Pesan Seorang Penyihir tentang Mobil Terbang

Pesan Seorang Penyihir tentang Mobil Terbang

Ilustrasi (finance-monthly.com)

Beberapa hari lalu, aku kedatangan tamu. Seekor burung hantu Tyto alba menclok di jendela rumah. Ternyata ia membawa surat dari sahabatku di sekolah dulu. Aku rindu padanya.

Tiba-tiba saja teringat lagi ketika kami sedang sekolah sihir sekitar dua puluh delapan tahun yang lalu. Temanku itu tumbuh besar di keluarga campuran non-penyihir (muggle) dan penyihir.

Ia bisa dibilang seorang halfblood, seperti Lord Voldemort. Sementara aku murni penyihir (pure-blood).

Dulu, ia sering sekali bercerita tentang kota tempatnya tinggal. Ia sangat cinta pada kotanya, sebuah kota metropolitan yang besar sekali. Terlebih, ketika pemerintah daerahnya hendak mengembangkan hyperloop system alias konsep sistem transportasi secepat kilat.

“Kau tahu, ini akan menjadi masa depan yang cerah untuk kotaku. Posisi penyihir dan muggle dalam berlalu-lintas akan setara!” Kira-kira begitu ucapnya.

Temanku bercerita juga bahwa wakil gubernurnya menyatakan bahwa pada masa depan, ia ingin agar seluruh muggle bisa menggunakan mobil terbang sebagai moda transportasi pengganti MRT.

Mendengarnya waktu itu, aku terkejut. Kok mirip seperti kota lain di luar sana ya? Jangankan kendaraan yang bisa terbang, pembangunan MRT di kota itu bahkan belum selesai. Pejabat pemerintahan itu sungguh neko-neko, kupikir.

Tapi memang sih, di dunia sihir itu, hal-hal yang terbang sudah lazim. Apapun bisa dibuat terbang. Tapi untuk para muggle di kota temanku itu – yang lalu lintasnya bak benang kusut – tentu terbang bukan hal mudah. Selain pakai pesawat atau helikopter, tentu saja.

Di jalanan aspal saja, tingkat kecelakaan tinggi. Para pengendara sepeda motor dan mobil di kota temanku itu begitu malas pakai helm dan sabuk pengaman, apalagi alat pengaman di udara?

Tapi waktu itu temanku bersemangat sekali menyambut mimpi-mimpi sang wakil gubernur yang tidak cuma satu. Ia juga berangan-angan tentang menjadikan kota dengan pertumbuhan ekonomi terkilat di dunia.

Segala fasilitas publik, seperti rumah sakit, sekolah, dan sebagainya akan serba high tech, sehingga bisa menghasilkan generasi muda yang kelak menjadi penggerak persatuan bangsa-bangsa hingga memenangi dua nobel prize. Luar biasa.

Sudah kubilang pada temanku bahwa bermimpi tentu saja tidak dilarang. Aku senang melihat kecintaannya pada dunia tempatnya dibesarkan dan kepeduliannya pada kehidupan muggle.

Kupikir, mimpi tentang mobil terbang itu akan membuat kehidupan penyihir dan muggle tidak saling sungkan, toh tak akan bisa dibedakan, mana mobil yang terbang karena teknologi, mana yang terbang karena mantra.

Ya, bolehlah. Jadi kalau nanti ada mobil terbang yang terperosok ke luar jalur dan jatuh ke puncak beringin, masyarakat muggle tidak akan heboh berlebihan.

Di kota temanku tentu tidak ada The Whomping Willow, jadi tenang saja karena jika jatuh pun tidak akan seperti tragedi Ford Anglia 105e deluxe milik keluarga Weasley.

Tapi tiba-tiba, ingatanku tersentak. Ah, surat yang diantar burung hantu itu benar-benar membuatku penasaran ingin berkunjung ke kota temanku. Maka, aku memutuskan untuk berangkat esok hari.

Tentu di sana para penyihir dan muggle sudah bersatu padu dalam kesetaraan berkendara. Temanku tentu bahagia karena lalu lintas tak kenal diskriminasi.

Awalnya kupikir akan begitu. Tapi nyatanya, waktu aku di dalam kereta saat memasuki kota itu, tak ada satu mobil pun yang terbang di langit. Sepi. Cuma burung-burung lewat sesekali. Saat turun, aku memilih untuk minum susu jahe di warung terdekat sambil merenung.

