Menjadi Manusia Bermental Tempe itu Sebetulnya Baik

Menjadi Manusia Bermental Tempe itu Sebetulnya Baik

Pembuatan tempe (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)

Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Semuanya mendadak syar’i. Namun, ada dua hal yang selalu diingat. Pertama, adzan maghrib. Kedua, gorengan.

Kalau yang pertama, saya rasa tak perlu banyak uraian. Toh, semuanya sudah paham. Bahwa menanti detik-detik adzan maghrib adalah hal yang paling mengasyikkan selama Ramadan.

Selama penantian itu, kamu bisa saja lebih sering memandangi jam weker daripada foto pasanganmu, meski sedang LDR sekalipun. Terus berkata, “Ini kok jarumnya lambat banget sih?” Padahal, kalau bukan Ramadan, menyentuh apalagi memandangi jam weker adalah sesuatu yang fana.

Nah, kalau yang kedua, gorengan. Ya, gorengan adalah salah satu makanan wajib bagi masyarakat Indonesia saat berbuka puasa. Dengan tidak mengecilkan peran kurma, saya rasa gorengan adalah kenikmatan hakiki saat berbuka. Duh, rasanya puasa kita jadi paripurna.

Terlebih gorengan tersebut adalah tempe. Jujur saja, tempe adalah gorengan yang pasti ludes terlebih dahulu. Entah kenapa, saya lihat hampir di semua lapak, tempe adalah lauk yang selalu tersedia dan kerap diborong oleh pembeli. Itu pertanda baik.

Mengapa?

Dengan kamu membeli tempe, maka otomatis melestarikan salah satu produk Indonesia. Dalam buku ‘Bunga Rampai Tempe Indonesia’ yang ditulis oleh Mary Astuti, disebutkan, tempe sudah ada sejak abad 13, bahkan ada yang mengatakan abad 12. Sejarah tempe tertulis di Serat Centhini. Cukup lampau, bukan?

Eh, tapi tunggu dulu. Bukankah tempe berasal dari kedelai? Dan, katanya kedelai itu berasal dari Tiongkok? Benar bahwa kedelai berasal dari Tiongkok, namun kedelai yang ada di Indonesia adalah jenis yang berbeda.

Menurut Astuti, kedelai yang dipakai di Indonesia adalah kedelai hitam. Dugaannya adalah kedelai hitam lebih dulu ditanam di Jawa sebelum invasi Tiongkok ke tanah Jawa.

Dahulu, masyarakat Jawa menyebutnya sebagai dele alias hitam. Ini menjelaskan bahwa dele sudah berada di Jawa sebelum orang-orang Hindu datang.

Tempe dan tahu adalah saudara kembar, tapi tak serupa. Maksudnya sama-sama berasal dari kedelai. Namun, menurut sejarawan Ong Hok Ham, tahu adalah bawaan dari Tiongkok dan baru ada di Jawa pada abad 17.

Balik lagi soal pertempean.

Proses pembuatan tempe memang berasal dari limbah. Apapun. Kalau dari limbah kacang, jadinya tempe gembus. Kalau dari limbah kelapa, jadinya tempe bongkrek.

Karena dari limbah itulah banyak yang bilang bahwa tempe merupakan makanan rakyat. Bahkan dulu oleh kalangan priyayi ada penyebutan khusus bagi yang suka tempe. Bangsa tempe.

Makanya tak heran, jika dahulu penjajah sering berkata, “Janganlah kamu bermental tempe!” Itu maksudnya merendahkan dan memberi stigma bahwa tempe bukanlah sesuatu yang pantas bagi mereka. Padahal, jika ditilik sejarah, tempe adalah produk brilian.

Ong menjelaskan bahwa dengan ledakan penduduk di Jawa pada abad 19 membuat tempe menjadi makanan utama. Sebelumnya, masakan di Jawa lebih cenderung pada hewani. Ini tak lepas dari pengaruh Tiongkok yang sering mengolah daging ayam, bebek, babi, dan sebagainya.

Namun, karena persaingan lahan antara manusia dan hewan, maka mau tak mau lahan untuk hewan kian tergusur. Manusia pun mengolah lahan ke arah sayuran. Dan itu, termasuk tempe.

Tempe menjadi penyelamat kesehatan masyarakat Jawa, karena lahan berburu semakin sempit. Terlebih, era tanam paksa membuat orang-orang ‘terpaksa’ menghentikan makan daging.

Ong dalam artikelnya berjudul ‘Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia” menegaskan bahwa penemuan tempe adalah sumbangan Jawa untuk seni masak internasional. Keren bukan?

Sayangnya, sampai sekarang belum ada kejelasan siapa penemu tempe sebenarnya. Seharusnya kalau mau main klaim-klaiman, bisa saja Indonesia mengklaim penemu tempe. Tapi kita lebih suka negara lain mengklaim terlebih dahulu, baru negara kita meributkan. Iya apa iya?

Kita, bangsa Indonesia, seharusnya bangga memiliki produk nasional sekelas tempe. Banyak ahli gizi mengungkapkan bahwa tempe adalah makanan paling sehat di dunia. Tempe mengandung zat antioksidan yang mengandung senyawa isoflavon. Itu adalah zat pencegah kanker.

Bahkan konon katanya, nikmatilah tempe selagi mentah. Bukan matang. Apalagi dinikmati pakai sambal atau cabai rawit, nikmat tempe mana lagi yang sanggup engkau dustakan? Terlebih tempe mentah masih mengandung zat antioksidan yang masih utuh.

Sekarang, tempe telah menjadi makanan semua lapisan masyarakat. Mau tua atau muda. Mau kaya atau miskin. Mau kafir atau bukan. Semua menjadi penikmat tempe.

Ini tak lepas dari olahan tempe yang telah mencapai generasi ketiga. Generasi pertama mengolah tempe menjadi keripik, sambal, dan sebagainya. Generasi kedua mengolahnya menjadi susu, bubur, biskuit, dan lain-lain. Nah, generasi ketiga mengolah tempe menjadi antioksidan, senyawa yang berguna menangkal virus.

Tapi ada satu masalah penting yang dihadapi umat pertempean. Menurut seorang teman dekat, tempe bukanlah makanan utama saat berbuka. Sunnah-nya adalah kurma. Bahkan ada yang berkata tempe itu bid’ah ketika dimakan saat buka puasa.

“Bro, jangan makan tempe. Gak ada di zaman Rasul. Itu bid’ah!” kata teman saya itu, seraya memberikan peringatan sambil mengacungkan jari telunjuk kanan ke atas.

“Sebelum kamu bilang tempe itu bid’ah, kamu sendiri manggil saya udah bid’ah!” jawab saya sambil tertawa nyengir.

“Loh kenapa bro?”

“Mana ada zaman Rasul manggil seorang teman dengan sebutan bro. Ndak ada itu. Adanya Yaa Ajnabiy. Ente lebih bid’ah daripada ane.”

Pembicaraan tiba-tiba terhenti. Adzan maghrib berkumandang. Saya dan dia minum air putih dan langsung menguntal tiga tempe sekaligus. Buka bersama yang indah nan bermakna. 🙂

Karena itu, marilah kita menjadi manusia Indonesia bermental tempe. Sebab, itu sebetulnya baik. Dengan bermental tempe, kita bisa menjadi seorang yang cinta tanah air, merakyat, dan berguna bagi umat manusia.

Tempe mana, tempe..?