Menjadi Penulis yang Terkutuk

Menjadi Penulis yang Terkutuk

Ilustrasi (drafthouse.com)

Barangkali, cita-cita masa kecil untuk menjadi penulis adalah satu-satunya cita-cita yang saya sesali. Saya ingat kali pertama mulai memiliki sebuah cita-cita. Semasa SMP, saya membaca buku teenlit dari Penerbit G, judulnya Confeito, pengarangnya masih muda dan hingga kini cukup aktif di media sosial: Windhy Puspitadewi.

Ketika masa remaja itu, saya begitu terobsesi dengan tokoh utama bernama Hana. Kira-kira, tokoh itu digambarkan sebagai remaja yang ingin jadi penulis dan masuk sastra, namun ayah Hana lebih menginginkan Hana masuk jurusan teknik, sebab jurusan teknik masih santer sebagai penanda kesuksesan.

Dulu, saya tentu saja belum paham bahwa ternyata jurusan sastra tidak keren-keren amat dalam menghasilkan sastrawan ataupun penulis. Sebab, pada masa kini, terbukti jurusan filsafat-lah yang banyak menyumbang segenap nama penyair juga novelis keren, sebut saja Eka Kurniawan, Puthut EA, dan Dea Anugrah. Jika tahu sejak dulu tentang fakta ini, mungkin saya juga tidak bakal kagum-kagum amat dengan tokoh Hana.

Eh, kembali ke persoalan. Mengapa cita-cita jadi penulis harus disesali? Saya ini kan levelnya baru penulis status, belum juga punya buku karya sendiri. Nah, suatu hari, saya nulis status begini: “Besok aksi 313 yang diboikot produk apalagi ya?”

Yah gimana, setiap ada aksi pada tanggal-tanggal cantik itu, selalu ada saja produk yang diboikot, eh belakangan malah manusia juga ding yang diboikot. Mulai dari roti, obat masuk angin, sampai show Ernest dan Inul Daratista.

Sebagai penggembira fesbuk yang emang suka iseng, saya kan nanya baik-baik, eh tiba-tiba ada komentator yang nyeletuk. Intinya dia bilang kok ada perempuan Muslim yang suka nyinyir sama saudaranya sendiri. Perempuan yang kayak begitu, menurut dia, biasanya dijauhi laki-laki.

Tuh kan, belum kesampaian cita-cita jadi penulis saja udah disumpahin dijauhin laki-laki. Makin ngakak ketika ada temen saya yang berseloroh, “Wah, malah enak dong Kalis kalau dijauhin laki-laki, nggak pernah dideketin tukang parkir yang tiba-tiba suka datengin kita pas mau pergi, padahal wujudnya nggak ada pas kita lagi markir motor.”

“Ndhasmu!” batin saya sambil ngakak.

Tapi, tentu saja saya ingin mengonfirmasi komentator laki-laki yang pola pikirnya sungguh patriarkis itu.

Pertama, istilah ‘saudaranya sendiri’. Ngomong-ngomong, saya sering banget dapat teguran semacam itu. ‘Saudaranya sendiri’ yang mereka maksud adalah sesama Muslim, sedangkan keyakinan saya memang tidak semacam itu kok. Saudara Muslim kalau nakal ya harus dijewer. Hobi kok main boikot, nggak jelas pula apa-apa yang diboikot.

Tokoh-tokoh idola saya sih ngajarinnya ukhuwah wathoniyah alias persaudaraan berbangsa, yang juga penting dibela disamping ukhuwah Islamiyah.

Kedua, kok GR banget sih kalau laki-laki semacam itu bakal saya pilih. Dari pola pikirnya saja kelihatan banget kalau dia tipe laki-laki yang menganggap perempuan sebagai the second, sebatas manekin di etalase toko yang merasa bebas buat dipilih-pilih.

Tipe laki-laki yang nggak bakal menegakkan pasal 28 UUD 1945 alias kemerdekaan untuk berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat secara lisan maupun tulisan di lingkungan keluarga nih.