Kupikir dan kutimbang-timbang berbagai kemungkinan alasan mimpi sang pejabat pemerintahan belum tercapai dalam waktu dua puluh delapan tahun.

Aku memang penyihir yang tak cermat perhatikan politik di luar sana. Tapi berdasarkan pengamatanku, pemerintahnya mengabaikan istilah “terbang hanya jika ada landasannya”. Istilah yang sebetulnya kubuat sendiri sih.

Dua puluh delapan tahun lalu – sebelum melontarkan mimpi serius tentang lalu lintas di udara menggantikan MRT – pemerintah kota harusnya terlebih dahulu menyelesaikan masalah yang lebih esensial.

Waktu itu, temanku suka migrain dalam kereta menuju sekolah. Perjalanan menuju stasiun memusingkan dia. Jalanan macet. Ia turun agak jauh dari stasiun karena itu.

Ketika jalan kaki, banyak pedagang menghalangi langkahnya di trotoar. Turun dari trotoar, ia diklakson dan dimarahi pengendara sepeda motor yang melawan arus. Bahkan pernah diancam digebuk pakai helm. “Duh, untung aku tidak keluarkan tongkatku!” keluhnya.

Jadi menurutku, pesawat pun sebelum terbang harus ada landasannya dulu. Sebelum mimpi mobil-mobil bisa terbang, paling tidak letakkan dulu sesuatu pada tempatnya.

Misalnya, pejalan kaki di trotoar, pedagang di mana pun tempat yang bukan trotoar, dan mencari strategi supaya masyarakatnya lebih toleran dan tidak suka membentak.

Ketika kota sudah dilabeli kota yang intoleran, siapa pun pasti tak akan betah lagi di sana. Humanisme itu penting. Sebab, humanisme tidak ada di setiap tempat.

Dan, tanpa itu, tidak semua orang bisa pakai teknologi tinggi, apalagi jadi penyihir. Bahkan keturunan penyihir pun ada yang tak bisa menggunakan sihir tanpa humanisme.

Begitu juga dengan teknologi. Di lingkungan yang intoleran, teknologi tinggi akan berlabuh jadi apa dan di mana? Apa iya, jadi senjata pemusnah massal? Duh, sedih sekali.

Kalau pemerintah tidak membantu masyarakat untuk membangun sisi manusiawinya, segarang apapun teknologi kelak akan tenggelam dan tak kelihatan fungsinya karena kalah oleh arogansi. Bukankah begitu?

Bahkan hingga masa semodern ini, penyihir masih sulit mendapatkan kesetaraan berkendara. Di dunia tempat muggle dan half-blood hidup berdampingan, sapu terbang masih dipakai sekadarnya. Hanya untuk sapu-sapu daun jatuh di halaman rumah.

Jangankan The Firebolt atau serial Nimbus, swiftstick saja tidak terpakai. Apalagi mobil terbang? Kutak tahu berapa keluarga yang masih mau punya mobil terbang, minimal yang berkapasitas mesin kuno.

Kalau belum ada jalur lalu lintas di udara tapi mobil para penyihir sudah berkeliaran, bisa-bisa para penyihir dipersekusi seperti tahun 1480-an. Dipersekusi seperti temanku yang hampir gegar otak digebuk pakai helm.

Tahun 2017 saja masih banyak peristiwa main hakim sendiri. Aku sering mendengar beritanya. Orang-orang yang peduli waktu itu harusnya bisa membuat versi modern dari The Hammer of Witches, buku yang konon paling keji, yang paling jahat dalam dunia sastra.

Akhirnya, aku memilih jalan kaki ke apartemen temanku sambil lihat-lihat suasana kota. Aku benar-benar tidak tahu mimpi-mimpi apa yang tertanam di kota itu.

Namun, kuharap pemerintahnya memperhatikan landasan sebelum menanak mimpi. Jangan sampai terperosok sebelum lepas landas dan terbang di antara bintang gemintang.

Tapi tunggu dulu… Sepertinya itu ada yang melayang di udara. Betul… saya tidak bercanda!

Apakah itu Superman? Bukan. Batman? Bukan juga. Jangan-jangan itu mobil terbang?

…Ternyata sapu terbang!

Sekian.