Menulis Tiga Kata untuk Bu Patmi

Menulis Tiga Kata untuk Bu Patmi

bbc.com

“Write a sad story using only 3 words.”

“Tulis kisah sedih hanya dengan menggunakan tiga kata.”

Ungkapan itu berseliweran di jagat maya dan direspon cepat oleh para pengguna media sosial. Apa ini tanda-tanda bahwa netizen kita banyak menyimpan kisah sedih? Bisa ya, bisa tidak. Tapi memang banyak cara dalam menyikapi kesedihan itu sendiri. Ada yang bersikap bijak, dingin, frustrasi sampai mau bunuh diri, bahkan tak sedikit yang memilih untuk menertawakannya.

Khusus soal ungkapan “Write a sad story using only 3 words”, para netizen punya banyak cara unik untuk mengungkapkannya. Kalau Anda sendiri, kira-kira mau nulis apa? Hanya dalam tiga kata ya, seperti kicauan di bawah ini:

“Gajian masih lama.”

“Uang sudah habis.”

“Maaf, kita putus!”

“Kamu kok jahat.”

“Kita berteman saja.”

“Kok cepet banget.”

“Kita beda agama.”

“Mas, aku telat.”

Ya begitu kira-kira ungkapan yang beredar soal menulis kisah syedih dalam tiga kata. Ada yang benar-benar sedih, ada juga yang menertawakan kesedihan. Ada pula yang sekadar berguyon. Tapi apapun itu, sekali lagi menegaskan bahwa kita tak boleh larut dalam kesedihan. Justru itu bisa jadi momentum kebangkitan. Itu, mblo…

Ngomong-ngomong soal kesedihan, kabar duka datang dari para petani yang menolak operasional pabrik semen di Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Ibu Patmi (48), seorang petani asal Pegunungan Kendeng, yang melakukan aksi mengecor kaki dengan semen di depan Istana Negara, meninggal dunia.

Ibu Patmi mengalami serangan jantung dan meninggal dalam perjalanan dari kantor LBH Jakarta menuju Rumah Sakit St Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Kendeng berduka, Indonesia berduka. Duka bagi para orang-orang yang menginginkan keadilan, kemanusiaan, dan kelestarian alam.

1.Kartini

 

2. Mati Mulia

 

3. Perlawanan Terakhir

 

4. Makna lestari

 

5. Aku Kendeng

 

6. Sebuah Jawaban

 

Kalau Anda sendiri, kira-kira mau nulis apa tentang Bu Patmi? Hanya tiga kata.

“Turut berduka cita.”

“Kematiannya dikenang selamanya.”

“Tolak pabrik semen!”

“Aku adalah Kendeng.”

“Kendeng harus lestari.”

“Ayo lanjutkan perjuangan.”

“Ayo aksi serentak.”

Perjuangan memang bukan sekadar kata-kata, tapi merawat perjuangan butuh kata-kata. Seperti kata Harry Belafonte, “Anda dapat mengurung sang penyanyi, tapi tidak nyanyiannya. Dalam konteks petani Kendeng, “Anda bisa saja mengurung petani, tapi tidak perlawanannya.”

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”

Selamat jalan, Bu Patmi…

Rest In Pride!