Merasa Jadi Makhluk yang Paling Pantas Mengkavling Tanah Surga?

Merasa Jadi Makhluk yang Paling Pantas Mengkavling Tanah Surga?

Ilustrasi kepercayaan Marapu (hjf-ringan.blogspot.co.id)

Bayangkan seseorang datang kepadamu dan bertanya, “Apa agamamu?” Kamu, sangat mungkin, bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan cepat. Kamu akan menyebutkan satu nama. Nama dari agama yang kamu peluk itu. Aku Islam, Aku Katolik, Aku Protestan, Aku Hindu, Aku Budha, atau Aku Kong Hu Cu.

Lalu, bayangkan lagi, orang tersebut melanjutkan pertanyaannya – misal jika kamu menjawab ‘Aku Islam’ -, “Apa makna dari ‘Aku Islam’ itu?” Kali ini, kamu mungkin akan menjawabnya dengan panjang dan lebar, atau hanya bisa mengernyitkan dahi, boleh jadi juga malah marah-marah dan menghardiknya dengan nada tinggi, “Apa urusanmu bertanya-tanya tentang keyakinanku!”

Kenyataannya, memang tidak mudah menjelaskan makna dari jawaban atas pertanyaan “Apa agamamu?”. Perlu perenungan mendalam dan pengalaman yang panjang untuk bisa menjelaskannya dengan yakin dan kukuh, pasti dan permanen. Tidak bisa lekas, selekas kita mengisi kolom agama di KTP.

Bagi kita yang memeluk enam agama di atas, pertanyaan “Apa agamamu?” yang dilontarkan oleh petugas Dukcapil tidak sulit untuk dijawab. Dan, kita tidak perlu khawatir si petugas akan lanjut bertanya mengenai makna jawabannya. Selama ini, rasanya petugas Dukcapil tidak pernah tanya-tanya mengenai makna jawaban.

Tapi keadaannya agak berbeda, jika kita adalah penghayat kepercayaan. Nama keyakinan yang disebutkan, meski sudah ada dalam database sistem kependudukan, akan berubah menjadi strip (-) di dalam KTP elektronik yang tercetak.

Meski hanya sebaris, kolom agama di KTP itu punya efek yang panjang dan sangat merepotkan. Contohnya, pernah ada seorang penghayat kepercayan yang kesulitan mengurus perizinan untuk membuat sebuah kios kecil di rumahnya. Ketika petugas melihat KTP-nya tidak tercantum nama salah satu agama yang diakui, ia dipersulit.

Beberapa media massa pernah melaporkan, ada jenazah aliran kepercayaan yang ditelantarkan selama 12 jam, karena pemakamannya ditolak warga. Terpaksa jenazahnya dikebumikan di pekarangan rumah.

Meski tidak secara langsung berkaitan dengan KTP, kasus yang terkait dengan penghayat kepercayaan juga terjadi di Semarang. Ada seorang siswa SMK tak naik kelas. Ia tidak naik kelas, karena menolak masuk agama Islam dan sekolah tidak memberikan nilai atas pelajaran agama. Pihak sekolah berargumen, hanya pendidikan enam agama yang ada di kurikulum, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu.

Beberapa waktu lalu, kebetulan saya ditugaskan oleh kantor untuk meliput kehidupan penghayat kepercayaan Marapu di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketika itu, media tempat saya bekerja memang sedang menyiapkan edisi khusus mengenai agama-agama Nusantara.

Di sana, secara nyata, saya melihat langsung permasalahan penghayat kepercayaan ini. Permasalahan krusial bagi penghayat Marapu dalam hal dokumen kependudukan adalah mengenai pencatatan sipil, karena persyaratan utama dalam pencatatan perkawinan harus ada surat keterangan nikah secara agama atau surat nikah secara kepercayaan. Nah, surat keterangan ini yang belum dimiliki oleh penghayat Marapu.

Karena hal tersebut, penghayat kepercayaan Marapu tidak bisa dicatatkan perkawinannya. Lalu, konsekuensinya anak mereka hanya mempunyai hubungan keperdataan dengan ibu kandungnya saja. Bapaknya sendiri tidak tercatat dalam akta kelahiran.

Lalu hal ini merembet ke bidang pendidikan. Misalnya begini, sebagian anak-anak penghayat tersebut di ijazahnya tertulis nama ayahnya, tapi di akte kelahiran hanya nama ibunya saja. Ada dua dokumen yang berbeda. Sehingga ketika anak tersebut ingin melamar pekerjaan mereka kesulitan sebab ada perbedaan data orangtua. Ujung-ujungnya, seperti yang dikatakan oleh salah satu narasumber saya, “Kami nipu saja sudah, masuk ke agama yang ada, entah Tuhan marah atau bagaimana nantinya.”

