Gaya Hidup Minimalis yang Maksimalis Lagi Ngetren sebagai Lawan Setimpal Budaya Konsumerisme

Gaya Hidup Minimalis yang Maksimalis Lagi Ngetren sebagai Lawan Setimpal Budaya Konsumerisme

Ilustrasi (YesManPro/pexels.com)

Jika mendengar kata minimalis, apa yang muncul dalam pikiran Anda? Ya, kata itu sering bergandengan dengan kata rumah minimalis, make up minimalis, dan berbagai hal yang serba minim.

Dari beberapa suku kata itu bisa kita simpulkan bahwa minimalis adalah kondisi kekurangan. Rumah minimalis misalnya, identik dengan rumah yang dibangun di atas tanah yang berlahan sempit. Artinya, rumah minimalis adalah desain rumah yang memaksimalkan fungsi ruangan.

Rumah minimalis adalah tema yang dikeluarkan oleh para arsitek sebagai respons dari berkurangnya ketersediaan lahan dan dana, namun ingin memiliki rumah. Rumah minimalis adalah jalan keluar yang tepat bagi mereka yang ‘kekurangan’.

Tapi, apakah minimalis itu memang identik dengan kondisi yang kekurangan?

Well… Saya pernah menonton video di Youtube yang memperkenalkan tren hidup minimalis. Judul videonya adalah “Tren hidup minimalis lawan arus konsumerisme”. Video yang berdurasi kurang lebih 3 menit itu berisi tentang kehidupan komunitas minimalisti.

Komunitas tersebut mengenal motto ‘semakin sedikit barang, makin baik’. Hidup dengan barang minimal. Dalam video pendek itu terdapat tiga narasumber yang menganut tren hidup minimalis. Mereka berasal dari Jerman. Mereka bernama Mimi, Michael Cassau, dan Mike Kotsch.

Mimi adalah seorang seniman yang baru dua tahun lalu memulai hidup minimalis.

Mimi: “Awalnya saya tidak sadar, hidup seperti ini ada namanya dan ini adalah sebuah gaya hidup. Saya merasa saya ingin mengubah hidup saya, ingin mengurangi.”

Narator: “Hanya sedikit barang atau tidak memiliki barang sama sekali, caranya dengan menyewa. Ini adalah sebuah gaya hidup alternatif dan ini sebenarnya sudah ada sejak lama di Jerman. Banyak orang sekarang yang menyewa mobil dan merasa tidak perlu memiliki mobil. Lalu, mengapa tidak melakukan cara itu dengan barang-barang yang lain?”

Selanjutnya Michael Cassau. Ia adalah seorang pendiri start up yang menyewakan peralatan elektronik di Berlin.

Michael: “Sebagai konsumen lebih efisien menggunakan produk selama diperlukan. Jadi bayarnya per bulan lebih murah, memasarkan itu di Jerman dan di seluruh dunia, mendekatkan dengan konsumen.”

Narator: “Barang yang terbaru dan yang terbaik, itu yang diinginkan oleh pelanggan.”

Sekarang Mike Kotsch. Ia adalah lelaki berusia 31 tahun yang ingin selalu menggunakan peralatan elektronik terbaru. Kalau bisa disewa, tentu lebih baik lagi. Pada hari itu, dia menyewa robot penghisap debu. Robot terbaru ini bisa membersihkan apartemen secara mandiri.

Mike: “Teknologi berkembang pesat, tidak perlu lagi beli. Kalau beli malah nanti kita memiliki barang yang sudah ketinggalan zaman.”

Narator: “Mike harus menyewa setidaknya selama satu bulan dan dia merasa tidak menyesal untuk membayar barang yang tidak akan menjadi miliknya.”

Sementara itu, bagi mimi, yang terpenting bukan barang baru. Sepeda yang digunakannya adalah sepeda tua, bahkan gaya berbelanjanya tidak kekinian. Mimi senang berbelanja di toko-toko kecil. Barang-barang tidak dibungkus plastik, semuanya lebih ramah lingkungan. Itu yang terpenting.

Dari situ, apa yang bisa Anda simpulkan tentang gaya hidup minimalis? Gaya hidup kekurangan kah? Atau, justru Anda memiliki perspektif lain tentang gaya hidup minimalis?

