Seyogianya Jogja Tetap Berhati Nyaman, Bukan Jogja Berhati-hati

Seyogianya Jogja Tetap Berhati Nyaman, Bukan Jogja Berhati-hati

Ilustrasi (jogja.co)

Seorang pria mengganggu ibadah misa pagi di Gereja St Lidwina Bedog, Yogyakarta. Dengan membawa pedang, pria itu menyerang para jemaat hingga Romo yang sedang beribadah di gereja tersebut.

Sontak publik dibuat kaget oleh kabar ini. Bagaimana tidak, Jogja adalah kota yang selama ini dikenal sebagai “Kota Berhati Nyaman”.

Dari laporan Polisi, dijelaskan bahwa pelaku masuk dari pintu gereja bagian barat langsung menyerang korban atas nama Martinus Parmadi Subiantoro dan mengenai punggung, sehingga jemaat yang berada di belakang/kanopi membubarkan diri.

Selanjutnya pelaku masuk ke gedung utama gereja sambil mengayun-ayunkan senjata tajam sehingga para jemaat juga membubarkan diri.

Pelaku berlari ke arah koor dan langsung menyerang Romo Prier yang sedang memimpin misa. Pelaku masih menyerang para jemaat yang berada di dalam gereja dan mengenai korban atas nama Budi Purnomo. Pelaku lantas mengayun-ayunkan senjata tajamnya ke patung Yesus dan patung Bunda Maria yang berada di mimbar gereja.

Petugas dari Polsek Gamping yang dihubungi via telepon selanjutnya mendatangi TKP. Aiptu Munir mencoba melakukan negosiasi kepada pelaku agar menyerahkan diri, namun pelaku berusaha menyerang petugas.

Petugas mengeluarkan tembakan peringatan, namun pelaku masih saja menyerang petugas mengenai tangan Aiptu Munir, sehingga terpaksa mengeluarkan tembakan ke arah pelaku dan mengenai perut pelaku.

Kejadian semacam ini bukan terjadi pertama kali di Jogja. Pada November 2013, ada sebuah ancaman dari ormas yang akan menyerang lembaga kajian filsafat Islam dan mistisisme di Kaliurang.

Kemudian, pada Mei 2014, umat lingkungan Paroki St Fransiskus Banteng yang sedang mengadakan doa Rosario di rumah direktur Galang Press diserang oleh sekelompok ormas.

Satu tahun menjelang, pada bulan Juli 2015, Gereja Baptis Indonesia Sewon dituntut ditutup oleh ormas dengan alasan belum memiliki izin bangunan. Di daerah Bantul pernah penolakan Camat yang kebetulan beragama Katolik.

Kemudian kita juga tidak lupa, pernah ada permintaan pencopotan baliho universitas UKDW & Sanata Dharma dikarenakan memuat mahasiswi berjilbab dalam penerimaan mahasiswa baru di kedua kampus tersebut.

Apakah Jogja sudah tak berhati nyaman? Dan, sekarang melanggengkan tindakan-tindakan anti-toleran terhadap perbedaan keyakinan? Kita harap tidak seperti itu.

The Wahid Institute (kini Wahid Foundation) pernah menobatkan Yogyakarta sebagai kota paling tak toleran nomor dua di Indonesia pada 2014. Pasalnya, dari total 154 kasus intoleransi serta pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dicatat Wahid Foundation sepanjang tahun itu, sebanyak 21 peristiwa terjadi di Jogja.

Harapan muncul setahun kemudian, pada 2015, peringkat Jogja sebagai kota intoleran turun ke nomor empat. Dari 190 pelanggaran yang dicatat Wahid Foundation, sebanyak 10 terjadi di kota pelajar itu.

Harapan tersebut ternyata masih ada. Masih ada celah untuk membuat Jogja kembali berhati nyaman bagi masyarakatnya dan seluruh rakyat Indonesia.

Wakil Ketua Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada, M Najib Azca, pernah menyebut situasi intoleransi di Jogja sudah merisaukan. Menurutnya, berulangnya kasus intoleransi di Indonesia, termasuk di Jogja, salah satunya akibat lemahnya peranan negara.

Jika negara sudah tak sanggup dengan cepat menyelesaikan masalah ini, bukan berarti kita diam belaka. Kita, masyarakat sipil ini, punya kemampuan untuk menjaga toleransi tetap eksis.

Kita lah yang harus menjaga agar Jogja – dan kota lainnya – tetap bisa melihat perbedaan bukan sesuatu yang harus dijadikan bahan memuaskan hasrat kekerasan dan kekuasaan.

Mari kita jaga negara ini, mari kita jaga Jogja tetap berhati nyaman. Bukan kota berhati-hati.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN