Aku Belanja di ‘Minimarket’, Maka Aku Ada

Aku Belanja di ‘Minimarket’, Maka Aku Ada

Ilustrasi (npr.org)

Dunia dalam keadaan gaduh. Korea Utara mati-matian menguji nuklirnya. Walau gagal, tapi Amerika dan negara-negara terdekat yang kontra dengan Korut pun meradang. Mereka khawatir kalau ujicoba itu berhasil, maka mereka yang dijadikan bidikan selanjutnya.

Sementara Rusia dan Tiongkok sama-sama mengintip dari belakang. Sambil memicingkan mata satu sama lain. Dengan tangan yang siap meletupkan bedilnya masing-masing. Masyarakat dunia ikut merasakan kegundahan akan meletusnya kembali perang dunia jilid baru. Yang kalau diepisodekan menjadi perang dua ketiga (edisi tamat).

Negeri ini sama pula, masih saja dalam suasana gaduh. Padahal, Pilkada Jakarta sudah usai. Apalagi Ahok sudah divonis bersalah oleh hakim dengan hukuman dua tahun. HTI yang biasanya turun ke jalan, juga sudah dibubarkan. Sehingga jalan-jalan raya akan sepi dari teriakan khilafah dan syariat Islam. Tapi kegaduhan itu masih saja terasa dan menancap kuat.

Mau menenangkan diri dengan cara membaca status teman atau browsing berita kekinian? Eh, nyatanya malah ikut terbakar hawa panas. Inginnya tenang, ternyata tambah meradang tatkala ikut berkomentar sedikit kontra, lalu mendapat cacian. Biasanya cacian itu berujung pada pendelegasian kita sebagai antek kapirin, munafikun, pro-aseng, komunis, dan lain sebagainya.

Oh, pasti tempat ibadahlah yang bisa menjadi sarana menenangkan diri. Maunya seperti itu. Tapi ketika mengetahui realitas beberapa masjid sejak Pilkada Jakarta yang diikut-ikutkan sebagai arena bertarung politik, boleh jadi kita berpikir beberapa kali.

Tentu bukan atas pengaruh bangunan masjidnya. Namun karena ulah para pemangku masjid yang tidak sadar bahwa siapapun yang berkunjung ke masjid itu ingin menenangkan diri, bertafakkur dan tidur siang, bukan berkampanye politik.

Situasi-situasi di atas janganlah dijadikan penyebab anda menjadi sedih. Tidak perlu anda berputus asa tingkat kademangan. Jangan, anda tak usah putus asa gara-gara sulit mencari ketenangan batin di zaman yang penuh benturan ini. Sebab sebenarnya, masih ada beberapa lokasi yang bisa dijadikan area relaksasi. Bahkan asketis spiritual.

Salah satu yang bisa direkomendasikan adalah minimarket. Sebuah jenis usaha ritel yang kini dibangun terus menerus, bahkan sampai di desa yang ada di lembah gunung.

Kok bisa ya, padahal minimarket kan sebuah produk kapitalisme global? Padahal, mereka adalah bentuk nyata usaha para pemodal besar yang tidak menggubris pasar tradisional? Padahal, mereka kan menjual barang dengan harga yang bisa jadi lebih mahal?

Bolehlah pertanyaan padahal-padahal tersebut anda ajukan sebagai sebentuk protes, keprihatinan, dan kedongkolan melihat semakin menjamurnya jumlah minimarket. Tapi sadarlah, jika kita ini sebenarnya pelanggan mereka. Walau tanpa member card dan malu-malu untuk mengakuinya.

Contohnya sepele. Ketika dalam perjalanan ke suatu tempat, di tengah perjalanan itu kita berpapasan dengan sebuah minimarket. Tiba-tiba muncul begitu saja sebuah dorongan perasaan yang kuat untuk membelokkan kendaraan dan parkir di depannya. Kemudian masuk dan cuma beli air mineral atau sebungkus rokok. Padahal, tidak ada rencana awal untuk mampir berbelanja.

Dorongan yang kuat atau perasaan yang mudah terpengaruh, pastilah tidak lahir begitu saja. Ia muncul dari sebuah situasi yang mampu membuat diri kita dipenuhi ketenangan, ketentraman, dan keteduhan. Agaknya memang seperti itulah yang dipamerkan para minimarket kepada kita.

