Modus Asmara dan Obat Palsu dalam Sehelai Benang “Pink”

Modus Asmara dan Obat Palsu dalam Sehelai Benang “Pink”

pixabay.com

Saat Vidi Aldiano memasang status palsu, Ayu Ting Ting malah memberi alamat palsu. Sementara, ada bayi-bayi yang terpapar vaksin palsu saat orang tua mereka diberi harapan palsu kenaikan gaji. Begitu terus sampai kemudian muncul (lagi) obat palsu.

Setiap kali obat palsu mengemuka, saya membayangkan betapa dulu saya berusaha keras meminta agar suatu bahan obat yang ditolak sama quality control untuk diluluskan saja. Tapi tetap ditolak mentah-mentah layaknya mantan gebetan melepeh saya. Sedih.

Saya paham betul membuat obat di pabrik – yang perilakunya bener – itu sulit minta ampun. Dimarahi marketing karena ada bahan baku reject sudah biasa. Padahal, bukan saya yang meminta suatu mikroba untuk mengontaminasi bahan. Lha wong, saya meminta gadis untuk dinikahi kudu nunggu nyaris tiga dasawarsa. Life.

Selain segala macam kemarahan yang pernah saya alami sebagai pengendali rantai pasokan, kisah obat palsu juga mengingatkan pada kisah cinta dan penolakan. Mulai ditolak karena terlalu baik – padahal mungkin maksudnya terlalu hitam – hingga diputus hanya karena mata saya terlalu mbelok.

Ah, merenungkan mantan dan obat palsu ini ternyata membuat saya menemukan benang merah pink bahwa sejatinya kita bisa belajar move on dari kasus ini dan hubungan asmara yang kandas.

Salah satu modus produsen obat palsu adalah memproduksi obat yang telah habis Nomor Izin Edar (NIE) di Badan POM. Dalam kompleksitas hubungan dengan mantan, ini jelas-jelas bentuk pengawuran. Bagaimana mungkin kita membangkitkan kembali hubungan yang sudah bubar dan berharap kisah yang sama bakal terulang?

Kata adik saya yang suka ngurus NIE di Badan POM, jika NIE hendak habis dan produk itu menjadi kesayangan marketing, sudah pasti langsung diurus perpanjangannya. Jika kemudian NIE itu kedaluwarsa? Sudah jelas bahwa rasa sayang itu telah tiada.

Produsen obat palsu adalah manusia-manusia yang hidup pada masa lalu. Mereka berusaha membangkitkan keadaan yang jelas-jelas sudah tinggal kenangan. Mereka pun berupaya menghadirkan rasa sayang, sementara mutlak tampak bahwa sayang itu sudah expired. Kasihan sekali.

Lihat saja, upaya untuk membangkitkan kembali suatu produk alias suatu hubungan yang sudah kehilangan rasa sayang – apalagi secara sepihak – hanya akan menemukan kegagalan. Ya itu, ditangkap pak polisi. Maka, sudahlah, kalau memang rasa sayang sudah kedaluwarsa, nggak usah berharap lagi.

Seperti kata kawan saya kala mengaransemen sebuah lagu, “Aku memang manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah. Namun di hatiku hanya satu, cinta untukmu kedaluwarsa!”

Balik lagi soal modus produsen obat palsu. Modus kedua yang jamak dilakukan adalah memalsukan obat-obat laris yang telah ada NIE-nya. Ini sebenarnya jenis hubungan yang jamak. Banyak hubungan berkasih-kasihan di dunia ini, yang dimulai semata-mata bukan karena cinta.

Bisa saja hubungan itu akibat paksaan lingkungan. Misalnya teman akrab sudah pacaran, adik sudah menikah, mantan terindah sudah akan beranak tiga, atau mungkin terpaksa berkasih-kasihan karena semata-mata butuh move on.

Ya, menjalin sebuah hubungan seperti layaknya orang lain yang tampak bahagia, semata-mata ingin move on. Orang semacam ini hanya mencoba mengikuti cara orang lain, cara yang tampak populer.

Orang jenis ini tidak akan kabur traveling untuk berusaha move on dan tidak akan ada istilah cari beasiswa demi menjadi lebih baik sebagai bentuk move on. Upaya move on hanya sekadar diusahakan lewat cara umum, berusaha berhubungan lagi sama seperti orang lainnya.