Itu baru satu contoh kasus kecil, belum lagi ketika tulisan ternyata viral dan sampailah kepada orang-orang asing yang sama sekali tidak kenal, kemudian mengajukan tuduhan serius layaknya kita adalah pemecah belah umat.

Pakar pemikiran Timur Tengah, Ibu Dina Sulaeman, suka memberikan semangat kepada saya agar terus semangat belajar. Saya jawab sambil berkelakar, “Iya Bu, doakan juga kuat tahan di-bully.”

Bu Dina lalu jawab lagi, “Lama-lama pasti kuat kok. Setelah 4 tahun di-bully, misalnya.”

Nasib, sungguh nasib.

Tapi, di-bully itu sungguh bukan sebuah prestasi. Saya sempat berhenti menulis dua bulan, karena merasa mengafirmasi tuduhan sebagai kafir, munafik, dan pemecah belah umat itu. Gini-gini, saya kan aslinya salihah, takut kepada hal-hal berisik dan tidak menyenangkan juga.

Alhasil, pada suatu malam, Mbak Alissa Wahid memberi saya sebuah buku berjudul The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion karya Jonathan Haidt. Pengarangnya adalah seorang antropolog mazhab Pennsylvania yang ternyata tidak sejalan dengan gurunya, yakni Stuart Mill, yang terkenal mewakili aspirasi orang-orang liberal dan libertarian itu.

Salah satu bab di dalam buku itu yang saya pikir agak nyambung dengan situasi masyarakat Indonesia adalah sub judul Can’t We All Disagree More Constructively? Oh, maksudnya, ini bab sesuai kebutuhan saya sebagai penulis status fesbuk yang tidak cukup bijaksana sehingga rajin kena bully.

Sub judul itu menjelaskan soal matriks moral yang dipakai oleh kaum liberal dan matriks moral yang dipakai oleh kaum sosial konservatif. Memang kalau dipikir-pikir, dunia ini nggak lebih dari pertentangan Stuart Mill yang memuja hak-hak pribadi dan Emile Durkheim yang membela kepentingan kelompok tanpa peduli ada manusia yang jadi prisoner of society sih, gaes. Oh, betapa bajingfay

Menurut matriks, nilai yang paling dijunjung tinggi oleh kaum liberal adalah perlindungan pada mereka yang mengalami opresi atau terbatasi hak-hak asasinya. Sedangkan kelompok sosial konservatif begitu setia menjaga institusi atau lembaga dan tradisi untuk memelihara keberlanjutan sebuah komunitas tertentu.

Sedangkan enam elemen prinsip yang menjadi pertentangan adalah care vs harm, liberty vs oppression, fairness vs cheating, loyalty vs betrayal, authority vs subversion, dan sanctity vs degradation.

Kaum liberal mengagungkan tiga elemen pertama, yakni membela unsur care, liberty, dan fairness. Sedangkan kelompok konservatif membela tiga elemen berikutnya, yakni loyalty, authority, dan sanctity.

Lalu, menurut Mbak Alissa, jika kita ingin agar tulisan ‘cukup’ diterima oleh semua pihak, kita harus sebisa mungkin merangkai kalimat yang ‘adil’ untuk memuat keenam elemen itu. Tidak berat sebelah.

Lalu, saya mbatin dengan hardikan andalan untuk diri sendiri: Modyar…

Masalahnya, saya pun tidak yakin, jika suatu saat bisa menyajikan konten yang faktual dengan memuat enam elemen itu secara adil, apakah netizen mau membaca sebuah ulasan secara utuh? Yang sudah-sudah, seringkali mereka tidak peduli pada alur gagasannya, tapi semangat sekali ngetik komentarnya.

Saya tahu, tanggung jawab untuk bijaksana dalam menulis isu-isu sensitif bukan hal mudah setelah mendengar nasihat itu. Saya pun pulang dalam keadaan gontai dan merasa mendapat kutukan, karena pernah punya cita-cita menjadi penulis…

  • Agnes Susanty

    Salut, Mba Kalis… saya tunggu buku nya yah… 😊😊😊