Menjadi Seorang “Fresh Graduate” yang Tak Biasa

Menjadi Seorang “Fresh Graduate” yang Tak Biasa

mashable.com

Siapa sih yang nggak mau wisuda dan menjadi seorang fresh graduate? Bisa lulus dengan IPK tinggi dan mendapatkan pekerjaan adalah impian kebanyakan mahasiswa. Namun, nyatanya tidak mudah. Setelah lulus, seorang fresh graduate tetap harus bersusah payah mencari kerja. Lebih ribet dari bikin skripsi ataupun wisuda itu sendiri.

Kalau sekadar mencari infonya sih mudah sekali, bisa sambil berselancar di dunia maya. Atau, kalau mau sekalian cuci mata, kaki, dan hati, bisa datang ke job fair. Tapi bagaimana, kalau beberapa kali datang, hasilnya selalu gagal. Bahkan tak ada perusahaan yang tertarik untuk memberi kesempatan interview.

Padahal, kita sudah mengeluarkan uang untuk tiket masuk. Bukan hanya itu, orang yang bela-belain datang dari luar kota terpaksa menyiapkan dana ekstra. Alhasil, tabungan kita semakin mantab, bukan? Mantab alias makan tabungan alias ngabisin duit. Ngilu pokoknya.

Kalau begitu, supaya nggak semakin mantab, bisa memantau akun resmi situs lowongan kerja di Twitter atau Facebook. Namun, hampir setiap waktu dibuka, yang banyak malah status akun nyinyiran. Ya soal pilkada, pro-kontra kebijakan, dan sejenisnya. Agak aneh memang, kok banyak orang seperti itu? Belakangan baru sadar kalau itu juga pekerjaan, bahkan menjadi profesi baru. Oh, baiklah…

Nah, giliran ada lowongan yang cocok, tanpa pikir panjang langsung saja kirim email. Statusnya pun terkirim. Senang tahap pertama, berhasil dilalui. Setelah itu, menunggu. Satu, dua, tiga minggu berlalu kok tak ada balasan? Dan, memang tak akan pernah ada balasan alias nihil. #Life

Kalau kata motivator yang nggak super-super amat, kegagalan adalah ya kegagalan. Kalau akhirnya berhasil, kita boleh mengatakan dengan dada membusung kalau kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kalau gagal terus, ya selamanya dibilang gagal.

Yang paling penting adalah bagaimana terus memelihara semangat. Nah, kalau pada akhirnya ada juga perusahaan yang ingin interview, anggaplah itu bonus dari semangat yang dipelihara. Ini supaya kita nggak mudah down kalau ditolak terus.

Saya sendiri pernah sampai pada tahap itu. Ternyata interview itu tidak gampang. Saya gagal. Sakitnya lagi, ketika interview di salah satu perusahaan, pewawancara bilang kalau CV (Curriculum Vitae) saya tidak menarik. Padahal, saya sudah mendesain CV semenarik mungkin, hanya minus gincu, eye liner, dan maskara saja.

Kalau dari sisi pengalaman, saya merasa lumayan mumpuni di bidang yang saya minati itu. Tapi beberapa kali gagal pada tahap interview. Kadang merasa iri dengan beberapa teman yang cepat mendapat kerja. Saya pun akhirnya mengevaluasi apa yang salah dan apa yang kurang.

Setidaknya, menurut saya sih, ada beberapa hal yang harus kita siapkan sebelum menjadi fresh graduate. Tentunya menjadi fresh graduate yang “tidak biasa”. Berikut analisis sederhana ala-ala saya:

1. Bergabung di UKM

Ini UKM singkatan dari Unit Kegiatan Mahasiswa, bukan Unit Kenangan Mantan. Tidak ada salahnya, setelah mata kuliah berakhir, kita menyibukkan diri di UKM. Kita bisa memilih unit mana yang sesuai dengan minat. Keuntungan bergabung dengan UKM, selain pengalaman dan teman baru, kita juga akan mendapatkan kenalan bahkan gebetan baru di luar kampus.

Dengan begitu, tali silaturahmi bisa tetap tersambung. Barangkali, ketika sudah lulus, ada informasi-informasi tentang lowongan pekerjaan dari mereka. Syukur-syukur bisa berteman sama anak konglomerat supaya bisa masuk ke perusahaannya – kalau ada dan kalau bisa. Kalau nggak, ya nggak apa-apa.

Mungkin ada teman semasa di UKM yang bisa jadi partner usaha, itu lebih bagus dan mandiri, meski masih UKM juga. Tapi UKM di sini maksudnya Usaha Kecil dan Menengah. Kan asik, tho? Judulnya bisa “Dari UKM ke UKM”?

2. Bergabung di Komunitas

Sama halnya dengan bergabung di UKM, kita bisa mencari komunitas yang sesuai dengan minat. Misalnya komunitas fotografi, musik, olahraga, buku, kajian, maupun aksi. Keuntungannya pun sama, kita bisa mendapatkan pengalaman dan kenalan baru di luar kampus.

Bedanya, di komunitas ini, kita akan mengenal orang lebih banyak dan lebih luas lagi. Asalkan tidak kesasar dan tidak terdampar di padepokan-padepokan penghisap ‘aspat’ dan pengganda uang, tak jadi masyalahh…

Sewaktu kuliah, saya pernah tergabung dalam beberapa komunitas. Salah satunya komunitas yang fokus untuk kampanye aktivasi taman. Beberapa kali bekerja sama dengan pihak lain seperti komunitas, perusahaan, dan pemerintah kota.

Dari situ, saya bisa tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan perusahaan dan aparat pemerintahan. Pengalaman ini sangat berguna ketika saya bekerja di perusahaan saat ini.

3. Menjadi Relawan

Banyak kegiatan dan acara yang membuka lowongan untuk menjadi relawan atau lebih dikenal sebagai volunteer. Relawan adalah orang yang mau memberikan waktu dan tenaganya untuk membantu tanpa dibayar. Tapi kok ada relawan yang minta jabatan? Ah sudahlah…

Biasanya, ada juga beberapa relawan yang diberikan setidaknya pengganti uang transportasi dan uang makan. Banyak juga kegiatan atau acara yang membuka lowongan menjadi relawan, seperti acara sosial, musik, dan olahraga.

Keuntungan menjadi seorang relawan sama seperti kita bergabung di UKM dan komunitas. Bedanya, menjadi seorang relawan akan melatih diri untuk bekerja secara team. Selain itu bisa mengasah rasa kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar, termasuk peduli sama kamu. Ya, kamu.

4. Magang

Ketika libur kuliah, bagi anda yang tidak menjalani long distance relationship alias LDR, bisa memanfaatkan waktu untuk magang di perusahaan. Dengan magang, kita mendapat pengalaman bekerja, walaupun dalam waktu singkat.

Setidaknya, kita akan mengetahui bagaimana bekerja di sebuah perusahaan. Ini akan menjadi nilai tambah saat melamar pekerjaan nanti setelah lulus. Begitu juga dalam hubungan asmara. Orang yang suka magang dari hati ke hati, tentu punya nilai tambah. Ya minimal bisa nambah-nambah kenangan.

Jadi, seorang fresh graduate yang memiliki nilai tambah, mampu membuka aura, pesona, maupun talentanya yang bisa meyakinkan perusahaan untuk bilang ke kamu, “Kalau aku sih, iyess…”