Muallaf Melankolis dan Agama Si Kucing Persia

Muallaf Melankolis dan Agama Si Kucing Persia

Dulu sekali, ketika jelang kenaikan kelas tiga SMA, saya memutuskan menjadi muallaf. Pindah agama dari Katolik ke Islam. Tentu saja, ini tanpa sepengetahuan mama. Singkat kata, tiga bulan kemudian, rahasia itu akhirnya terbongkar. Mama marah besar.

Karena mama seorang yang berzodiak Leo, auman kemarahannya bisa membuat seluruh penghuni hutan terbirit-birit. Saya pun begitu. Layaknya Minke dalam roman Pramoedya yang menyembah dan memohon ampun. Tapi, jangankan menyembah, pantat saya serasa lengket tidak bisa bergerak.

Dan, keluarlah titah mama yang tak kalah dengan Sabda Ratu, “Kamu selepas SMA akan mama sekolahkan jadi Pastor!” Aduh mama… saya tak berminat jadi pastor. Bukan apa-apa, saya akui tak punya kemampuan mumpuni untuk itu. Saya masih terlalu busuk dan naif. Gadis-gadis semlohay di luar sana masih terlalu menggoda. Berat betul, mama…

Tapi, seiring dengan waktu, mama bisa mengerti. Jadilah seperti sekarang ini, seorang muslim yang hidup di tengah-tengah keluarga besar yang 90%-nya adalah Katolik.

Kami merayakan Natal, Idul Fitri, dan hari-hari besar keagamaan setiap tahunnya dengan semangat kebersamaan dan cinta kasih. Saat puasa Ramadan, saya selalu disiapkan hidangan sahur dan buka puasa yang tentu rasanya enak. Ketika Idul Fitri, tak jarang sarung dan baju koko baru selalu dibelikan khusus oleh mama.

Tentu, sebagai seorang muslim – meski tidak sejak lahir – saya ingin sesuatu yang halal supaya berkah di dunia dan akhirat. Karena itu, saya berterima kasih kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sudah menjadi lembaga sensor khusus halal dan haram di Indonesia. MUI datang dengan derajat kemakrifatannya yang tinggi dan seolah entitas yang menyatu dengan Tuhan.

Saya tidak tahu sudah berapa banyak label halal-haram yang dikeluarkan MUI. Mungkin karena terlalu mudah sering kasih label. Kalau memang begitu, ya silakan saja. Tentu umat hanya bisa mengikuti tanpa bisa protes. Lagipula, siapa kita dibanding MUI?

Belakangan ada kaos kaki, tisu toilet, dan jilbab halal. Entah ke depan apa lagi, mungkin saja celana dalam halal, bra halal, kondom halal, dan lain-lainnya. Saya tidak tahu sudah berapa banyak label halal-haram yang dikeluarkan MUI. Mungkin karena terlalu mudah sering kasih label.

Tentu itu sah-sah saja bagi seorang muslim dan muslimah yang tak sudi memakai barang haram. Tapi, dari semua itu, saya takjub dan salut dengan keputusan MUI menghalalkan makanan kucing.

Makanan kucing bersertifikasi MUI itu pasti layak konsumsi tanpa takut kandungan minyak babi. Mungkin karena kucing juga tidak suka babi. Amboi dah… Sedap betul!

Saya punya teman yang menyukai dan memelihara kucing. Seingat saya, namanya Bobo. Kucing Persia jantan yang malesnya minta ampun. Andaikata kucing ini mengerjakan skripsi atau tesis, butuh puluhan tahun untuk selesai dan lulus.

Dengan adanya makanan kucing halal, saya ingin sekali bertanya ke Bobo, apakah ia juga seorang muslim atau bukan? Seingat saya, teman saya pemilik Bobo ini memang Muslim, sesuai KTP-nya. Tapi mosok kita ikut-ikutan menentukan agama untuk hewan peliharaan kita?

Saya yakin betul, kawan saya tidak sempat mengajak Bobo untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, ketika pertama dia beli Bobo dari penjualnya. Karena itu, saya heran, standarisasi makanan halal untuk kucing ini sebenarnya bertujuan untuk apa? Apakah juga menyasar konsumen manusia yang lapar tengah malam kehabisan mie instan dan khilaf memakan makanan kucing yang ada di lemari makanan?

Nah, kasus bertambah pelik, karena si Bobo akhirnya meninggal dunia karena sakit. Tentu saja saya berandai-andai, apakah Bobo juga dikuburkan dengan cara dikafani, lalu disalati, dan diantar ke liang lahat? Apakah di alam kubur nanti Bobo bertemu malaikat Munkar dan Nakir? Apakah di alam kubur si Bobo akan mendapat siksa, karena sering makan yang haram-haram?

Pemikiran ini makin bertambah kuat, tatkala saya bertanya dengan tegas dalam pikiran perihal Bobo akan masuk surga atau neraka. Ini semua terbingkai rapi dan anggun di kepala saya, karena melihat gambar makanan kucing halal itu. Sedemikian masif efek makanan kucing yang berlabel halal, hingga otak saya yang biasanya bebal dan banal ini bisa berpikiran melankolis seperti itu untuk mengingat dan mengenang kematian seekor kucing.

Setahu saya, selama hidup, saya memang tidak pernah melihat Bobo berkelakuan tidak menyenangkan. Entah mencuri ikan asin tetangga kosan atau bertengkar dengan kucing lainnya. Sebagai kucing Persia yang berbulu halus dan anggun, Bobo juga tidak sombong. Beberapa kali dia sudi bermain dengan kucing kampung yang kastanya lebih rendah dari dia.

Beberapa kali, walau jarang, dia juga main dengan ayam kampung milik tetangga kosan. Brengseknya Bobo memang perihal kebiasaannya untuk buang air besar, ketika ada orang tengah makan di samping kandangnya. Itu saja.

Masalah makin kompleks kalau mengingat amalan ibadah Bobo. Setahu saya lagi, Bobo tidak pernah salat. Ya karena dia kucing. Mana tahu dia gerakan salat. Apa itu sujud? Apa itu takbiratul ihram? Apa itu tahiyat awal dan akhir? Bobo juga tidak pernah mengucap salam ketika masuk ke rumah.

Telinga saya masih normal dan berfungsi dengan baik. Ketika Bobo pulang ke rumah dan bersiap dimasukkan ke kandang, dia cuma bilang, “meong, meong, meong”. Bukan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”.

Dengan hal-hal kompleks yang sedemikian rupa, bisa disimpulkan bahwa Bobo mungkin kucing kafir. Jelas tidak ada masalah bagi Bobo untuk melahap makanan kucing yang bercampur minyak babi.

Bukan masalah juga bagi Bobo untuk makan daging babi atau daging anjing. Rica-rica anjing kan sedap betul, kalau dimasak dengan bumbu pedas. Apalagi babi kecap dan sayur asin baikut yang amboi enaknyo!

Sederhananya, Bobo ‘si meong’ itu tidak butuh betul makanan kucing bersertifikat halal. Kecuali ada ustadz beken dan cukup gendeng untuk menuntun Bobo mengucapkan dua kalimat syahadat. Akhir kata, semoga Bobo tenang di alam sana dan masuk surga. Mudah-mudahan dia tak ditanya sama malaikat, “Hai kucing, Ma Dinuka? Apa agamamu?