Kebelet Bingits Ngurusin Moral Orang, Kapokmu Kapan?

Kebelet Bingits Ngurusin Moral Orang, Kapokmu Kapan?

Ilustrasi (Photo by Gary Bendig on Unsplash)

Zamannya kartu Posyandu masih gambar perempuan menyusui tanpa diblur, bergosip, ngintip orang, dan perbuatan kepo lainnya adalah memalukan.

Hari gini, saat puting sapi perlu diblur dalam tayangan memerah susu, kepo terhadap kehidupan pribadi orang lain adalah perbuatan terhormat penjaga moral bangsa.

Seorang yang kebetulan sedang lewat bersama abang ojek sempat menuduh sepasang laki-laki dengan dakwaan bermesraan yang tak sesuai dengan nilai-nilai my people.

Lantas, tanpa verifikasi yang memadai, cerita tersebut awalnya disebar lengkap dengan ‘bukti visual’ berupa video. Gosip sepasang lelaki bermesraan di jalanan pun menjadi viral.

Habis gosip pasangan gay, terbitlah Celup alias cekrek, lapor, upload. Sambil membawa-bawa Undang-undang Perlindungan Anak, kampanye ini seolah memiliki dasar hukum untuk bisa mempermalukan orang yang indehoy atas nama hukum, bangsa, dan negara.

Padahal, UU Perlindungan Anak jelas berbicara soal keberadaan korban di bawah umur dan pelaku, artinya tidak ada konsen, dan korban berusia di bawah 18 tahun. Hal ini lebih merujuk pada tindak kekerasan dan kekerasan seksual.

Sebab itu, Celup sebetulnya bagus kalau hendak berjalan pada koridor UU Perlindungan Anak, alias mergokin pelaku kekerasan.

Sementara, hak untuk indehoy justru dijamin oleh pemerintah melalui 12 hak kesehatan reproduksi dan seksualitas yang ditandatangani oleh Indonesia di Kairo, Mesir, dalam International Conference on Population and Development (ICPD).

Tak jauh berbeda dengan insiden pasangan yang dianggap indehoy lalu diarak bugil atau marah-marah ke pasangan homoseksual, narasi yang digunakan Celup adalah sikap merasa benar sendiri dan paling bermoral. Tindakan ini membenarkan sikap kepo sama kehidupan pribadi orang, berghibah dan menyebarkan aib orang, hingga persekusi.

Sebab itu, meski katanya dosen dan mahasiswa yang terkait Celup sudah meminta maaf dan kampanye tersebut hanyalah tugas kuliah yang dites lapangan, narasi merasa benar sendiri, kepo, gosipan, dan tukang bongkar aib ini jelas sudah tidak suci dalam pikiran.

Gosip (termasuk menuding aib orang lain) memang sering kali diumbar guna memenuhi hasrat personal, finansial, maupun kebutuhan sosial. Mengunggah video sebagai bentuk penyebaran gosip hingga menjadi viral adalah salah satu cara untuk memenuhi ego pribadi sekaligus kebutuhan sosial.

Misalnya, ego untuk menunjukkan kepada warganet bahwa si pencelup telah melakukan sesuatu yang paling benar menurut nilai-nilai yang dia percaya.

Sebab itu, bagi pelaku, hal yang dia lakukan tidaklah salah. Bisa jadi dia merasa telah mewakili lembaga negara, mewakili masyarakat, atau mewakili Tuhan yang dia percaya. Karena, siapa lagi yang akan menjaga moral bangsa ini? Begitu kan?

Sama halnya seperti hubungan sosial dalam kehidupan di luar jaringan (luring/offline), kehidupan dalam jaringan (daring/online) adalah ruang untuk membangun identitas dan mengekspresikan diri. Karena itu, keberadaan ruang untuk memberikan opini baik luring maupun daring boleh jadi krusial bagi seseorang untuk membuktikan diri.

Bagi sebagian orang, keberadaan ruang ini juga diperlebar hingga ke fungsi memberikan opini mengenai orang lain di belakang orang tersebut, serta memberi opini tentang suatu kejadian tanpa perlu memahami duduk perkara sesungguhnya.

Sebuah penelitian dengan konsisten menemukan bahwa pengguna media sosial sangat menyadari pentingnya identitas sosial. Pengguna media sosial juga cenderung lebih aktif dan sadar dalam menunjukan identitas mereka di media sosial ketimbang di kehidupan luring. Mengunggah video atau beropini di media sosial merupakan salah satu variabel dalam pembentukan identitas sosial.

Penelitian yang sama juga menemukan bahwa pengguna media sosial sangat menganggap penting untuk menunjukan identitas yang mereka percaya mengenai diri mereka sendiri.

Karena itu, video, foto, atau opini perlu segera diunggah. Klarifikasi menjadi urusan belakangan. Kalau harus cek-ricek dulu, bisa kalah cepat dari orang lain. Terus, kalau identitas saya sebagai penjaga moral tidak segera diketahui masyarakat, bagaimana? Bisa gawat!

Selain soal identitas dan kesukaan atas gosip, hal lain yang dapat menjelaskan perilaku mengunggah video dan merisak orang secara online adalah stereotipikal dalam representasi media.

Akibat terlalu banyak berkiblat pada negara yang medianya morat-marit macam Amerika, maka tak jauh berbeda dengan media-media di Amerika, media di Indonesia juga terjebak pada maskulinitas beracun (toxic masculinity).

Maskulinitas beracun ini menuding-nuding bahwa laki-laki haruslah jantan, tidak boleh akrab dan mesra-mesraan, tidak boleh feminin, tidak boleh menunjukan rasa sayang, tidak boleh begini, tidak boleh begitu.

Kepercayaan ini diedukasi terus menerus kepada masyarakat, dan diterima terus menerus oleh kultur patriarki hingga dianggap sebagai nilai-nilai yang benar. Akibatnya, ketika ada laki-laki atau siapapun manusia di muka bumi ini yang tidak sesuai dengan standar masukilinitas beracun, maka mereka akan dimaki dan dituding-tuding.

Kultur yang menormalkan maskulinitas beracun ini, kemudian menjadi lebih permisif pada penyebaran kebencian, kekerasan, dan perkelahian, alih-alih menyebarkan cinta, kasih sayang, dan perdamaian. Heran, kenapa manusia Indonesia ini mudah sekali menjadi agresif dan menuding-nuding orang lain?

Sebuah penelitian dari Vrije Universiteit Amsterdam (VU) dan Ohio State University (OSU) bisa jadi memberi jawaban atas sikap agresif tersebut. Penelitian yang dilakukan pada tahun lalu ini menemukan bahwa iklim yang panas dan kurangnya variasi suhu musiman berkontribusi pada agresi dan tingginya tingkat kekerasan.

Sebab itu, bisa jadi karena kelamaan tinggal di kota besar, seperti Jakarta, yang setiap hari kejebak macet, panas, polusi, sehingga menjadi begitu agresif dan cepat marah ketika melihat manusia lain berbagi kasih sayang. Mungkin juga karena beliaunya iri, ye kan?

Menjadi manusia kepo, bergosip, dan merisak memang cukup rumit. Tanpa strategi mencelup yang benar, bisa jadi malah tercelup sendiri. Lalu, terpaksa deh harus minta maaf setengah hati. Yang paling gampang sih menghindari kegiatan celup-mencelup.

Gimana, udah nyelup hari ini?