Tak Melulu Afi, Menulislah seperti Mita Handayani (Menjawab Kritik)

Tak Melulu Afi, Menulislah seperti Mita Handayani (Menjawab Kritik)

Ilustrasi (clickhole.com)

Tak bisa disangkal, artikelnya Y. D. Anugrahbayu berjudul ‘Kritik dan Saran Terbuka untuk Para Penulis’ itu bagus sekali. Tulisannya mudah dicerna, meski dibingkai dengan data, referensi buku, dan kutipan para pemikir tersohor. Membacanya terasa syahdu dan bernas.

Tulisan yang di dalamnya juga mengkritik artikelnya Dea Safira Basori berjudul ‘Pancasila dari Kacamata Perempuan Milenial’ itu terasa menggelitik. Saya, salah satunya. Tulisan Dea sebenarnya menggugah nalar. Ternyata ada orang yang punya pikiran bahwa Pancasila beririsan dengan feminisme.

Ini bisa dibilang tulisan termutakhir, sesuatu hal yang baru untuk dibaca. Dan, saya rasa sudah cukup sampai di situ sebaiknya kita memahaminya. Bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai kesetaraan gender, meski tersembunyi. Menguaknya ke permukaan adalah tindakan brilian.

Kalaupun pemikiran itu diperjuangkan dalam wujud tesis atau disertasi atau makalah jurnal internasional, ya bagus-bagus saja. Namun, itu tak harus menjadi beban. Mengapa? Karena menulis adalah suka cita. Itu penting dalam dunia literasi kita.

Belakangan, kita semua mencermati tulisan Afi Nihaya Faradisa. Terlepas dari kisruh memplagiat beberapa bagian tulisan orang lain, fenomena ini seharusnya dimaknai sebagai optimisme bahwa dunia literasi kita masih cukup cerah. Bahwa budaya kritis harus dibenamkan sejak dini. Toh, tak semua tulisan Afi hasil menjiplak.

Tapi, memang, plagiat apapun alasannya tak dibenarkan dalam dunia literasi. Yang mengkritiknya habis-habisan juga harus konsisten. Tidak standar ganda. Lha, bagaimana tidak standar ganda, satu sisi mengutuk plagiarisme, sisi lain malah senang pakai barang KW? Barang KW itu plagiat, bukan?

Nah, di balik semua itu, justru respon dari Mita Handayani yang paling saya suka. Alih-alih marah karena sebagian pemikirannya dijiplak, Mita justru menunjukkan hal yang bijak. Berikut salah satu kutipannya yang begitu apik dan menggugah…

“Sejak dulu, tulisanku sudah biasa disalin, diproduksi ulang, dan disebar orang lain di grup atau tempat-tempat yang kadang aku sendiri tidak tahu. Aku tidak pernah ambil pusing soal itu. Menulis bagiku adalah soal lain. Meminjam istilah Pram: bekerja untuk keabadian. Dan dalam konteks ini, bukan nama yang ingin kuabadikan.”

Tindakan plagiat memang patut dikritisi, tapi respon dari Mita adalah hal lain. Semua pasti setuju bahwa ide dalam menulis adalah sesuatu yang sangat murni dan berharga. Tapi sikap Mita yang mengikhlaskan tulisannya adalah sebaik-baiknya sikap yang patut diberi apresiasi tinggi.

Itu contoh bagaimana kita menulis dengan suka cita.

Dan, berseberangan dengan kritik dari mas Bayu, saya lebih suka melihat aktivitas menulis di ruang publik sebagai wujud kebebasan kita dalam berpendapat. Tentunya asalkan tidak plagiat, tidak mengandung pornografi, dan SARA.

Selebihnya, tulisan itu harus bebas, lepas, dan tidak melulu dibebani moral. Kecuali, kita menobatkan diri sebagai polisi moral. Namun, jika pada akhirnya tulisan itu menginspirasi atau meluruskan nalar yang bengkok, mengapa tidak?

Kita mungkin perlu membaca kembali tulisan-tulisan di beberapa situsweb yang banyak menayangkan konten artikel yang ringan, enak dibaca, dan selalu segar. Misalnya Mojok atau Voxpop.

Apakah tulisan di media tersebut melulu mengedukasi pembaca? Bisa ya, bisa tidak. Tapi, apakah kontennya harus dibebani tuntutan moral layaknya polisi moral? Saya rasa tidak.

Karena menulis adalah suka cita, ketika membuatnya bahkan bisa sambil makan gorengan, ngopi, atau menonton Manchester United berlaga. Kalau dalam dunia sepak bola dikenal istilah ‘main tanpa beban’.

Namun, kritik dari mas Bayu memunculkan kekhawatiran di benak saya. Bahwa semua penulis harus mampu mengedukasi pembaca melalui tulisannya. Kritik tersebut bisa jadi membuat para penulis merasa perlu menjadi Afi. Padahal, menurut saya, tidak selamanya begitu.

Kita telah membebaninya dengan tuntutan tak kasat mata bahwa setiap artikel pendek harus memiliki isu moral yang baik dan mampu mendamaikan dunia persilatan di Indonesia.

Perlu diketahui, ada satu hal yang perlu kita pertanggungjawabkan ke pembaca selain edukasi dan moralitas, yakni perasaan bahagia. Dan, sejauh ini, tanggung jawab itu sudah terlampir pada setiap tulisan yang tayang di Voxpop.

Semoga bahagia selalu, mas…