Tak Perlu Nyinyirin Orang yang Tidak Empati dengan Mesir

Tak Perlu Nyinyirin Orang yang Tidak Empati dengan Mesir

Bendera Mesir (deathpenaltynews.blogspot.co.id)

Tak ada tagar #IStandforEgypt atau #PrayForEgypt di linimasa. Sungguh aneh. Mesir, negeri para Firaun tersebut baru saja mengalami teror paling keji sepanjang 2017. Bahkan mungkin teror terbesar dalam satu dekade.

Apakah karena Mesir adalah bagian dari dunia ketiga? Atau, apakah Mesir adalah salah satu kota yang tak ramah bagi perempuan, sehingga wajar media sosial tak harus berpihak?

Yang pasti, apa yang terjadi di Mesir adalah tragedi kemanusiaan. Katanya kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana.

Sebuah bom meledak disertai penembakan sangat brutal terjadi di sebuah masjid yang letaknya di Sinai Utara, Mesir. Menewaskan setidaknya 305 orang dan 120 lainnya luka-luka. Yang mengerikan 27 di antaranya adalah anak-anak.

Anak-anak hanyalah korban dari kebiadaban sebuah kelompok. Entah itu kelompok ‘radikal’ atau ‘militan’. Yang jelas, kelompok tersebut sangat mengerikan.

Mereka bersuka ria dengan menembaki orang-orang setelah menunaikan ibadah Sholat Jum’at. Kelompok macam apa yang tega melakukan kekejian saat orang lain sedang mengadu kepada Sang Pencipta?

Memang sampai saat ini belum diketahui siapa yang melakukan kekejian tersebut. Sinyalir terdekat mengarah ke Ikhwanul Muslimin atau Al Qaeda. Namun, kedua kelompok tersebut justru mengutuk apa yang terjadi di Sinai Utara.

Lalu siapa yang melakukannya? Hal rasional yang paling memungkinkan jawabannya adalah ISIS. Ya, kelompok tersebut tidak mengklaim bertanggungjawab atas peristiwa tersebut. Namun, di sisi lain, ISIS tak menolak jika dikaitkan dengan perlakuan keji tersebut.

Jika memang ISIS melakukannya, apa motifnya? Apa karena masjid tersebut adalah tempat berkumpulnya sufi yang dalam pandangan mereka boleh dikatakan bid’ah? Atau apakah mereka memang melakukannya demi sebuah eksistensi diri?

Jika alasan kedua yang menjadi pernyataan benar, mari kita ramai-ramai mengutuknya. Kita bahkan harus memberi ultimatum secara keras.

Kelompok tersebut dengan lihai meneriakkan kalimat takbir sebelum melepaskan tembakan mematikan. Siapa saja yang saat itu masih berdiri, sudah pasti menjadi korban tewas. Mengerikan.

Lalu apa guna kalimat takbir? Apakah itu adalah legitimasi atau sebuah justifikasi untuk melakukan pembunuhan?

Sungguh, kalimat takbir seakan menjadi makna yang peyoratif. Kalimat yang seharusnya sakral diucapkan ketika hari kemenangan kini justru berubah menjadi perilaku kekejian.

Tentu, kita tak hanya menjumpai kalimat tersebut di Mesir. Indonesia, salah satu negara mayoritas muslim pun mengalami hal serupa.

Kalimat takbir seakan menjadi kalimat pembenaran. Digunakan untuk melakukan eksekusi sekaligus persekusi. Tentu, itu digunakan sebagai legitimasi ‘kemenangan’ mereka.

Lantas, jika mereka menganggap itu sebuah kemenangan, apakah korban menganggap kalimat tersebut menjadi sebuah kalimat keji?

Bisa jadi.

Saya tak menampik beberapa teman seakan tampak ngeri jika mendengar kalimat tersebut. Apalagi setelah itu ditambahkan dengan kalimat ‘bunuh’, ‘bakar’, ‘bungkam’.

Beruntung, di Indonesia tak sampai ada peristiwa pembunuhan. Sekeras-kerasnya teriakan tersebut paling banter hanya sampai level pengucilan atau yang mengerikan sampai pengusiran.

Dan, itu jamak terjadi di Indonesia.

Bagaimana dengan Mesir? Pembunuhan merupakan hal yang ‘biasa’. Terlebih dalam empat tahun terakhir ini.

Korbannya tak hanya kaum minoritas yaitu Kristen Koptik, melainkan juga kaum mayoritas seperti kaum Muslim. Tak hanya polisi atau tentara yang menjadi korban melainkan ulama pun menjadi tawanan.

Yang mengerikan adalah kelompok tersebut melakukan penawanan terhadap ulama hanya karena masalah ‘pemahaman’ yang berbeda. Jika ulama tak sanggup memenuhi permintaan kelompok tersebut maka hasilnya lebih mengerikan. Pembunuhan.

Kejam? Iya. Tak punya hati nurani? Jelas. Lalu merasa benar? Sudah pasti. Dan, ini yang jelas membahayakan bagi generasi muda selanjutnya.

Bagaimana jika kaum muda baik di Mesir maupun Indonesia mendengarkan sebuah kalimat yang bisanya digunakan untuk memuji Sang Pencipta, namun terdengar seperti kalimat legitimasi untuk perlakuan tidak baik?

Inilah yang sepatutnya dikhawatirkan. Kita tak bisa mengelak bahwa ada pergeseran makna. Kita tak bisa bertindak, jika ada peningkatan tindakan. Yang ada, seringkali kita diam. Tak berani bergerak lebih banyak.

Saya khawatir. Dan, mungkin kamu merasakannya juga. Akan ada suatu saat dimana berkumpulnya massa untuk bergerak dalam satu komando memekikkan kalimat tersebut. Bukan untuk merayakan hari kemenangan, melainkan untuk melahirkan sebuah negara baru.

Melegalkan segala cara demi kebenaran sekelompok kaum, apalagi dengan menggunakan kalimat agung, sungguh merupakan bias pergerakan sekaligus makna.

Saya tak habis pikir. Mengapa mereka dengan mudahnya menggunakan kalimat tersebut demi alasan pembenaran untuk melakukan tindakan yang justru melahirkan kebencian?

Kasihan, jika ada sekumpulan manusia yang memang bergerak melakukan takbir dengan tulus dan ikhlas, mengadu kepada Sang Pencipta sembari berkeluh kesah, namun kini dianggap aneh dan berbeda.

Miris, jika ada sekumpulan manusia yang melakukan takbir karena merayakan kemenangan atau kesenangan setelah meraih hasil yang baik atau kado terindah, namun kini dianggap melakukan tindakan persekusi.

Sungguh, jika tak ada media sosial yang mencantumkan “tolong bantu kami dengan mengganti logo Mesir di profil kamu”, mari kita giatkan perlawanan daripada nyinyirin orang yang tidak berempati.

Nah, karena kata adalah senjata, maka sebaik-baiknya melawan adalah menggunakan tulisan. Sebarkan kebenaran dengan keragaman. Karena keragaman adalah kunci untuk menghormati perbedaan. Sederhana kan?

Salam perdamaian…