Muhammadiyah, NU, dan Media Islam

Muhammadiyah, NU, dan Media Islam

Awal Agustus ini, dua organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) mengadakan muktamar. Tentu ada banyak hal menarik yang bisa dibincangkan dari dua muktamar tersebut baik itu dari sisi perkembangan dakwah Islam, sampai lika-liku kepentingan politik yang ada di baliknya.

Bagi saya, satu hal yang patut didiskusikan adalah absennya corak keislaman dua ormas tersebut dalam wacana media Islam di Indonesia. Istilah absen barangkali terlalu berlebihan, jika mengingat NU dan Muhammadiyah memiliki media internal baik yang resmi di bawah organisasi maupun tidak.

Tapi fenomena yang kita hadapi sehari-hari menunjukkan bahwa apa yang kerap disebut banyak orang sebagai ‘media Islam’ dengan berbagai ‘pesan-pesan Islam’, sesungguhnya tidak merepresentasikan mayoritas kelompok Islam di Indonesia yang diwakili dua ormas tersebut.

Hal tersebut itu merupakan kondisi yang ironis karena:

Pertama, istilah ‘media Islam’ justru  kerap merujuk pada apa yang disebut oleh Nabilah Munsyarihah (2015) sebagai media Islamis, media milik kelompok-kelompok yang meletakkan Islam sebagai perangkat ideologi politik dan alternatif dari segala krisis multidimensi, yang khususnya diakibatkan oleh dominasi global dari Barat. Kelompok-kelompok ini ingin ideologi Islam sebagai dasar negara tegak di Indonesia.

Dengan landasan ideologis semacam itu, tak mengherankan jika konten-konten dalam medianya sebagian besar berisi  propaganda anti-nasionalisme dan demokrasi, anti-Amerika-Yahudi-sekaligus Komunis, kebencian terhadap kaum minoritas, penafsiran agama yang tekstual, pengkafiran terhadap mereka yang berbeda, intoleran, dan seterusnya.

Jika konten-konten media tersebut diringkas, kira-kira kita tidak akan menemukan wajah Islam Indonesia dengan segala keunikan dan keistimewaannya.

Sebagai contoh terdekat bisa dilihat dari insiden Tolikara, Papua, beberapa waktu lalu di mana banyak ‘media Islam’ mencoba menyampaikan informasi provokatif dengan menyebutkan konflik sosial tersebut sebagai konflik agama dan harus dibalas dengan aksi kekerasan. Padahal informasi-informasi yang ada sering belum bisa diverifikasi dan diuji kebenarannya.

Penyebaran ide-ide atau gagasan-gagasan kelompok ini bahkan tidak hanya menggunakan medianya sendiri. Ia juga masuk menggunakan media-media nasional seperti televisi swasta maupun televisi publik (TVRI). Dengan menggunakan frekuensi publik, dakwah berbalut agama namun menyerang Pancasila sebagai dasar negara dilakukan secara masif.

Sebagai contoh, cermati misalnya tulisan Komoditas Syariah di Layar Kaca (Yovantra Arief; 2013) dan Khazanah Pemahaman Islam yang Dikerdilkan (Abdul Wahid:2014) yang melihat praktik penyebaran pesan-pesan tersebut dalam tayangan televisi.

Kedua, perkembangan pesat teknologi media dan komunikasi membuat otoritas keagamaan memudar dan menyebar melalui media-media seperti televisi dan beberapa tahun belakangan, media sosial. Otoritas keagamaan yang menyebar ini pada tahap selanjutnya melahirkan fenomena tele-dai.

Fenomena ini memanfaatkan ceruk krisis kultural masyarakat sebagai konsekuensi ‘beban kehidupan’ yang membutuhkan pemahaman agama yang praktis dan aplikatif sebagai pelarian.

Di era digital seperti saat ini, tidak dibutuhkan pemahaman agama yang mendalam untuk menjadi seorang tele-dai atau ustad seleb. Cukup memiliki penampilan yang menarik, mampu menyampaikan pesan dengan efektif dan menghibur (baik itu di media umum maupun media sosial), semua orang punya peluang yang sama menjadi tele-dai.

Ketika dakwah Islam sudah bersentuhan dengan media, ia telah menjadi gaya hidup, tidak lagi semata-mata perkara fikih. Yang sakral dan yang profan,melebur dalam arus besar komodifikasi agama. Tak mengherankan jika para pemuka agama yang besar karena media ditampilkan bukan hanya seputar pesan-pesan keagamaannya, tetapi juga kehidupan personalnya. Persis seperti selebritis.

Dua kondisi seperti disampaikan di atas membuat peran NU dan Muhammadiyah dalam mewarnai diskursus media Islam di Indonesia menjadi semakin penting. Metode dakwah mesti disesuaikan dengan perkembangan teknologi media yang ada agar semakin bisa menjangkau orang tanpa harus tersekat ruang dan waktu.

Informasi-informasi atau berita mengenai Islam yang moderat dan berakar pada tradisi tentu juga menjadi alternatif yang menyegarkan di tengah merebaknya gejala islamisasi dan komodifikasi agama.

Tidak hanya konten alternatif, ia juga menjadi sarana untuk menunjukkan seperti apa sebenarnya wajah Islam Indonesia. Apalagi dalam era tsunami informasi , sulit memilah mana informasi yang layak dipercaya, mana informasi yang bohong, juga mana informasi yang merupakan provokasi.

Jika tidak dibaca secara kritis dan minimnya informasi lain sebagai penyeimbang, berbagai propaganda yang ada bisa memanipulasi dan membawa masyarakat pada situasi konflik. Kita tentu tidak mau wajah Islam Indonesia diidentikkan dengan situs-situs mengatasnamakan Islam namun kerjanya menyebarkan fitnah, kebencian, dan kekerasan.

Foto: rizkyattyullah.blogdetik.com

  • Firdaus

    Banyak sekali wacana-wacana islam yang intoleran disebarkan saat ini, terlebih dari media-media bodrek yang provokatif. Wacana-wacana baru tentang islam yang toleran harus lebih banyak disampaikan kepada masyarakat mas..

    • Rio Wibowo

      Setuju mas sama mas firdaus tuh, knpa sih ya banyak sekali wacana-wacana yg bersifat provokatif tentang agama akhir2 ini?? bahaya banget, bisa menyebabkan perpecahan umat beragama di NKRI sendiri. Gak habis pikir….