Merayakan HTI dan Ahok
CEPIKA-CEPIKI

Merayakan HTI dan Ahok

Ilustrasi (businessinsider.co.id)

Buat yang masih jomblo, saya kasih tahu, mempertahankan sebuah hubungan itu dibutuhkan seni, terutama ‘seni memuji’. Banyak sekali contoh untuk ini. Misalnya, akan ada hari ketika pasangan kita datang dengan baju kuning menyala dan celana jin hijau pupus lalu nanya, “Aku cakep gak?”

Dibilang cakep, kita dosa. Dibilang gak cakep, kita diputusin. Di sinilah kemudian seni memuji itu berguna.

“Cakep sih, tapi kayaknya lebih cakep kalau pakai jaket. Baju kuningnya ketutup jaket, dan nanti kamu gak usah turun dari mobil ya…”

Bapak saya juga maestro dalam hal ini, tapi karena beliau tidak terlalu kreatif dan jarang ngomong, dia biasanya cuma memuji kami dengan cara membuat perayaan. Biasanya dengan makan-makan, bisa di warung padang atau di lesehan pinggir jalan. Kami menyebutnya ‘makan di luar’.

Kalau adik saya dapat ranking bagus, beliau akan mengajak kami makan di luar. Saya, yang jarang dapat ranking, standarnya agak diturunkan. Kalau di rapor saya ada satu saja nilai delapan, maka kami akan makan di luar.

Bahkan kalau absen saya kurang dari tiga hari, kami juga akan makan di luar. Termasuk ibu saya, yang tidak bisa masak, lalu suatu hari mengumumkan kalau dia berhasil meniru masakan koki di tivi, bapak saya juga akan memujinya:

“Hebat, Mailaf, ini harus kita rayakan dengan… makan di luar.”

Seandainya seluruh keluarga di Indonesia punya kebiasaan seperti keluarga saya, dan bapak-bapaknya sesederhana bapak saya, maka dunia kuliner kita saya rasa akan maju. Karena hari-hari belakangan ini banyak sekali hal yang patut kita rayakan. Tentu saja, dengan makan di luar.

Yang pertama, sebanyak 58% pemilih di Jakarta akan makan di luar karena pasangan yang didukungnya, Pak Anies dan Pak Sandi, sudah dinyatakan sah sebagai pemenang pilkada. Apakah itu berarti sisanya 42% akan diam di rumah sambil ngemut-ngemut kancing baju kotak-kotaknya karena Pak Ahok dan Pak Djarot kalah? Perkiraan saya tidak.

Aksi pendukung Ahok-Djarot yang beramai-ramai mengirim karangan bunga ke balai kota sangat fenomenal. Media dalam dan luar negeri meliputnya dan tidak ada yang tidak takjub dengan itu. Kecuali, Pak Fadli Zon mungkin. Beliau memang agak susah dibuat takjub. Mungkin cuma supaya beliau gak sering-sering bikin perayaan aja. Biar ngirit. Mungkin.

Tapi aksi mengirim karangan bunga itu kan membanggakan, setidaknya buat teman-teman Pak Ahok. Setidaknya mereka bisa menyusupkan kata-kata penghiburan seperti ‘kalah terhormat’ atau ‘pemenang di hati rakyat’, dan lain sebagainya. Dan semua itu, tentu saja, boleh dirayakan dengan makan di luar. Padahal kan, kalah ya kalah aja.

Kalau begitu berarti 100% pemilih atau bahkan penduduk Jakarta makan di luar semua dong, terus yang jualan siapa? Gak ada, atau bahasa kerennya 0%. Dan itu peluang buat orang luar Jakarta untuk jualan. Persis seperti perumahan dengan DP 0%, yang juga peluang buat pedagang, eh, maksud saya, pengembang.

Hal lain yang bisa dirayakan dengan makan di luar adalah pembubaran organisasi kemasyarakatan HTI. Hizbut Tahrir Indonesia, sodara-sodara, bukan Himpunan Tani Indonesia, apalagi Hubungan Tanpa Ikatan atau Hari Tanpa Istri.

Tentu saja yang akan merayakan hal itu adalah mereka-mereka yang mengaku nasionalis. Yang ‘Pancasila harga mati’ atau yang ‘kalau gak suka Indonesia, pindah aja ke Arab’. Yang menjunjung tinggi demokrasi dan Hak Asasi Manusia, termasuk hak untuk berpendapat dan kongkow-kongkow. Berkumpul, maksud saya. Tidak peduli bahwa pembubaran semacam itu harus lewat pengadilan. Pokoknya dirayakan dulu. Makan di luar dulu.

Tapi ini repot juga sih. Lha, HTI dan teman-temannya kan gak mengakui sistem demokrasi dan HAM yang, katanya, bikinan Barat itu. Simalakama juga ini. Atau, mereka sekarang justru sedang membuat perayaan juga ya, dengan makan-makan buah simalakama?

Yang terakhir, tentu saja, adalah dijatuhkannya vonis 2 tahun penjara untuk Pak Ahok. Ini juga – kalau keluarga-keluarga Indonesia punya kebiasaan seperti keluarga saya – patut dirayakan dengan makan di luar. Bayangkan, bakal ada setidaknya 7 juta orang yang makan di luar.

Berapa ton lele yang harus dipasok oleh Ibu Susi ke warung-warung lesehan di seluruh Indonesia? Berapa meter tenda biru yang harus disediakan oleh siapa pun menteri yang bertanggung jawab ngurusin tenda?

Sisi baiknya, demo yang berjilid-jilid itu akan berhenti. Semua orang akan senang, menurut saya. Yang berdemo tujuannya sudah tercapai, yang tidak demo bisa berhenti mendebatkannya di media sosial.

Pak polisi juga bisa mengerjakan tugasnya yang lain. Menangkap ratusan narapidana yang kabur, misalnya. Bahkan kalau kata saya, Pak Ahok juga ikut senang kok. Lha buktinya, hari ini beliau sudah gak makan di rumah lagi, makan di luar terus…

Tapi ada satu kebiasaan bapak saya yang lupa saya ceritakan. Biasanya, setelah selesai makan-makan, beliau akan bertanya kepada kami, “Bagaimana, puas?”

Mungkin itu juga pertanyaan buat kita semua, yang senang karena jagonya menang pilkada, yang senang karena organisasi yang tidak disukai dibubarkan negara, yang senang karena orang yang dibenci masuk penjara:

“Bagaimana, kalian puas?”