Munculnya Kaum ‘Waladdollin’ dan Kepesantrenan Ala Al Ma’had Al Fasibuuk

Munculnya Kaum ‘Waladdollin’ dan Kepesantrenan Ala Al Ma’had Al Fasibuuk

toniimsen.com

Babak baru di dunia maya yang digawangi media sosial kini mengalami transformasi yang ultra positif. Gimana istilah barunya, keren nggak? Ya nyatanya memang begitu. Semakin hari semakin umek. Tambah hari kelihatan tambah sibuk mengurusi urusan manusia yang tergabung dalam identitas facebooker, netter dan er-er lainnya.

Anda ingin curhat, sampaikan pada mereka. Ingin beli barang, mereka melayani dengan sempurna. Bahkan, andaikata kita ingin sesuatu tapi sudah lama tidak kesampaian, berdoalah melalui mereka. Mereka rela membantu kita dengan ikhlas tanpa tetek bengek.

Iya, berdoa, bermunajat, dan beristighosah lah melalui mereka. Masih ingat makalah yang menyebutkan kalau doa yang diamini 40 orang saja akan diamini para malaikat dan dijawab Tuhan? Nah, itu maksud betapa doa paling manjur dengan prospek pengaminan para malaikat adalah melalui mereka, para er-er itu.

Prospeknya juga besar loh, satu doa akan diamini jutaan orang. Emejing, bukan? Dan, yang paling penting, modal yang kita keluarkan sangat lah irit. Bahkan nyaris tanpa biaya. Kepada mereka, kita tidak perlu membuat ‘berkatan’ yang kata kang Said Agil Siraj ‘makanan penuh gizi’ itu.

Mari ambil kalkulator, lalu kita hitung. Misalnya, anda mengundang tetangga satu RT. Katakan lah jumlahnya 50 orang. Kita kumpulkan di rumah, lalu ajak berdzikir dan doa bersama. Apa saja yang kita keluarkan?

Pertama, kita harus membuat surat undangan, yang biayanya sekitar Rp 20 ribuan. Kedua, kita mengajak pak mudin paling-paling aplopannya Rp 30-50 ribu. Dan, ketiga, ini yang paling banyak. Kita anggarkan “berkat” masing-masing orang Rp 14.500.

Rinciannya, wadah dan kreseknya Rp 1.500-an, nasinya Rp 3.000-an, mienya Rp 1.000-an, sayuran Rp 2.000-an, telur Rp 2.000-an, dan ayam gorengnya Rp 5.000-an.

Jadi, total berkatnya saja Rp 14.500 per orang dikali 50 orang, ya sama dengan Rp 725 ribu. Kalau ditambah biaya undangan dan amplop pak mudin, maka jadinya Rp 795 ribu. Banyak kan pengeluaran modalnya?

Sekarang kita hitung kalau doa kita sampaikan melalui kaum er-er itu. Ternyata hanya butuh pengeluaran beli paketan internet bulanan. Rp 50 ribu itu sudah sangat banyak. Artinya, dengan Rp 50 ribu saja, sudah cukup membuka peluang dikabulkannya doa kita. Tak hanya satu doa, ribuan doa lainnya bisa juga kita panjatkan.

Dari Rp 50 ribu itu pula kita masih bisa gunakan untuk yang lain. Semisal browsing gosip selebriti yang sangat penting bagi negeri ini semacam konflik Egi John dan Marshanda, isu kawin siri Raffi Ahmad dan Ayu Ting Ting, sampai berita gagalnya tembakan mercon bumbung berukuran jumbo dalam sebuah event bergengsi di kota.

Soal gosip, saya termasuk orang yang gagal apdet. Jadi merasa tak secerdas kebanyakan orang. Karena itu, saya hanya bisa cerita soal gagal tembak mercon bumbung atau meriam bambu terbesar yang didatangkan langsung dari Tiongkok tersebut.

Pada sebuah kesempatan, saya sempat bertanya kepada pejabat terkait. “Bapak telat, seharusnya sebelum mercon bumbung impor itu resmi ditembakkan, bapak seyogyanya berdoa dulu melalui kaum facebooker, netter dan er-er lainnya.”