Percayalah, para produsen obat palsu itu adalah orang-orang yang berusaha move on dengan cara yang umum, meskipun boleh jadi itu tidak sesuai dengan hatinya. Mengopi cara-cara populer dengan tidak menjadi diri sendiri. Hasilnya? Ya, buyar. Kasihan.

Nah, modus ketiga yang diperbuat dengan sepenuh hati oleh produsen obat palsu adalah mengambil obat yang telah atau hampir melewati tanggal kedaluwarsa. Lalu menghapus tanggal kedaluwarsa dan menggantinya dengan tanggal yang palsu. Ini sih memang patut ditertawakan, selain juga bikin kita semua kepingin menampar produsen obat palsu itu.

Jadi begini, sebuah obat bisa diketahui waktu kedaluwarsanya adalah 1, 2, 3, atau 4 tahun sejak dibuat itu perjuangannya nggak kalah panjang dari penantian Manchester United meraih kembali gelar Premier League. Riset berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun.

Tidak sedikit teman-teman saya yang terlambat kawin karena mengurusi hal semacam ini. Belum lagi menggunakan chamber untuk uji stabilitas itu juga nggak sederhana. Lembur demi lembur dilakoni demi mendapat data tanggal kedaluwarsa yang sahih dan optimal. Tambah telat kawin, dah.

Kadangkala, suatu uji stabilitas dikerjakan satu orang yang sudah resign duluan sebelum uji stabilitas itu selesai. Trenyuh, nggak, tuh? Belum lagi di pabrik, membeli mesin untuk menuliskan tanggal kedaluwarsa itu nggak murah.

Selain nggak murah, owner juga harus berinvestasi dalam bentuk mengongkosi staf produksi ke negara produsen, entah Taiwan, Inggris, atau Italia. Investasi nan teramat mahal, jauh lebih mahal daripada ongkos saling mengunjungi pada sebuah hubungan LDR yang kemudian kandas dan bikin nangis kalau menghitung kerugiannya.

Jika dua cara yang pertama tadi terbilang masih ada usaha, meski usahanya cenderung sia-sia ataupun berpotensi gagal, maka cara ini merupakan yang paling cupu. Ibarat kata, dalam sebuah hubungan yang sudah akan kedaluwarsa, kita memperbaikinya tidak dengan berdiskusi satu sama lain, melainkan dengan mempublikasikan tanggal jadian yang baru.

Ealahh… Hubungan kalau memang mau diperbaiki ya tentu tidak dibenahi labelnya doang atau hanya luarnya saja, melainkan juga harus isinya. Sekali lagi, ini adalah upaya untuk move on yang kurang pas. Karena gagal move on, lantas berupaya kembali ke kekasih yang lama.

Kemudian berupaya menciptakan ulang hubungan dengan konten yang sama persis, tidak dibenahi sama sekali. Mimpi saja lah, toh sama seperti produsen obat palsu, nantinya bakal kandas juga.

Terakhir, kita semua paham bahwa obat palsu itu mengandalkan kemurahan belaka. Siapa sih yang nggak tertarik dengan obat yang biasanya sekian, dapat diperoleh dengan sekian minus dua puluh ribu? Apalagi kalau ditambahkan faktor per kalian dan seterusnya. Padahal, ya itu tadi, murah hanya sekadar murah, padahal isinya entah.

Sungguh pun dari kasus obat palsu kita belajar tentang orang-orang yang nuraninya murah. Ibarat kata, kalau cari jodoh itu sekadar ada yang mau. Sekadar hidup tanpa menghidupi hidup itu sendiri. Dari urusan sekadar murah ini, kita belajar tentang move on yang paripurna.

Mungkin kita ditinggalkan karena disakiti dan mungkin kita masih cinta, tapi bukan berarti kita akan tinggal dan membiarkan hati itu sedemikian murah untuk tetap terikat pada orang yang telah menyakiti. Murah tapi isinya sampah jelas bukan apa-apa dibandingkan sedikit lebih mahal tapi isinya beneran.

So, sahabat-sahabat Voxpop yang belum move on hatinya, ingatlah bahwa hati kita tidak semurah itu. Jangan biarkan hati yang bernilai itu tersiksa gegara sekadar belum move on. Muliakan lah diri dengan memberi nilai yang tinggi pada hati kita.

Gimana, sudah persis Pak Mario belum?