Menyikapi Prancis dan Papua sebelum Semuanya (Sangat) Terlambat

Menyikapi Prancis dan Papua sebelum Semuanya (Sangat) Terlambat

remotelands.com

Lagi-lagi Prancis diserang teroris. Hanya beberapa hari lepas dari potensi ancaman selama Piala Eropa, eh… tiba-tiba sebuah truk kargo 19 ton menabrak kerumunan orang yang sedang merayakan Hari Bastille di kota Nice, Prancis Selatan, 14 Juli 2016. Sebanyak 84 orang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 orang di antaranya anak-anak.

Pengemudi truk maut itu diidentifikasi bernama Mohamed Lahouaiej Bouhlel, pria kelahiran Tunisia yang berpaspor Prancis. Ini menjadi aksi teror terbaru di negara sekuler tersebut. Kemungkinan besar teror di kota Nice adalah lanjutan dari penembakan dan serangan bom di Paris tahun lalu, yang menelan korban tewas sebanyak 128 orang.

Di Indonesia sudah banyak yang membahas peristiwa ini. Tapi kebanyakan dari sudut pandang agama dan teori konspirasi. Yang mengutuk juga tak kalah banyak. Btw, saya kok bingung. Itu teroris sudah dikutuk jadi batu, patung, kodok, kadal, lalat ijo, tapi tetap saja ada. Sudah digrebek pula, didor, dirudal, masih saja melancarkan aksi teror.

Maka dari itu, saya coba tawarkan pandangan alternatif, yakni dari kacamata ekonomi. Semoga para pembaca yang kece-kece tambah bingung bisa tercerahkan (#uhuk). Langsung saja dikunyah…

Pada 1993, di Pegunungan Rocky, Amerika, seorang profesor di Duke University bernama Jane Costello meneliti kesehatan mental para remaja. Hasilnya? Remaja dari keluarga miskin, misalnya anak-anak Indian, memiliki lebih banyak masalah perilaku.

Namun, sejak berdirinya sebuah kasino, tingkat kesejahteraan Suku Indian meningkat. Masalah perilaku, tingkat kejahatan, serta penyalahgunaan narkoba dan miras di kalangan anak Indian kemudian menurun drastis. Skor akademik mereka pun membaik.

Jadi, kemiskinan – yang berarti situasi tertekan dan tersudut secara konstan – mempermudah manusia menjadi bodoh (terjadi penurunan IQ sekitar 13-14 poin). Selain itu, keterjepitan melemahkan dan memperkecil fokus pikiran. Kapasitas pikiran habis untuk mencari makan, membayar tagihan, dan sebagainya. #Life

Kemudian hormon-hormon stres mulai merusak produksi sel-sel otak baru, bahkan mematikan sel otak. Memori menurun, sistem kekebalan tubuh anjlok, dan fungsi eksekutif otak menjadi keropos. Kecerdasan korslet dan pengendalian diri terjun bebas. Manusia tereduksi menjadi makhluk yang mudah mengamuk.

Mereka lapar, tertekan, dan tersudut. Hari demi hari, hidup semakin mencekik dan waktu semakin sempit. Sedikit demi sedikit aspek-aspek manusiawi mereka termutilasi hingga akhirnya siap meledak. Dan, pada titik ini, mereka amat rentan termakan hal-hal berikut ini: siasat pecah belah (pemisahan identitas), pengalihan, dan hasutan. Ketiga hal ini sering digunakan oleh koruptor dan teroris.

Mari sejenak melihat kondisi Indonesia saat ini, yang sebenarnya sangat diperburuk oleh para koruptor. Mereka menggarong dana pembangunan, anggaran program pendidikan dan kesehatan, dan sebagainya. Pokoknya apapun diembat. Ini akhirnya berujung pada kemiskinan massal, karena dana untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat raib.

Dan, seperti pada studi di atas, kemiskinan merentankan manusia untuk hilang kendali dan mengamuk. Tekanan kehidupan memunculkan percik amarah. Dan, tunas amukan membutuhkan kambing hitam sebagai sasaran. Warisan evolusi membuat manusia cenderung mencari akar masalah agar bisa bertahan hidup, yang sialnya di zaman modern ini sering muncul sebagai pencarian kambing hitam secara simplistik nan membabi buta.

Di sinilah, para maling itu memisahkan identitas dan menyiram bensin fitnah pada percik prasangka. Bisa berdasarkan tendensi rasial, agama, dan sebagainya. Maka terjadilah konflik horisontal. Yang rugi? Ya kita semua.