“Maksud anda apa?!” ketusnya.

“Ketahuilah Pak, doa yang diamini jutaan facebooker, netter dan er-er lainnya itu bisa di-ijabah. Apa bapak belum tahu di media sosial banyak bermunculan para waladdollin yang diikuti jutaan amin?”

Beliau tampak kebingungan.

“Itu lho Pak, biasanya mereka memajang foto orang-orang yang perlu pengaminan. Itu dia para waladdollin yang saya maksud.”

Ia pun terkesan tidak terima, “Memangnya anda nggak berdoa sehabis sholat atau sembahyang?”

Saya tersipu malu juga dengan sindiran beliau. “Ya iyalah Pak, saya sering berdoa juga sehabis sholat.”

“Itu sudah bener. Di dalam doa sehabis sembahyang itu juga terhimpun doa untuk orang lain, termasuk rencana tembak mercon bumbung.”

Lha dalah, Pak. Saya kan hanya seorang. Tak ada salahnya bapak posting dulu rencana tembak mercon bumbung itu biar diamini oleh para pengamin.”

Beliau mulai melunak.

“Baiklah, besok-besok saya coba. Sekarang saya mau kerja dulu bantu-bantu ngurusin pengampunan pajak. Doakan program ini suksyes. Siapa tahu bisa disisihkan untuk beli mercon bumbung yang ori, bukan KW,” ujarnya sambil tersenyum culas.

***

Wah, si bapak pejabat sudah berlalu dengan mobil mewahnya. Padahal, masih ada hal-hal penting yang ingin saya sampaikan. Selain munculnya kaum waladdollin, ada hal baru yang perlu dia ketahui tentang kebanggaan terhadap dunia kepesantrenan. Ya kebetulan beliau sangat senang berkunjung ke pesantren-pesantren.

Salah satu pesantren yang kini santrinya paling banyak dan rata-rata sikapnya sami’na wa atho’na itu adalah Al Ma’had Al Fasibuuk. Sebuah pesantren campur baur. Kadang salafi, kadang modern, kadang halal-halalan, haram-haraman, kadang berjenggot, kadang dicukur.

Kemungkinan besar banyak orang belum mengerti bahwa para santri yang menjadi almamater Al Ma’had Al Fasibuuk dikenal luar biasa cerdas. Bayangkan, sehari saja mondok, pengetahuannya dirasa melebih santri yang mondok tahunan di pesantren salaf di tempat terpencil. Karena pandai, santri-santri Al Ma’had Al Fasibuuk dikenal senang berfatwa: haram dan sesat. Mulia sekali fatwa-fatwa ini.

Saking pandainya, para santri Al Ma’had Al Fasibuuk juga senang, jika diberi pertanyaan-pertanyaan. Respon mereka cepat. Sumber mereka sangat up to date. Referensinya modern yang bersumber dari Syeikh Google yang sangat ‘bercahaya’ wajahnya. Cahaya memancar yang kalau sering dipelototi akan berakibat mata bermasalah.

Misalnya, pertanyaan tentang bagaimana hukum dari mencukur jenggot dan memelihara jenggot. Para santri Al Ma’had Al Fasibuuk akan sekejap memperoleh jawabannya. Buku mereka tidak main-main, sebongkah kitab digital berlayar dan smart.

Ketik pertanyaannya, sekali tutol, langsung diketahui jawaban pertanyaan tersebut. Coba kalau tanya kepada santri pesantren salaf yang tahunan mondok, boleh jadi jawabannya beberapa hari kemudian. Sebab, perlu kehati-hatian dan mutholaah lagi tentang apa saja yang pernah mereka peroleh dari bertahun-tahun mondok. Hebat mana, hayoo?

Mungkin, kepandaian dari para santri Al Ma’had Al Fasibuuk yang luar biasa itu sama persis dengan An Extremely Mathematical Owl pada Chapter Three dalam sebuah buku yang ditulis Terence Blacker berjudul Ms Wiz Spells Trouble. Ya, kita waladdollin-kan saja!