Menyambangi Kuil Mengambang di Pulau yang Dulu Terlarang

Menyambangi Kuil Mengambang di Pulau yang Dulu Terlarang

blog.gaijinpot.com

Saat berada di Kyoto, Jepang, saya ngotot sekali ingin ke Hiroshima. Mumpung JR Pass masih berlaku. Sebab, dengan membeli kartu pass itu, wisatawan dari luar negeri bisa menikmati hampir semua moda transportasi yang dikelola perusahaan JR.

Jarak antara Kyoto dan Hiroshima sekitar 361 km. Kayak dari Jakarta ke Pekalongan. Kalau naik mobil, bisa sekira lima jam. Beruntung ada Shinkansen. Hitung-hitung sekalian merasakan sensasi kereta yang melesat bak peluru itu.

Naik Shinkansen dari Kyoto ke Hiroshima hanya menghabiskan waktu dua jam. Iya betul, kalau kamu di Jakarta, sama kayak naik mobil dari Kuningan ke Cilandak saat rush hour. Masih sama-sama di Jakarta Selatan, hanya berjarak 27,8 km pula.

Lalu kenapa harus ke Hiroshima? Karena saya ingat bom. Ingat bom ingat Hiroshima. Itu saya, nggak tau kamu. Ya kamu, yang udah meledakkan perasaanku lalu pergi begitu saja.

Hiroshima adalah kota di Jepang yang sangat bersejarah dan sejarah itu terkait dengan kemerdekaan Indonesia. Masih ingat kan, di pelajaran PSPB (nah ketahuan deh umur saya), soal bom atom Hiroshima dan Nagasaki? Indonesia merdeka tak lama setelah itu.

Semula, saya ingin lihat sisa-sisa ledakan bom di Peace Memorial Museum. Museum ini memamerkan barang-barang peninggalan korban bom atom, yang konon menelan korban sekitar 140 ribu jiwa. Ada juga bangunan kubah bom atom, yang sengaja didirikan untuk mengenang tempat pertama kali bom atom dijatuhkan di Hiroshima.

Semua tempat tersebut bisa dicapai dengan mudah, timggal naik bus dari Stasiun Hiroshima. Tapi… Keleletan saya dan dua travelmate bikin rencana agak berantakan. Gara-gara telat lima menit mengejar jadwal Shinkansen, waktu kami untuk mengeksplorasi Hiroshima terpotong banyak.

Telat lima menit mengakibatkan kami harus menunggu Shinkansen yang baru berangkat ke Hiroshima sekitar 1,5 jam kemudian. Alhasil, baru sampai di Hiroshima ketika hari hampir petang. Sedangkan museum-museum di Jepang rata-rata tutup pukul empat sampai lima sore.

Akhirnya, kami sepakat untuk langsung menuju Miyajima, spot wisata lain yang tak kalah unik. Miyajima adalah sebuah pulau yang masih dalam prefektur Hiroshima. Dari Stasiun Hiroshima, perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan kereta lokal ke Stasiun Miyajimaguchi yang memakan waktu sekitar 30 menit.

kanpai-japan.com
kanpai-japan.com

Dari Miyajimaguchi, kami berjalan kaki ke pelabuhan feri untuk menyeberang ke Pulau Miyajima. Menyeberang dengan kapal feri ini hanya butuh waktu 10 menit saja.

Ada dua alasan kuat mengapa harus ke Miyajima. Pertama, penasaran dengan suhu wilayah laut di Jepang saat musim dingin. Kedua, ingin melihat Kuil Itsukushima, salah satu kuil Shinto tertua di Jepang yang dibangun di laut. Kuil itu tercatat sebagai situs warisan budaya dunia oleh Unesco.

Di Miyajima, banyak shuttle bus gratis. Namun, saya malas menunggunya. Berbekal peta wisata di tangan, kami bertiga berjalan kaki untuk melihat Itsukushima. Kawasan Miyajima memang sangat unik dengan rusa-rusa yang dibiarkan bebas berjalan. Tapi agak merepotkan, karena mereka tampak selalu kelaparan.

Beberapa rusa bakal datang mendekat, kalau kita membawa makanan. Menjulur-julurkan mulutnya minta diberi makan. Ini salah satu daya tarik kawasan ini, wisatawan bisa memberi makan langsung rusa-rusa yang sepenglihatan saya doyan apa saja.

Maggie NM
Maggie NM

Ketika kami berjalan di pinggir laut, sebuah gerbang setinggi 16 meter berwarna merah kejinggaan terlihat berdiri megah di tengah laut. Gerbang yang merupakan bagian dari Kuil Itsukushima itu biasa disebut Torii. Torii di Itsukushima telah ada sejak 1168, tetapi Torii yang sekarang merupakan bangunan tahun 1875.