Kondisi ekonomi yang miris menjadi lahan subur untuk hasutan dan kekerasan. Teroris juga memanfaatkan hal ini. Bagaimana kah kehidupan Bouhlel, si sopir truk maut di Nice? Sebelas duabelas dengan Tsarnaev bersaudara (pelaku bom Boston) dan Kouachi bersaudara (pelaku penembakan Charlie Hebdo).

Dalam keputusasaan, mereka bertemu berbagai ‘jihadis’ yang membisikkan ‘perjuangan’ ke telinga mereka, menawarkan bidadari surga yang begitu menggiurkan. Dan, sisanya adalah halaman berdarah dalam sejarah manusia.

Namun, sumber keputusasaan, juga ekspresinya, bisa berbeda-beda. Karena hidup tidaklah hitam-putih atau sederhana. Kita tidak bisa pukul rata begitu saja. Kasus berbeda dengan sendirinya butuh pendekatan dan kacamata berbeda.

Salah satu kasus itu adalah Papua. Sumber daya alam mereka dikeruk hingga dataran Papua bopeng-bopeng, namun mereka tetap miskin. Harga kebutuhan di sana begitu tinggi. Akses jalan sulit dan banyak yang rusak. Distribusi listrik tidak merata.

Kondisi kesejahteraan, pelayanan kesehatan, dan pendidikan mereka juga sangat memprihatinkan. Belum lagi pembunuhan ekstrajudisial atas rakyat Papua, tidak tersentuhnya para pelaku, serta pembatasan akses jurnalis serta aktivis HAM ke Papua.

Herankah anda, jika mempertimbangkan semua hal di atas, Papua ingin memisahkan diri dari Indonesia? Jika muncul gerakan perlawanan di Papua, baik yang bersenjata seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM), maupun yang damai-dialogis seperti para mahasiswa dan aktivis?

Anda sudah dengar peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua di Yogyakarta oleh polisi dan ormas? Itu terjadi pada Jumat lalu. Sekitar 60-70 orang di dalam tidak bisa keluar. Bahkan mereka hanya bisa minum air, karena makanan pemberian warga kampung sekitar dan petugas PMI Yogya disita polisi. Alasannya? Karena takut disandera. Oleh mahasiswa? Ah, ini terdengar mengada-ada.

Alasan pengepungan ini pun tidak jelas. Namun, tadinya mahasiswa Papua berencana melakukan aksi damai untuk mendukung United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Namun, acara itu dibubarkan oleh aparat dan ormas.

Saya bukan simpatisan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Saya hanya sadar bahwa tindakan manusia amat dipengaruhi oleh kondisi hidupnya. Kondisi keras memunculkan manusia keras. Kondisi ekstrim bisa melahirkan para ekstrimis. Dan, tekanan serta penindasan pada rakyat Papua sudah mencapai titik ekstrim dan melahirkan keputusasaan pada mereka.

Penindasan pada Papua mungkin saja memunculkan tindakan yang tidak kita sangka-sangka, dari orang yang tidak kita duga akan melakukannya. Siapa yang menyangka kalau Tsarnaev dan Kouachi bersaudara, serta Bouhlel akan melakukan teror?

Rakyat Papua bukanlah teroris. Sekali lagi, mereka berbeda dari para teroris. Namun, mungkin saja ada pihak tertentu memanfaatkan kondisi Papua, lalu memutuskan “pembalasan” entah pada kerumunan mana, tanpa pandang bulu? Bisa-bisa di Indonesia muncul sosok Ra’s Al Ghul seperti di kota Gotham.

Saya sepenuh jiwa berharap itu tidak akan pernah terjadi. Karena kalau sampai itu terjadi, sudah sangat terlambat. Bisa-bisa bereskalasi di luar kendali, dimana saling tuduh dan balas-membalas membabi buta akan menimbulkan korban sia-sia. Tidak ada pemenangnya. Rakyat hanya saling menghancurkan, sementara para iblis tertawa sambil berpesta pora.

Hentikan penindasan pada rakyat Papua. Kembalikan dan berikan hak-hak mereka yang terampas. Sejahterakan mereka. Daripada mengepung asrama mahasiswa, mending mengganyang koruptor yang menjadi dalang kemiskinan di NKRI. Ingat, NKRI bukan alat penindasan, melainkan alat pemersatu untuk kesejahteraan bersama.