Aku Ingin Jadi Kapitalis, Setidaknya selama Ramadan

Aku Ingin Jadi Kapitalis, Setidaknya selama Ramadan

Ilustrasi (quranalonebesthadith.wordpress.com)

Ramadan adalah genangan, duh maaf, kenangan maksudnya. Ya Tuhan… udah pertengahan 2017 bercandanya masih gini-gini aja. Untungnya, Juni ini masih bulan Ramadan. Itu artinya, kalian pasti memaafkan kegaringan saya. Daripada mengumbar ujaran kebencian?

Ingat, ini Ramadan, bulan penuh kebaikan. Dibandingkan bulan-bulan lainnya, Ramadan adalah bulan yang dinantikan oleh banyak orang di negeri ini. Alasannya banyak, mulai dari upaya mengakumulasi pahala hingga modal.

Yang karyawan, buruh, atau apapun itu namanya, pasti tidak sabar menunggu THR cair. Ya iyalah, kalau anda bos atau pemegang saham, yang ditunggu bonus atau dividen tahunan. Beda kasta.

Eh tapi, bagaimana yang pengangguran seperti saya? Hmm… Ya balik lagi, karena ini bulan penuh kebaikan dan saling berbagi, berarti menunggu kebaikan orang lain, heu… heu…

Bicara Ramadan, saya sempat mengikuti kelas literasi bertajuk ‘Ramadan di Kampung Halaman’. Dalam diskusi itu, saya dan para peserta menceritakan pengalaman selama Ramadan di tempat tinggal masing-masing.

Berhubung para peserta diskusi kebanyakan berasal dari Jawa Barat, maka pengalamannya hampir mirip. Ibarat kata, seperti saya dan Hamish Daud, mirip-mirip. Ini mungkin dipengaruhi oleh kesamaan kebiasaan dalam spektrum perjodohan sosial budaya.

Lalu, saya kembali teringat tulisan Zen RS berjudul ‘Ibadah sebagai Piknik’. Entah mengapa, setiap Ramadan datang, tulisan itu selalu saya baca lagi. Mungkin karena pengalaman yang tak jauh berbeda, yang membuat perasaan sentimental saya kembali hadir.

Bagi saya, Ramadan selalu ada cerita tersendiri. Baik itu pada pagi hari, siang, sore, maupun malam. Dini hari juga, kalau ada siaran langsung sepak bola aja. Serasa nonton bola bersyariah. Apalagi kalau taruhan.

Eits… tunggu dulu, taruhannya bukan uang, tapi diganti ibadah. Misalnya, yang kalah harus mengaji satu juz. Mirip ‘one day one juz’. Tapi kalau itu kan surgawi banget, yang ini justru kombinasi asik antara duniawi dan surgawi: ‘one game one juz’.

Tapi, dari banyaknya kegiatan dalam satu hari, yang paling saya suka adalah ngabuburit. Istilah ngabuburit sendiri berasal dari Bahasa Sunda, dengan kata dasar burit yang berarti sore atau menjelang maghrib.

Seiring perkembangan, istilah ini tak hanya dikenal di Jawa Barat, namun sudah di-Indonesia-kan. #SayaIndonesia #SayaNgabuburit.

Nah, di kampung saya, sambil menunggu azan maghrib berkumandang, ngabuburit dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya yang sampai saat ini belum punah, yakni bermain monopoli. Ya iyalah, masa main halma, congklak, ini era milenial Bung, paham?

Bukan tanpa alasan permainan monopoli begitu favorit. Apalagi, jika ditemani gebetan, saya yakin rating azan maghrib di TV anjlok. Ngomong-ngomong, masih ingat permainan monopoli nggak? Itu lho, permainan yang bikin kita bermimpi jadi orang superkaya yang kapitalistik. Mendidik banget kan?

Cara bermainnya pun relatif mudah. Paling banter, saya harus bisa sedikit berhitung. Yang dihitung adalah uang, benda yang disukai oleh semua orang di jagat raya ini.

Dan, yang paling penting, keinginan saya untuk menjadi seorang kapitalis dengan menguasai jaringan bisnis bisa terwujud. Saya juga bisa seenak jidat keliling dunia hanya dengan melempar dadu.

Tapi, tetap saja, menjadi kapitalis sejati seperti itu butuh insting dan keberuntungan agar cepat kaya. Tujuan akhirnya adalah menjadi penguasa. “Enrichissez-vous!” atau “Jadilah kaya!”

Seperti seruan cendekiawan dan ahli sejarah yang menjadi menteri utama Prancis pada abad ke-19 bernama Francois Guizot bahwa setiap orang harus menjadi kaya.

Dan, itulah inti dari permainan monopoli kontemporer. Jangan kasih ampun, jadilah kapitalis yang terus-menerus mengeruk kekayaan sampai pebisnis lain pailit. Begitu bukan?

Namun, selidik punya selidik, niat awal pembuatan permainan itu justru untuk mengkritisi sistem ekonomi kapital, khususnya proses monopoli. Nah, Lizzie Magie, seorang aktivis feminis kiri yang mematenkan permainan tersebut pada tahun 1903. Menjadikannya sebagai medium penyebaran paham politik.

Pada awal abad ke-20, permainan papan ini ngehits di kalangan kelas menengah. Ide awalnya terinspirasi dari tokoh idola Lizzie bernama Henry George, seorang ekonom berpengaruh.

George terkenal dengan argumen bahwa kemiskinan disebabkan oleh kepemilikan pribadi dan monopoli individu atas tanah, sehingga harus diterapkan apa yang namanya pajak nilai lahan.

Maka, Lizzie pun menamakan permainan ini Landlord’s Game. Selama tiga dekade, permainan ini makin meroket popularitasnya di kalangan kiri, khususnya kaum intelektual kampus.

Namun, sejarah soal penciptaan permainan monopoli disembunyikan. Setelah Parker Brothers membeli paten dari Lizzie pada 1930-an, kemudian memodifikasi beberapa aturan permainan, dan ini tanpa koordinasi dengan sang pemilik ide.

Parahnya, nama Lizzie Magie enggak dicantumkan sebagai pencipta, sehingga selama beberapa dekade sejarah awal mula permainan ini dikaburkan.

Permainan ini pun telah berumur lebih dari seabad dan tetap digemari sampai saat ini. Bahkan eksistensinya akan tetap terpelihara, karena mungkin telah terdigitalisasi. Namun, tetap saja, bermain monopoli secara konvensional tak akan tergantikan, karena yang penting adalah soal interaksinya.

Yuk, ngabuburit main monopoli untuk mengeruk harta agar menjadi penguasa!

Tapi tuan…