Gambaran tentang situasi menenangkan tersebut sangatlah faktual. Dimulai saat kita melihat dari luar bangunan minimarket. Betapa penataan display barang yang begitu teratur. Begitu rajin, rapi, apalagi ditambah dengan pencahayaan yang luar biasa terang. Sungguh ‘nur minimarket’ sanggup membuat kegelapan menjadi terang benderang.

Kemudian kita mendorong pintu dan masuk ke dalam ruang indah itu. Saat semeter saja kita melangkahkan kaki, sudah disambut dengan sapaan yang menenangkan jiwa, “Selamat datang, selamat berbelanja.” Dilambari senyuman mengulum di bibir para ‘marbot’ minimarket tersebut.

Hasilnya sungguh luar biasa, sapaan menenangkan jiwa tersebut seperti menegaskan bahwa mereka itu saudara sendiri. Ada semangat ukhuwah yang sangat kuat yang ingin mereka berikan kepada kita. Sebuah tawaran yang mereka berikan bahkan sebelum adanya pilkada yang menyesakkan sebagian orang.

Semangat ukhuwah itupun membuat suasana di dalam minimarket begitu teratur. Para pengunjung hampir tidak ada yang mengeraskan suaranya. Mereka tenang, tumakninah, ketika mencari beberapa barang yang akan dibelinya. Bahasa tubuh mereka terlihat tidak gopoh, santei…

Ketika nampak beberapa pengunjung yang kebingungan, para ‘marbot’ minimarket sangat cepat merespon. Mereka secepat kilat mendatanginya lalu berkata, “Bapak atau ibu mau mencari apa?” atau “Apa perlu kami bantu?”

Sebuah sikap tolong menolong yang begitu jelas mereka praktikkan. Sebagai manifestasi utama dari ukhuwah kemanusiaan. Yah, meski bermodus komersial, tapi kan kalau kita tidak jadi beli tak mengapa.

Nah, sikap para ‘marbot’ minimarket itu berpengaruh pada saat pelanggan selesai berbelanja. Mereka rela antre dengan sabar untuk membayar belanjaannya kepada kasir yang juga sabar melayani. Hampir tidak pernah terjadi penyerobotan.

Mereka taat pada aturan antre bahwa yang datang lebih dulu, dialah yang paling awal mendapat pelayanan. Mereka melakukan antre dengan sabar tersebut pasti didasari kesadaran yang jujur, bukan kesadaran palsu.

Dari rangkaian proses mulai masuk minimarket sampai pelanggan membayar ke kasir, ritual itu terasa sempurna ketika ditutup oleh si kasir dengan kalimat, “Bapak atau Ibu, apa boleh sisa uang receh kembalian ini didonasikan untuk sosial?” Luar biasa, betapa sampai urusan kemanusiaan bagi rakyat miskin dan urusan akhirat bagi para pelanggan, sangat mereka perhatikan.

Semakin lengkap ketika semua ritualitas penuh nilai spiritualitas langit itupun dipamungkasi dengan kalimat bijak penuh doa, “Terima kasih, semoga anda puas.” Walhasil, kalimat ini berhasil membuat ketenangan batin kita begitu lengkap. Di awal kita sudah ditenangkan, di tengah juga tenang, dan ditutup dengan akhiran yang tenang pula.

Saya katakan, bahwa semua yang terjadi itu sebagai etika minimarket. Etika yang memaksa kita menjadi manusia taat aturan, tidak sombong, tidak gaduh, tepa slira, menghormati harkat sesama, dan lain-lainnya. Sehingga membuat semua pengunjung tidak menjadi manusia buas, liar, dan kejam kepada manusia lainnya.

Akhirnya, keberhasilan mempraktikkan etika ini sangat berpengaruh kuat pada spirit berbelanja para pelanggannya. Mereka ikhlas membeli barang yang dijual minimarket, bahkan dengan kuantitas yang selalu bertambah. Awalnya hanya kepingin beli satu, tapi karena ketenangan batin yang dihadirkan, akhirnya menjadi beli dua, tiga, empat, dan seterusnya.

Jujur harus diakui bahwa fenomena tentang praktikum etika minimarket yang penuh keteduhan dan ketenangan, kemudian berhasil meningkatkan spirit berbelanja masyarakat. Ini menunjukkan bahwa doktrin filsafat Rene Descartes tunduk dengan teori sosial Max Weber yang lebih muda.

Dulu, memang benar bahwa “Aku berpikir, maka aku ada”. Tapi kini semua berubah menjadi “Aku berbelanja, maka aku ada”. Wabil khusus: “Aku belanja di minimarket, maka aku ada”.