalah keliru membanding-bandingkan kualitas diri dengan keberanian yang semprul. Sama kelirunya membandingkan pamor dari jumlah karangan bunga yang didapat. Eh?

Tapi kan ya, lagi-lagi manusia memang suka khilaf, salah satunya Loh Lee Aik pada kejadian tempo hari. Semoga tertolong nyawanya dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Sekarang saya mau tanya lagi, bagaimana rasanya kalau kamu lagi kawin atau makan, terus diganggu?

Kalau memang ingin menantang binatang yang memiliki nama latin Varanus Komodoensis itu, minimal tunggu beliau beres makan dulu deh. Kalau dikejar, jangan lupa untuk berlari zigzag. Semoga informasi ini cukup membantu menyelamatkanmu dari terkaman komodo.

Tapi sebaiknya jangan diganggu. Lha, siapa yang sudi diganggu pas lagi makan atau kawin?

Kurang ajarrr…