#MeToo, karena Kita Harus Berhenti Terbiasa pada Penjahat Kelamin

#MeToo, karena Kita Harus Berhenti Terbiasa pada Penjahat Kelamin

Asia Argento bersama pasangannya (usmagazine.com)

Asia Argento, seorang aktris asal Italia menggugat Harvey Weinstein, seorang pembesar Hollywood, dengan tuduhan pemerkosaan. Selanjutnya, selusin aktris terkenal lain, mulai dari Angelina Jolie hingga Gwyneth Paltrow, angkat bicara dan mengungkapkan pelecehan yang terjadi pada mereka.

Beberapa hari kemudian kampanye tagar #MeToo viral di mana-mana. Jutaan perempuan ikut membagikan cerita pelecehan yang mereka alami dengan tagar #MeToo. Membuktikan bahwa tak ada yang imun dari pelecehan.

Hidup sebagai perempuan di dunia yang begitu mengglorifikasi penjahat kelamin memang tidak pernah mudah. Bahkan bertambah-tambah sulitnya ketika seorang presiden negara adidaya jelas-jelas berbangga hati menjadi pelaku pelecehan, dan dengan santainya berbicara di depan publik soal kejahatan yang dia lakukan.

Di Indonesia, seorang sastrawan melenggang kangkung begitu saja dari kasus pemerkosaan yang dia lakukan, bahkan terkesan dibela oleh salah satu media nasional. Tahun lalu, seorang oknum dosen juga terbukti melakukan kejahatan seksual, dan hanya mendapatkan hukuman yang tidak setimpal. Bahkan pekan lalu, kita juga dihebohkan dengan perkosaan terhadap bocah berusia 7 tahun.

Kejahatan seksual memang tak mengenal usia. Kita tidak terbiasa melihatnya sebagai kejahatan, dan cenderung longgar kepada para penjahat kelamin ini.

#MeToo

Usia saya baru 11 tahun, kelas 6 SD, ketika pertama kali mendapatkan kejahatan seksual. Seorang laki-laki berlari ke arah saya, lalu mencengkeram payudara yang bahkan belum ada, kemudian kabur.

Saat itu, saya cuma anak kampung yang bingung, belum memahami perihal kejahatan seksual, dan tak mengerti kenapa dia harus mencengkeram dada saya. Selain rasa sakit secara fisik, saya tidak memahami apa yang baru saja terjadi.

Kejadian tersebut terjadi hanya beberapa meter saja dari gerbang belakang sekolah, pagi-pagi betul pada hari Senin. Namun, ketika saya melapor kepada Ibu Ros, guru kelas 6 kala itu, dia tak menggubris. Dia hanya sepintas menghiraukan, lalu menyuruh saya masuk kelas karena lonceng sudah berbunyi.

#MeToo

Usia saya mungkin 13 tahun. Sebagai murid SMP Muhammadiyah, kami harus mengenakan seragam panjang yang longgar agar tidak membentuk lekuk tubuh, dan jilbab yang menutupi dada.

Katanya pakaian semacam ini bisa menghindari kejahatan seksual. Apalagi dalam banyak kasus pemerkosaan, masyarakat, media, dan pengadilan sering berkomentar soal pakaian seksi yang dikenakan korban.

Saya masih mengenakan seragam sekolah yang panjang dan longgar itu saat seorang kernet bus meraih dan mencengkeram payudara saya. Kejadian itu terjadi ketika saya berdiri di pinggir jalan protokol, di tempat yang begitu terbuka, di tengah ruang publik.

Saya cuma anak perempuan ingusan dan bau matahari yang baru pulang sekolah. Tak ada yang menolong saya.

#MeToo

Saat SMA lebih mengerikan lagi, seorang laki-laki mendatangi bilik warnet yang sedang saya gunakan, dan bertanya apakah saya bisa memberikan seks oral.

Saya ingat betul hari itu menggunakan celana panjang, kaos longgar biru muda, dan berjilbab panjang hingga ke pinggang. Apa-apaan ini? Padahal, saya sudah mengenakan pakaian yang katanya bisa menghindar dari pelecehan.

