Minum Kopi di Perbatasan Vietnam dan Tips agar Tak Disangka Penjahat

Minum Kopi di Perbatasan Vietnam dan Tips agar Tak Disangka Penjahat

soyz.wordpress.com

Pernah minum kopi Vietnam? Saya pernah. Gak nanya? Gak apa-apa. Pokoknya saya mau cerita pengalaman minum kopi Vietnam. Bukan di kafe yang kembali marak diberitakan, tapi di perbatasan Laos dan Vietnam. Bisa dibilang itu pengalaman pertama mencicipi kopi yang diseduh dengan cara ditetes-tetes.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam dari kota Thakek, Laos, akhirnya menjelang subuh sampai juga di border gate menuju Vietnam. Pintu perbatasan masih tertutup, sekitar sejam kemudian baru akan buka. Jadilah nongkrong di kedai makan sembari menunggu pintu perbatasan dibuka.

Saya langsung memesan secangkir kopi. Sudah sejak lama saya mencandu minum kopi pada pagi hari. Tidak boleh ada satu pagi pun yang luput dari bubuk jahanam ini. Itu prinsip hidup. Meski baru belakangan ini menemukan kata-kata mutiara ‘life begin after coffee’ yang akhirnya selalu jadi pembenaran. Saya juga sudah lama terbiasa meminum kopi tanpa campuran gula sedikit pun. Karena kalau kopi terasa pahit, tambahkan saja kenangan kita di dalamnya. Halahhh…

Lalu seorang wanita paruh baya datang. Saya menebak kalau dia pelayan di kedai tersebut. Agak lupa bagaimana perawakannya, yang pasti dia tampak cerdas dan punya pengetahuan luas. Meski begitu, kekaguman terhadap wanita itu tidak bertahan lama, langsung berganti dengan kebingungan karena melihat hidangan yang ia sajikan.

Di hadapan saya, saat itu, terhidang sebuah gelas berisi susu kental setebal dua sentimeter. Di atas gelas tersebut, ada aluminium bundar yang dari sana menetes air berwarna hitam sedikit-sedikit. Buyar sudah harapan untuk bisa langsung “memulai hari selepas meminum kopi”. Yang ada malah disuruh lihat susu yang ditetesi air hitam sedikit-sedikit. Saya bingung, lalu celingak-celinguk, tak lupa juga garuk-garuk tangan dan paha yang sebenarnya tidak gatal.

Lama kelamaan air kopi memenuhi gelas. Saya masih saja celingak-celinguk. Si pelayan lalu mengangkat wadah aluminium tadi dan mengaduk air kopi hingga tercampur dengan susu kental. Alhamdulillah, sekarang sudah ada secangkir minuman yang secara logis bisa disebut sebagai secangkir kopi. Rasanya begitu nikmat. Dan, hari pun dimulai saat itu juga dengan cara yang paripurna.

Ingatan minum kopi Vietnam tersebut kini kembali muncul. Saya merasa beruntung bahwa saat itu tidak ada orang yang meninggal di dalam kedai. Kalau ada, wah, bisa-bisa saya jadi tertuduh dan sebuah stasiun TV akan menulis melalui akun Twitter-nya, “Benarkah Hidayat bersalah dalam pembunuhan kasus kopi maut? Sampaikan opini anda melalui hashtag #HidayatPembunuh.”

Lalu setiap sidang di pengadilan, detik per detik akan ditayangkan secara live di televisi. Portal-portal berita online akan menulis berita dengan judul, “Saksi Ahli: Hidayat Menggaruk Paha Sebelah Kanan dan Tangan”, yang kemudian dikomentari oleh netizen, “Hidayat oh Hidayat lelaki laknat… Semoga saja kau diampuni oleh yang Maha Kuasa.”

Iya benar, saya sedang membicarakan Jessica. Jangan pura-pura tidak tahu siapa Jessica yang saya maksud. Secara muka dia muncul di mana-mana, meme-nya juga menyebar di mana-mana. Boleh jadi Jessica ini lebih dikenal daripada Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Ada yang tahu? Silakan browsing, nggak usah malu.

Jessica adalah orang yang sudah dicap sebagai pembunuh oleh publik, jauh sebelum pengadilan menetapkan putusan. Padahal, ia hidup di negara yang (katanya) menganut asas praduga tak bersalah. Jessica adalah orang yang setelah melakukan uji kebohongan dan hasilnya menyatakan bahwa dia jujur, tapi lantas disebut sebagai pembunuh berdarah dingin. Pokoknya, bagaimana pun, Jessica itu pembunuh. Titik.

