MKD = Mencintai Kamu dan Dia

MKD = Mencintai Kamu dan Dia

Sinetron Turki yang lagi ngehits semacam ‘Shehrazat’ atau ‘Cinta Elif’ kini punya tandingannya. Sebuah sinetron hasil karya anak negeri berjudul ‘Mencintai Kamu dan Dia’ atau populer disebut MKD.

Saking populernya di mata masyarakat, sampai-sampai terjadi sengketa bahkan huru-hara dalam perebutan saham remot TV di rumah tetangga saya. “Ganti dulu MKD,” kata papa. “Nggak ah, Shehrazat lagi seru. Apalagi Cinta Elif,” jawab mama.

“Ya sudah, bagaimana kalau kita malem Jumatan saja?” tanya papa mencoba menawarkan solusi. Setelah itu tak terdengar lagi suara-suara dari mereka.

Saya yang hanya ngekos di sebelah rumah mereka, jadi penasaran. Maksud saya, penasaran sama sinetron MKD, bukan sama suara-suara lanjutan dari ritual malem Jumatan.

Dengan gelisah, saya menyalakan TV, lalu gonta-ganti saluran. Sinetron MKD ternyata sedang berlangsung, bahkan sejak siang kalau kata ibu kos. Wah, mana ada sinetron yang tayang dengan durasi sepanjang itu? Saya coba menontonnya, tapi lama-lama muak juga.

Saya rasa tetangga sebelah sudah benar, lebih baik malem Jumatan. Dapet pahala pula. Daripada nonton opera sabun itu? Saya matikan TV, lalu browsing di internet. Di media-media online, banyak berita soal Papua terutama soal buntut dari kericuhan demonstrasi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.

Sebelumnya, ratusan massa AMP berdemonstrasi di Bundaran HI untuk memeringati hari Pembebasan Irian Barat pada 1 Desember. Selain menggunakan pakaian bertuliskan AMP, sebagian mahasiswa juga menggunakan atribut berlambang Bintang Kejora.

Karena atribut itu konfrontasi semakin menajam menjadi lempar batu dan gas air mata. Kabarnya, polisi meminta salah seorang demonstran untuk melepas atribut Bintang Kejora, tetapi ditolak. Terjadilah keributan.

Masalah Papua memang penting. Tidak habisnya kita membicarakan masalah di Papua, karena ketidakadilan banyak terjadi di sana.

AMP menuntut pemerintah memberikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis rakyat Papua, menarik anggota TNI dari Papua, dan memberikan referendum bagi warga Papua.

Tuntutannya memang terdengar ekstrim bagi kaum yang menjunjung tinggi NKRI. Namun, bukan tanpa sebab AMP menuntut hal itu. Sudah bukan rahasia lagi, pejabat-pejabat kita lebih memperhatikan sumber daya alam dan urusan rente Freeport di Papua daripada pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan warga.

Aparat pun sensi banget kalau melihat lambang atau bendera Bintang Kejora. Aktivis Kontras Puri Kencana Putri bilang kalau unjuk rasa AMP hanyalah perayaan identitas. Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, pemerintah bahkan turut serta mengikuti perayaan 1 Desember 2015. Bendera Bintang Kejora diakui sebagai ekspresi budaya warga Papua.

Kontras berharap sentimen positif seperti itu diikuti oleh rezim-rezim pemerintahan setelahnya. Dengan begitu, rakyat Papua mendapatkan ruang pengakuan kemauan politik dan kebebasan berekspresi. Bukan pengekangan, karena efeknya seperti bola bekel, makin keras dilempar pantulannya makin kuat…

Foto: marcosmendosa.com

  • Hidayat adhiningrat

    Like this mang fikri. Pembuat sinetron biasanya memang semangat dalam penggarapan karena tahu keinginan pasar 🙂