Salah seorang pemuka kepercayaan Marapu malah bercerita bahwa kedua anaknya memilih untuk menjadi penganut agama Katolik. “Sekolah, ya karena mereka juga tidak keras kemauan seperti saya, anak saya ikut Katolik. Saya bilang tidak apa-apa,” katanya. Dia bisa memahami hal tersebut, karena itu pula yang dia lakukan ketika sekolah dulu. “Saya waktu SMA itu ikut Kristen, SMP saya ikut agama Islam. Karena saya perlu ikut aturannya itu.”

Permasalahan ini jadi semacam dilema. Ibarat memakan buah simalakama. Begini salah begitu salah. Mau ikut keadaan dengan masuk ke enam agama yang diakui itu artinya menipu keyakinan sendiri. Mau teguh pada keyakinan, akibatnya seperti yang dialami siswa di Semarang tadi.

Pemerintah sendiri sebenarnya sudah bergerak mengatasi permasalahan ini. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pada Mei 2015 telah memberi instruksi kepada semua kepala daerah untuk menuliskan nama aliran kepercayaan dan agama lokal di KTP.

Persoalan ini, katanya, dilakukan untuk mencegah praktik diskriminatif kepada para penghayat kepercayaan di Indonesia. Sejauh ini, kementerian yang dipimpinnya tengah mengoreksi keberadaan 139 Peraturan Daerah yang dinilai diskriminatif dan tak sesuai peraturan perundang-undangan.

Menteri Agama juga sudah menginventarisir permasalahan yang ada di penghayat kepercayaan dan mengumpulkan para tokohnya. Di Kementerian Pendidikan dan kebudayaan sudah tercatat 234 organisasi penghayat. Organisasi-organisasi ini yang nantinya akan mengeluarkan, salah satunya, surat keterangan menikah secara kepercayaan.

Sejauh ini memang apa yang dilakukan oleh pemerintah belum begitu terlihat hasilnya. Buktinya masih banyak permasalahan terkait perlakuan diskriminatif kepada para penghayat kepercayaan di Indonesia. Ya, semua ini memang butuh proses. Namun sembari itu, ada hal lain yang menurut saya kira tidak kalah pentingnya. Hal itu berkaitan dengan bagaimana kita semua bisa melihat “yang lain” tanpa stigma, stereotipe, dan diskriminasi.

Permasalahan-permasalahan seperti ini seharusnya tidak pernah ada, jika secara sadar kita bisa menerima kenyataan bahwa hidup memang akan selalu diiringi oleh beragam perbedaan. Tidak ada seorang pun yang tahu mengapa manusia tidak pernah bisa bebas untuk meringkas perbedaan-perbedaan menjadi identitas yang satu dan kompak.

Di Indonesia, perbedaan itu nyata dan dekat. Meski, kita tahu, tidak sedikit yang menutup mata terhadap itu. Mereka-mereka yang menutup mata ini adalah mereka yang sibuk menghakimi orang yang terlihat berbeda darinya. Lebih dari itu, mereka juga memaksakan agar keyakinannya diikuti dan diyakini oleh orang lain yang berbeda. Jika perlu dengan kekerasan.

Perbedaan jadi seperti angin yang berhembus, ia bisa menyejukan tapi bisa juga malah memperbesar nyala api. Untuk ini, saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Puthut EA di akun Facebook-nya, “Kita ini seperti jerami yang mudah terbakar.” Saat itu, dia sedang merujuk kepada tautan berita tentang kerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Di sana dikatakan bahwa ada Vihara dibakar, karena sebelumnya ada yang protes karena terganggu oleh suara toa masjid. Membaca komentar-komentar di bawahnya, saya melihat bagaimana api itu menyala semakin besar. Ini sungguh mengkhawatirkan juga mengerikan.

Banyak orang – termasuk tokoh yang katanya ulama – ikut mengompori peristiwa yang terjadi di Tanjung Balai. Tak hanya membawa-bawa agama, tapi merembet juga ke perbedaan etnis. Merasa menjadi orang yang paling berhak hidup di muka bumi ini. Merasa menjadi makhluk yang paling pantas mengkavling tanah surga. Begitu kan maksudmu?

Padahal, menurut saya, daripada sibuk mengurusi keyakinan orang lain lebih baik kamu bayangkan saja ada orang yang bertanya “Apa agamamu?” Lalu lanjut bertanya, “Apa makna jawaban itu?” dan bayangkan orang itu adalah kamu yang sedang bertanya kepada dirimu sendiri. Niscaya, kamu tidak akan repot-repot lagi mengurusi keyakinan orang lain, karena kamu sendiri tahu masih punya pertanyaan besar yang belum bisa terjawab.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Ramon Panikkar, seorang rohaniawan Katolik yang mengenal akrab Hinduisme dan Budhisme, “Percakapan tentang Tuhan adalah sebuah percakapan yang mau tak mau menjadi lengkap dalam sebuah keheningan baru.”