Menjadi Kritis Akibat Gaul di Pasar

Menjadi Kritis Akibat Gaul di Pasar

Pasar Santa di Jalan Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan, lagi ngehits di kalangan anak muda Jakarta. Pasar tradisional yang mengusung konsep wisata belanja dan kuliner ini menjadi salah satu tempat gaul para hipster terutama saat weekend.

Menyusuri Pasar Santa seperti berjalan di lorong-lorong gelap kota New York dalam film-film Hollywood. Sejumlah toko dibuat begitu chic dan modern, dengan nuansa vintage romantic, rustic, dan minimalis.

Banyak anak muda kreatif yang mengisi lapak di Pasar Santa dengan sejuta kreativitas dan barang jualan unik. Saat weekend, seringkali ada kegiatan seru seperti pembacaan puisi sampai ngejam bareng.

Anak-anak muda yang datang ke sana rela berlama-lama nongkrong sambil kongkow. Mulai dari bicara santai hingga topik hangat yang menjadi pemberitaan di media massa. Beberapa anak muda bahkan serius berdiskusi dengan bebas tanpa intervensi.

Pasar Santa, kafe, bar, dan beberapa club di Jakarta kini bukan lagi sekadar tempat bersenang-senang, melainkan sebuah ruang publik. Tempat-tempat gaul tersebut menjadi wahana diskursus masyarakat, dimana orang secara bebas menyatakan sikap terhadap persoalan sosial maupun politik.

Ruang publik tanpa intervensi merupakan syarat penting terciptanya kehidupan demokrasi yang sesungguhnya (substansial). Selama ini, demokrasi di Indonesia hanya bersifat prosedural.

Adalah Jurgen Habermas, seorang filsuf dan sosiolog dari Jerman, yang selama ini dikaitkan dengan konsep ruang publik atau public sphere. Habermas yang lahir pada 1929 itu merupakan generasi kedua dari Mazhab Frankfurt.

Habermas adalah penerus dari ‘Teori Kritis’ yang semula ditawarkan oleh para pendahulunya, antara lain Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse. Habermas mengabdikan hidupnya untuk proyek kritik pencerahan atau yang disebut sebagai wacana filosofis tentang modernitas.

Bagi Habermas, public sphere merupakan suatu realitas kehidupan sosial dimana terdapat suatu proses pertukaran informasi dan berbagai pandangan mengenai pokok persoalan yang tengah menjadi perhatian umum. Dari ruang publik tersebut, maka terciptalah pendapat umum.

Dengan pendapat umum tersebut, maka pada gilirannya akan membentuk kebijakan negara dan pada akhirnya akan membentuk suatu tatanan masyarakat secara keseluruhan.

Habermas mencoba menggambarkan munculnya public sphere di kalangan borjuis dalam spirit kapitalisme liberal pada abad 18. Ruang publik tersebut dapat ditemui dalam realitas sejarah masyarakat Inggris, Perancis, dan Jerman. Pada masa sebelum itu, tidak ada ruang sosial yang layak disebut “public” sebagai lawan dari “private”.

Konsep public sphere memasuki warna baru seiring mulai memudarnya kelompok borjuis dalam konteks kemajuan masyarakat industri dan munculnya demokrasi massa. Di satu sisi, negara yang berkepentingan mengendalikan kapital menjadi semakin intervensionis.

Habermas berhasil membangkitkan kembali ‘Teori Kritis’ dengan paradigma baru. Figur paling terkemuka dan kontroversial dalam dunia perdebatan sosio-kritis dan filosofis itu menambahkan konsep komunikasi, sehingga memecah kebuntuan ‘Teori Kritis’ yang pernah ditawarkan oleh pendahulunya.

Di Indonesia, negara belum memiliki cukup prasyarat untuk bisa menyediakan public sphere yang memadai. Di sisi lain, media massa dikendalikan oleh kekuatan pasar, serta kepentingan modal dan politik.

Pembatasan ini akhirnya mendorong masyarakat menciptakan ruang publiknya sendiri seperti di pasar, kafe, bar, mal, kampus, kantor, atau tempat lain yang benar-benar bebas intervensi.