Menjadi Wanita Berukuran Ekstra yang Tak Lupa Bahagia

Menjadi Wanita Berukuran Ekstra yang Tak Lupa Bahagia

Big Beauty Models Management

Beberapa waktu yang lalu, Audy, penyanyi yang populer dengan lagu ‘Janji Di Atas Ingkar’ menulis caption yang sangat panjang di akun instagramnya, @ma_ma_dee. Intinya ia merespon perundungan netizen seputar bentuk tubuhnya yang kini tak ramping lagi:

“… well, nggak masalah buat saya sering dibully tentang fisik saya. Tapi coba kalau dibalik, anda yang dikomentarin nggak enak tentang fisik anda, apa perasaan anda? Saya dari yang sedih, marah, sampai cuma bisa tersenyum dan mencoba untuk bersabar menanggapi nyinyiran orang-orang hehehe …

Begitu kira-kira cuplikan curhatnya yang jika dikutip lengkap mencapai 203 kata.

Tiba-tiba saya teringat pada teman semasa SMU, Saktie Nugrahaning. Meski memiliki tubuh berukuran ekstra alias plus size, dia tak banyak diterpa rundungan. Pada masa sekolah, ia punya banyak teman, aktif, dan berprestasi di bidang musik.

Beberapa tahun terakhir, ia tertarik pada dunia make up dan fashion. Pada awal 2014, ia mendirikan Big Beauty Models Management.

Kecintaan pada fashion membuat Saktie menyadari minimnya busana yang betul-betul sesuai untuk teman-teman plus size. Mereka yang bertubuh gemuk itu terpaksa mengenakan outfit yang belum tentu nyaman.

“Banyak yang sekadar ngikutin orang lain atau kebawa tren aja. Bukan masalah gayanya apa, tapi keliatan dong, bedanya orang yang nyaman dan nggak nyaman sama apa yang dia pakai,” ungkap Saktie.

Ia pun menangkap bahwa wanita plus size yang umum dijumpainya terbagi dalam dua tipe. Tipe pertama, minder setengah mati. Tipe kedua, percaya diri setengah mati. “Kok kayaknya nggak bisa paaaaaas, gitu,” ujar perempuan berzodiak Scorpio tersebut.

Berangkat dari kegelisahan itu, Saktie mengajak dua temannya yang aktif di Ikatan Wanita Gemuk Indonesia (Kagumi), Indrianty dan Punny, untuk membangun Big Beauty Models Management atau biasa disebut BBM. BBM mengawali perjalanannya sebagai modeling school.

“Di batch pertama, BBM cuma buka audisi. Sengaja kita pilih yang bagus-bagus terus kita kasih semacam beasiswa. Di batch selanjutnya, baru kita bikin yang berbayar,” papar Saktie. Nah. Mereka-mereka yang terpilih dalam perjalanan modeling school itulah yang kemudian menjadi anggota agensi model BBM.

Ketika baru berdiri, menentukan pakem materi adalah salah satu kendala BBM. “Catwalk untuk plus size nggak bisa terlalu one line, harus agak lebar. Heels juga nggak bisa terlalu tinggi,” ujar Saktie.

Kendala lainnya, beberapa siswa menggantungkan harapan yang ‘terlalu tinggi’ pada BBM. “Mereka ngerasa, setelah bayar mahal-mahal di BBM, mereka bakal dijamin laris manis buat jadi model. Padahal, helloooo… produk buat plus size yang baru aja udah berapa, sih?” cerita Saktie.

Modeling di dunia plus size masih jauh sekali perjalanannya. Mereka yang terjun di BBM justru diharapkan menjadi pejuang-pejuang yang membuka jalan.

BBM fokus membangun perempuan plus size berkualitas. Sekolah ini tak hanya mengajarkan cara berjalan di catwalk atau berpose di depan kamera, tapi juga membangun mindset dan karakter para perempuan plus size.

“Ada kultur yang udah lama banget berkembang, yaitu meng-encourage cewek plus size dengan menjelekkan yang kurus. Jadi cari nyaman dan pede dengan menjelekkan yang beda sama kita. Well, apa bedanya itu sama yang bully-bully cewek gendut, dong? Sebetulnya gue agak-agak mau mendobrak kultur itu,” terang Saktie.

Di setiap pertemuan kelas, para pengajar banyak-banyak menyuntikkan pengertian kepada siswa. “Komentar, reaksi, kan kita nggak bisa atur. Tapi apa-apa itu dari dalem, kok. Kalau udah nyaman dari dalem, kita nggak akan gampang bete sama respon-respon dari luar. Goal-nya mereka jadi cewek plus size yang happy, santai, bisa nerima diri, plus punya pede yang paasss…”

Kendati begitu, bukan berarti tak ada lulusan BBM yang tak sukses menembus dunia hiburan. Wiendy Nathalia, misalnya, menjadi brand ambassador untuk salah satu produk plus size. Sementara Desy Iwanti yang akrab dipanggil Echy tampil dalam salah satu film Raditya Dika.

Saat ini agensi dan modeling school yang berbasis di Jakarta ini masih terus bergerak dengan semangat positif. Ketiga pendirinya bahu-membahu menjalankan agensi dan modeling school mereka. Indrianty dan Punny lebih banyak mengelola hal-hal seputar administrasi dan koneksi, sementara Saktie terjun langsung menangani para model.

Kesibukan membuat media sosial Big Beauty Models Management tak sempat tertangani secara intens. Hanya akun Facebook merekalah yang masih dapat menjadi tumpuan harapan informasi.

Karena artikel ini dibuka dengan suara Audy, saya akan kembali menutupnya dengan suara Audy lagi, tapi dalam lagu ‘Jiwa Penuh Cinta’.

Nah itu, yang mau gue lihat dari loe

Loe bisa, buat apa pun yang baik

Dalam hidup loe

Percaya, wajah dunia masih tersenyum

Karenamu

Trus hidup, lukiskan gambar yang indah buat apa pun

Ah, terlalu pagi untuk merasa usang.