Saya tidak tahu bagaimana ujung drama persidangan kasus ini nantinya. Biarlah penegak hukum yang akan memutuskan. Saya hanya berharap bahwa kebenaran yang akan muncul. Nah, daripada menduga-duga dan malah makin memperkeruh suasana, lebih baik saya memberikan beberapa tips minum kopi di kafe. Selain agar tidak dituduh sebagai penjahat, tips ini juga akan membuat ritual minum kopi anda di kafe menjadi lebih nikmat.

1. Jangan membawa tas besar

Meminum kopi di kafe sudah jelas berbeda dengan membuka angkringan atau lapak jualan, apalagi dengan travelling. Jadi, memang sudah seharusnya kalau kita mau nongkrong-nongkrong ganteng di kafe tidak perlu membawa tas yang besar.

Selain bisa membuat kita dituduh mau ngumpetin tangan pas masukin racun, membawa tas yang besar juga akan membuat pengelola kafe curiga. Dia akan mencurigai kita membawa ransum makanan dari rumah dan sembunyi-sembunyi memakannya di sana. Ingat, ini kafe bukan bioskop. Jadi jangan coba-coba membawa makanan dari luar.

Keadaan akan lebih kacau, jika pengelola kafe curiga anda adalah orang yang sedang kabur dari rumah. Tujuan untuk ngopi di kafe malah gagal total, karena anda akan langsung diusir. Biasanya, orang yang kabur dari rumah cuma bawa uang seadanya. Pengelola kafe akan khawatir anda tidak sanggup membayar tagihan.

2. Membayar pesanan setelah selesai minum kopi

Sekilas, membayar pesanan langsung di muka memang menunjukkan bahwa anda adalah konsumen yang taat dan tertib. Padahal, tidak begitu juga. Terutama jika ini terkait dengan minuman bernama kopi. Kopi adalah minuman yang istimewa, beragam puja-puji mengenai kopi itu tidak mengada-ngada. Kopi adalah salah satu candu yang masih dianggap legal dan aman untuk dikonsumsi. Seorang sutradara nyentrik asal Amerika Serikat bernama David Lynch pernah bilang, “Even bad coffee is better than no coffee at all.”

Nah, kalau sudah seperti itu, membayar pesanan sebelum selesai meminum kopi menjadi sebuah kesia-siaan. Karena kopi adalah candu, anda bisa nambah lagi nambah lagi. Buat apa bayar di muka, kalau nantinya anda akan minta tambah dan tambah lagi. Jadi ini bukan untuk menghindari tuduhan akan kabur setelah meracuni orang, tapi lebih kepada kita yang lemah di hadapan kopi.

3. Tak perlu celingak-celinguk

Ini yang paling penting. Saat anda ngopi di kafe, usahakan untuk tidak banyak celingak-celinguk. Sesekali boleh lah, itu pun jika anda yang sedang ngopi-ngopi ganteng melihat mereka yang sedang ngopi-ngopi cantik. Selain karena alasan itu, usahakan untuk pasang pandangan lurus ke depan dan tegas. Munculkan citra bahwa anda memang paham semua seluk beluk perkopian.

Mulailah membaca banyak hal tentang kopi. Mulai dari bagaimana memilih biji kopi yang benar, berapa ketinggian yang bagus untuk menanam tumbuhan kopi, bagaimana proses roasting yang baik, bagaimana gilingan yang tepat, suhu yang bagus, hingga beragam cara menyeduh kopi.

Jangan ragu menilai rasa kopi, tetap bilang ke baristanya semacam ini, “Kopi yang ini kayaknya lebih acid ya. Saya boleh coba yang fresh roast gak?” Meskipun sebenarnya yang kamu rasakan sebenarnya ya begitu-begitu juga. Niscaya kamu tidak akan dituduh sebagai orang yang sedang merencanakan pembunuhan, malah yang lagi ngopi-ngopi cantik itu akan semakin yakin kalau kamu memang sedang ngopi-ngopi ganteng.

Nah, itulah beberapa tips ngopi di kafe dari saya. Jangan lupa nanti tanggal 20 Agustus, kita ngopi-ngopi bareng di Bandung. Merayakan ulang tahun Voxpop. Tempatnya di mana? Japri aja Jauhari Mahardika. Siapa dia? Itu lho, orang yang punya wewenang menentukan apakah kiriman artikel di Voxpop bisa tayang atau tidak.

Jauhari itu keren, karena beliau langsung bekerja keras untuk menyunting tulisan – yang diputuskan tayang – menjadi layak dibaca dan segar. Gimana, mantap kan cara saya melobi supaya tulisan ini bisa tayang? Iya lah, gueee…