Saya tak hendak menggugat masalah pakaian. Toh, mana pernah pakaian jadi penentu seseorang dilecehkan atau tidak? Lagipula, menyalahkan pakaian sama saja dengan melecehkan kemampuan laki-laki mengontrol hasratnya. Kok yo sebegitu lemahnya, sama pakaian saja kalah.

Yang hendak saya gugat adalah ketidakpahaman tentang pelecehan seksual dan keterbiasaan kita atas pelecehan.

Kejahatan seksual adalah masalah mental dan keterbiasaan. Sebagaimana Ibu Ros yang menyuruh saya diam dan masuk kelas, masyarakat terbiasa membungkam, mengabaikan, dan membiasakan kejahatan seksual.

Seorang pengemudi taksi yang saya temui malah jelas-jelas mengatakan saya seharusnya merasa bangga kalau ‘digoda’ dijalanan. Katanya, yang mereka lakukan bukanlah melecehkan, laki-laki hanya ‘menggoda’ perempuan cantik dan menarik.

Padahal, si bapak juga jelas-jelas mengatakan bahwa marah kalau anak perempuannya dilecehkan di jalanan. Bahkan, dia mengajarkan anak laki-lakinya untuk menghajar dan memberi pelajaran kepada orang-orang yang melecehkan pacarnya. Nah loh, tadi katanya kudu bangga?

Kejahatan seksual ini, sudah dibiarkan, dibiasakan, lalu dinegasi pula ketika terjadi. Tenang, kamu tidak sedang jadi korban kejahatan seksual, kamu hanya sedang dikagumi. Duh, pak…

Ketidaktahuan ini diperparah oleh kultur yang cenderung menabukan pembahasan mengenai seks. Belum lagi kebiasaan menyalahkan korban kejahatan seksual. Ketika seseorang diperkosa lalu yang dibahas pakaian yang dikenakan, kemolekan tubuh, atau perilakunya yang dinilai ‘liar’.

Tak jarang korban perkosaan justru dikawinkan (bukan dinikahkan karena di Indonesia adanya undang-undang perkawinan, bukan pernikahan) dengan penjahatnya.

Jangankan mau berbicara soal kejahatan seksual, pembahasan soal seks saja melulu dipandang jorok, haram, tabu, dan tidak pantas. Orang tua dan guru-guru gagap membahas seks dengan anak muda. Pejabat pemerintah juga plonga-plongo saja kalau sudah urusan seks.

Bahkan tahun lalu, seorang pejabat Kemendikbud dengan mantap mengatakan bahwa pendidikan seks sudah masuk kurikulum SMA. Padahal, kita semua sudah tahu pendidikan seks yang dimaksud sekadar soal reproduksi dalam pelajaran biologi, yang cuma seujung kuku dari masalah pendidikan seks.

Banyak orang yang berasumsi bahwa pendidikan seks ini melulu masalah belajar mengenakan kondom, dan perihal masuknya penis ke vagina. Padahal, pendidikan seks yang komprehensif lebih dari dua hal tersebut.

Sesuai dengan usianya, pendidikan seks bisa dimulai dengan memahami apa itu alat kelamin, membersihkan alat kelamin, sampai menghindarkan orang lain menyentuh anak kelamin anak.

Seperti saya yang kebingungan saat kelas 6 SD dan tidak paham mengapa memegang payudara orang lain itu salah, bagaimana mungkin anak bisa bereaksi dengan benar ketika kejahatan seksual terjadi jika tak pernah ada percakapan mengenai hal tersebut? Hal ini kemudian berlanjut hingga dewasa. Kita terbiasa dibungkam sedini mungkin.

Jangankan bicara soal hubungan seks, mungkin banyak orang tua yang gagap dan tak pernah memberi penjelasan komprehensif mengenai apa itu menstruasi atau mimpi basah, apa penyebabnya, mengapa mendapat menstruasi, bagaimana membersihkan alat kelamin saat menstruasi, apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh, apapun lah.