Bangunan ini unik, karena tidak memiliki fondasi. Torii bisa berdiri tegar menempel ke tanah dengan hanya mengandalkan bobot bangunan. Lho? Sayang, ketika kami ke sana, air laut sedang surut. Jadi, Torii maupun bangunan kuil tidak tampak mengambang di laut. Tampak sedang mendarat.

Ya sudahlah, minimal tahu kalau laut di musim dingin itu ya tetap dingin. Anginnya tetap menusuk kulit. Winter jacket tetap dibutuhkan, dibantu dengan lemak yang saya tabung bertahun-tahun di tubuh buat menangkal dingin.

sunflowersensei.blogspot.co.id
sunflowersensei.blogspot.co.id

Kuil Itsukushima itu sendiri dibangun pada abad ke-6 dan sampai sekarang masih aktif digunakan untuk beribadah. Namun, bangunan saat ini adalah hasil pemugaran yang pertama kali dilakukan pada 1168. Tetap tua, ya?

Sebagian besar bangunan kuil terbuat dari kayu, entah kayu apa yang kuat ratusan tahun berdiri di tengah laut. Kuil ini konon sengaja didirikan di laut, karena dulu daratan Pulau Miyajima terlarang bagi orang-orang selain klan tertentu. Orang yang mau ke kuil harus menyeberang memakai perahu dan memasuki kuil dari Torii.

Kalau sekarang, orang sudah bebas datang dan bisa masuk dari pintu samping kuil asal beli tiket. Uniknya lagi, dahulu kala, Kuil Itsukushima tidak melayani catatan pernikahan dan kematian untik menjaga kemurnian kuil.

Banyak yang bilang waktu terbaik untuk menikmati pemandangan kuil itu saat senja dan malam. Pemandangan Kuil Itsukushima saat malam disebut-sebut sebagai salah satu “The top scenic sight” di Jepang. Kalau lihat foto-fotonya sih memang kece banget. Bayangkan, kuil kuno dengan cahaya lampu temaram jingga plus pantulan cahaya lampu di air laut.

Maggie NM
Maggie NM

Lagi asyik-asyiknya berswafoto di depan kuil, tiba-tiba beberapa rusa mendekat. Padahal kami sudah tak punya lagi makanan. Saya cuma menenteng tas jinjing berisi peta wisata Miyajima. Tapi salah satu rusa  menggigit dan membawa kabur peta wisata itu.

Saya pun berlarian mengejar si rusa. Bukan karena mau menyelamatkan peta, melainkan takut si rusa makan peta dan mati. Seakan mengiyakan kekhawatiran saya, si rusa mengunyah dan menelan peta itu! Duh rusaa… Semoga kamu panjang umur, ya… 🙁

Lelah mengejar rusa, kami kemudian melihat-lihat pemandangan di Miyajima. Ternyata pulau ini lumayan besar. Mungkin butuh waktu sedikitnya dua hari untuk mengeksplorasi objek-objek wisata di sana. Ada kuil lainnya yang tak jauh dari Itsukushima, yaitu sebuah kuil bernama Senjokaku. Kuil itu memiliki pagoda bertingkat lima berwarna merah. Ini juga konon dibangun pada 1400-an.

Selain Itsukushima dan Senjokaku, ada Kuil Daiganji dan Gunung Misen yang memagari Pulau Miyajima, yang juga menawarkan keindahan untuk didaki. Ada juga pemandian air panas alami di sana. Andai saja punya waktu berlebih, kami pasti memilih menginap di Miyajima. Tapi, karena cuma punya waktu satu hari untuk jalan-jalan di Hiroshima, kami harus pulang sebelum senja.

Maggie NM
Maggie NM

Kalau mampir ke Miyajima, jangan lupa dengan kue Momiji Manju. Kue ini merupakan semacam bolu berbentuk daun pohon Maple, lambang kota Hiroshima. Momiji Manju berisi berbagai macam, ada vla berbagai rasa, kacang merah, kacang tanah, kacang hijau, bahkan mochi.

Salah satu toko kue terenak yang menjual Momiji Manju terletak antara pelabuhan feri dan Stasiun Miyajimaguchi. Saya nggak tau nama toko kuenya, karena plangnya huruf kanji semua. Soal rasa, saya kasih nilai 9 dari skala 10.

Soal harga, yah, kamu yang tabah ya kalau jajan di Jepang. Jarang sekali ada makanan murah untuk kantong backpacker Indonesia. Kue sebesar setengah telapak tangan saya yang imut ini dibanderol 25 yen atau sekitar Rp 28 ribu per buah.

Selamat menikmati…