Tren hidup minimalis adalah satu pilihan di antara berbagai pilihan gaya hidup. Bisa dikatakan gaya hidup minimalis adalah wacana tandingan dari gaya hidup konsumerisme.

Tren hidup minimalis dapat didefinisikan sebagai gaya hidup karena para komunitas minimalis ini memiliki perilaku yang menunjukkan sesuatu ketertarikan dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitarnya.

Pada awalnya, saya berpikir bahwa gaya hidup minimalis diperuntukkan bagi mereka yang kekurangan, mereka yang ingin berhemat, dan tidak tahan dari serbuan budaya konsumerisme.

Tapi setelah menonton videonya, ternyata mereka yang menganut gaya hidup minimalis memiliki beragam perspektif dan tentunya disesuaikan dengan latar belakang profesi mereka.

Latar belakang menjadi hal penting yang harus dipahami, karena perilaku mereka merupakan cerminan dari respons mereka terhadap sesuatu, yaitu tentang kepemilikan barang dan fungsi barang.

Selain pikiran mereka tentang fungsi dan kepemilikan barang, hal lain yang patut diperhitungkan adalah ketertarikan mereka terhadap gaya hidup minimalis. Alasan-alasan inilah yang harus diungkap.

Mimi yang berprofesi sebagai seniman memilih gaya hidup ini dengan alasan lingkungan, lebih ramah lingkungan, suka dengan hal-hal ‘tempo dulu’.

Artinya, Mimi tidak suka dengan hal-hal pembaruan. Dia lebih memilih hidup dengan barang-barang lama yang masih berfungsi dan memiliki fungsi yang sama dengan barang yang baru. Mimi akan menyewa barang, jika tidak memiliki barang yang tidak lagi berfungsi.

Sedangkan Mike memilih untuk bergaya hidup minimalis karena latar belakang dia sebagai teknisi. Dia suka dengan kecanggihan dan perkembangan teknologi.

Dia memilih untuk menyewa karena tidak ingin memiliki barang yang ketinggalan zaman. Dengan menyewa, Mike akan selalu menggunakan barang yang up to date. Tentunya dengan fungsi barang yang juga makin optimal.

Mereka memiliki alasan dan style yang berbeda, meskipun sama-sama menganut gaya hidup minimalis.

Yang perlu digarisbawahi adalah mereka menggunakan barang sesuai kebutuhannya, sesuai fungsinya, bukan karena nilai tanda yang membuat mereka jadi prestise.

Mereka juga tidak peduli dengan kepemilikan barang. Mereka justru lebih memilih untuk menyewa. Hal ini dilakukan agar mereka bisa terus memaksimalkan fungsi barang yang sudah ada dan tidak membuat barang menjadi ‘sampah’.

Berbeda dengan masyarakat konsumerisme. Mereka menggunakan barang bukan karena nilai fungsinya, melainkan nilai tandanya yang mana akan berpengaruh pada strata sosial dan ‘nilai kepercayaan diri’ atau bahkan ‘harga diri’.

Kita bisa membandingkannya dengan para komunitas tas Hermes. Mereka memiliki tas tersebut bukan karena fungsinya, melainkan karena lambang dan merek dari sebuah tas.

Harga yang mahal membuat para komunitas tas Hermes terkadang tidak mampu mengikuti gaya hidupnya. Karena itu, ada kedai khusus yang menyewakan tas Hermes hanya untuk sekadar ajang pamer para sosialita.

Kepemilikan barang menjadi sangat penting bagi penganut budaya konsumerisme karena semakin banyak barang yang dimiliki, maka semakin tinggi pula penghargaan diri. Terlebih itu adalah merek-merek mewah nan eksklusif.

Beda banget kan gaya hidup konsumerisme dengan gaya hidup minimalis? Penganut budaya konsumerisme akan menyewa barang karena kekurangan biaya untuk unjuk prestise. Berbeda dengan kaum minimalis yang lebih memilih sewa barang, karena alasan tidak ingin menyia-nyiakan barang.

Jadi, minimalis tidak identik dengan kondisi kekurangan, tepatnya lebih memaksimalkan fungsi barang. Ideologi para penganut gaya hidup minimalis inilah yang mendorong mereka berperilaku demikian.

Anda ingin mencoba?