Merayakan Hari ‘Unfriend’ Nasional

Merayakan Hari ‘Unfriend’ Nasional

quotesgram.com

Percaya atau tidak, Hari Unfriend Nasional itu memang ada, atau setidaknya pernah dideklarasikan orang. Adalah Jimmy Kimmel – pelawak Amerika sekaligus pembawa acara Jimmy Kimmel Live! di kanal ABC – yang pada 2010 pernah mengusulkan tanggal 17 November sebagai Hari Unfriend Nasional.

Sekitar 90% teman Facebook kita, menurut Bang Jimmy, bukan teman yang sebenarnya, karena itu seharusnya di-unfriend saja. Ukurannya jelas, kalau anda tidak mau meminjami uang US$ 50 kepada seseorang, maka orang itu layak di-unfriend.

Tak hanya itu, kalau anda tidak pernah punya niat untuk mengundangnya ke pesta ulang tahun anda, maka orang itu boleh di­-unfriend. Kemudian kalau anda tidak merasa sedih ketika orang tersebut mengalami kecelakaan, maka orang itu juga bisa di-unfriend.

Di tempat kita, Hari Unfriend Nasional itu seharusnya dirayakan setiap tanggal 5 November, yang perayaan pertamanya baru digelar pada satu hari setelah aksi 411. Dan, orang yang layak dijadikan Bapak Hari Unfriend Nasional, siapa lagi kalau bukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Karena, sama seperti Fahri Hamzah yang seharusnya dijadikan Bapak Hari Santri, tanpa mereka hari-hari itu tidak akan terjadi.

Banyak alasan yang bisa membuat orang memutus hubungan pertemanan di Facebook atau media sosial lainnya pada masa lalu. Dulu orang melakukannya karena alasan-alasan remeh seperti terlalu narsis, terlalu sering mengunggah foto selfie, foto muka-bebek, foto makan siang, mengajak main game, mencari tahu arti namamu dalam Bahasa Uganda, sampai jualan melulu di akun media sosialnya. Sesuatu yang mungkin, ironisnya, justru kita rindukan pada hari-hari belakangan ini.

Sekarang untuk memutus hubungan pertemanan di media sosial, orang tidak butuh alasan yang beraneka ragam dan macam-macam itu tadi, dia cuma butuh satu alasan saja: pilkada.

Media sosial yang dulu selow belakangan ini memang lagi spanneng, karena semua orang sedang terlalu sibuk dengan politik. Mereka lupa kalau dulu muka-bebeknya begitu ngeselin, makan siangnya tidak ada gunanya buat peradaban, jualannya menuh-menuhin dinding Facebook, dan arti namanya dalam bahasa apapun itu nggak penting.

Beruntung, teman atau karyawan Mark Zuckerberg tidak semuanya orang yang optimis, karena pasti orang optimis di lingkaran Zuckerberg – yang berpikir bahwa tidak ada orang yang tidak suka punya teman baru – yang merancang fasilitas add friend.

Kita harus berterima kasih kepada teman atau karyawan Zuckerberg yang pesimis – yang berpikir bahwa teman juga bisa menyebalkan, bikin kesel, sampai mengganggu – yang kemudian menambahkan fasilitas hide, unfollow, remove, block, sampai report.

Saya ingat masa-masa ketika media sosial menjadi bunker perlindungan, ketika orang masih memakai nama-nama ajaib mulai dari yang puitis seperti kesiur_angin_pemakaman, super alay chepichayankkamoechelallu, sampai yang gagah-gagah seram seperti cepi_si_sempak_malaikat.

Ketika itu, orang ngetroll dengan memakai nama samaran. Walaupun intinya sama, saling ejek dan maki, tapi setidaknya semua orang anonim. Orang marah tapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Dunia maya dan dunia nyata masih ada garis pembatasnya.

Pada titik ini, orang masih berani membuat kesimpulan kalau ujaran kebencian yang begitu masif di dunia maya sebenarnya cuma karena pelakunya anonim. Beraninya cuma di dunia maya. Istilahnya macan di dunia maya, meong di dunia nyata.

Tapi sekarang lain. Orang berani menampilkan identitasnya, berani berdebat dengan keras, dan tidak ragu untuk memutus hubungan pertemanan. Tidak peduli kalau orang itu adalah sahabat lamanya, rekan kerjanya, teman main bulutangkisnya, atau tetangganya.

Orang tidak percaya lagi pada pepatah “Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.” Ini jaman media sosial, Bung. Teman datang dan pergi seperti tukang siomay keliling di komplek perumahan. Patah tumbuh hilang berganti; unfriend satu, nge-add seribu.

Tinggal bikin status kata-kata bijak, kutip Mario Teguh atau tokoh terkenal lain, nanti teman datang sendiri. Kalau toh tidak ada yang sukarela mengajukan permintaan pertemanan, ya beli. Jangan kayak orang susah gitulah.

Kembali ke soal spanneng­-nya media sosial belakangan ini. Di tempat kita, fenomena itu sebetulnya sudah dimulai beberapa tahun lalu ketika pilpres mempertemukan Jokowi dengan Prabowo, dan sekarang kembali mencapai titik didihnya seiring pilkada. Apalagi setelah Bapak Unfriend Nasional tadi bawa-bawa ayat kitab suci, bukan kitab sucinya pula.

Lalu pendukung dari masing-masing calon saling ejek, saling maki, di media sosial. Ujungnya sama: unfriend. Tapi ini bukan fenomena di tempat kita saja, di Amerika juga sama, pendukung Donald Trump dan Hillary Clinton juga saling memutus hubungan pertemanan di dunia maya.

Kalau kata Quentin Fottrell yang menulis soal fenomena ini di Amrik sana, memutus hubungan pertemanan itu memang jadi semacam pernyataan politik. Kira-kira sama dengan Pandji Pragiwaksono yang bilang, “Jangan takut untuk menunjukkan ketidaksukaan anda kepada orang-orang yang kampanye mendukung Anies-Sandi dengan cara yang salah. Kita tidak butuh mereka”, sambil melampirkan gambar tangkapan percakapannya dengan Jonru di Twitter. Lalu Pandji memblokir Jonru, lalu Jonru mengalihkan dukungan kepada Mas Agus.

Aih, mesranya Bang Pandji dan Bang Jonriah….

Saya pikir fenomena unfriend-unfriend-an ini akan terus berlanjut. Selama Facebook dan Twitter belum bangkrut, selama masih ada bahan untuk diperdebatkan (jangan lupa, orang pernah berdebat soal warna gaun, kucing yang naik atau turun tangga, sampai soal kasus kopi sianida), dan selama orang-orang masih baper setiap kali berbeda pendapat dan berdebat, maka barangkali fenomena ini masih akan ada sampai lebaran kuda.

Jadi kalau jumlah teman di media sosial kita mendadak berkurang secara signifikan, tidak usah baper, tidak perlu terlalu bersedih. Di luar sana masih banyak teman-teman baru, yang juga baru kehilangan banyak temannya dan pasti mau diajak temenan.

Teman yang satu pemikiran, yang tidak akan mendebat kita dengan hebat, yang akan selalu setuju dengan apapun yang kita katakan atau bagikan, meski bakal membuat akun media sosial kita justru membosankan.

Dan, untuk memperingati Hari Unfriend Nasional, marilah kita mengheningkan cipta sejenak, menundukkan kepala, dan mengenang teman-teman di dunia maya yang sudah meninggalkan kita. Mengheningkan cipta, dimulai…