Padahal hal tersebut adalah hal-hal mendasar. Bagaimana mungkin kita bisa mendefinisikan pelecehan seksual dan kekerasan seksual, jika yang dasar-dasar saja tidak tahu?

Sebab itu, kita harus mulai bicara soal seks dari sekarang, dengan anak kita, dengan ibu, kakak, adik, pasangan, teman, sesuai dengan kapasitas dan tingkatannya masing-masing. Kita harus mulai terbuka dan berhenti mengharamkan pembicaraan penting ini.

Dengan berbicara saja kita sudah selangkah lebih maju untuk mengidentifikasi dan menghentikan penjahat kelamin. Kita harus menolak diam atas kejahatan seksual. #MeToo

  • Dylan Daniswara Santosa

    Wah bisa gitu ya gan

  • Kevin Kurnia

    makjleb tulisannya gan, tapi masa iya bilang “hi cantik” sm perempuan itu bisa masuk pelecehan. Ya klo mmg menurut eike cantik, terus gmn caranya mengungkapkan perasaan yg tersimpan di dalam sanubari itu ya? asyikk..

    • Del

      Jangan bilang begitu sama perempuan yg lo ga kenal (misal, papasan dg perempuan cantik yg lo ga kenal di jalan). Kesannya creepy dan malah bikin takut. Tingginya risiko harassment terhadap cewek itu bikin kami takut dan ga nyaman/risih dgn pujian dari orang yg ga kenal, walaupun hanya verbal. Tapi kalo teman yg udah kenal, kalo niatnya tulus memuji cantik ya nggak apa2. Terus, lo mungkin mikir, kalo pengen kenalan sama cewe cantik tapi ga kenal gmn dong? Sapa saja baik2. “Hai, maaf kalo ganggu atau terkesan serem. Aku cuma mau kenalan aja. Boleh kenalan ngga?” Kalo boleh, ya bersyukur, tapi kalo ngga, jangan maksa. Kalo udah kenal, pujian cantik ga kedengeran serem lagi. Sejujurnya cewe bakal lebih respect sama cowo sopan daripada yg manggil2 “hi cantik” di jalanan padahal ngga kenal.

  • Edi Junaedi

    Mantap tulisannya saya setuju ,, pelecehan seksual sering di anggap sebagai hal yang biasa dan tabu untuk di bicarakan , sehingga kebanyakan korban akan merasa malu dan risih untuk melawan , fenomena kejahatan seksual di indonesia sangat memprihatinkan bukan hanya sekedar pelecehan seksual terhadap perempuan dewasa, tapi juga kejahatan seksual pada anak anak, laki2 maupun perempuan bahkan balita, ada juga terhadap anak kandung ,mmm sungguh miris memang ,, harus ada peran aktif dari pemerintah untuk memberangus tradisi amoral ini , bukan hanya sekedar memulihkan mental korban tetapi juga harus ada tindakan hukum yang berat dan tegas untuk menjerat si pelaku ,,
    Untuk kaum perempuan , Jangan di anggap biasa pelecehan seksual ,jika di biarkan akan menjalar ke korban lainnya, permalukan pelakunya karena bukan anda yang seharusnya malu ,,

  • Asri H. Swasti

    saya sebagai seorang perempuan juga pernah mengalami pelecehan seksual sejak sd. benar bahwa ketidaktahuan saya tentang edukasi seks membuat saya bingung dan tidak tahu harus bertindak tepat ketika pelecehan terjadi pada saya. dengan makin banyaknya tulisan-tulisan tentang pelecehan seksual seperti ini, saya sangat berharap ada perubahan yang terjadi untuk tidak melanggengkan “rape culture” dan semakin membuka mata kita bahwa pendidikan seks perlu diajarkan sejak dini kepada laki-laki dan perempuan. satu hal yang perlu diingat adalah, perempuan bukan objek seksual. mulailah menghormati perempuan dengan menyadari bahwa perempuan juga manusia yang setara dengan laki-laki.
    #metoo