Mengunjungi Gurun Mure Ore, Persembunyian Drakula yang Tersisa
SERIAL FIKSI MISTERI

Mengunjungi Gurun Mure Ore, Persembunyian Drakula yang Tersisa

Ilustrasi gurun pasir (dearyoti.com)

Dahulu kala, pemburu drakula adalah profesi yang amat bermartabat, meskipun tidak lama. Baranov Bogdanovic, misalnya, termasyhur sebagai jenderal pemburu drakula pada abad pertengahan.

Bersenjatakan pasak, martil dan air suci, ia memburu drakula di seantero Eropa Utara dan berhasil membuat status mereka menjadi langka. Orang-orang menjulukinya pahlawan sejati, dan pelbagai ode dibuat untuk mengenang pertarungan legendarisnya dengan Victor Prince, moyang drakula.

Banyak orang percaya bahwa Bogdanovic adalah jenderal terakhir pemburu drakula. Secara garis besar, pendapat mereka benar. Namun, Laskar Pemburu Drakula tetap berderap maju melintasi zaman, meneruskan tugas suci Bogdanovic yang ingin melindungi dunia.

Meski begitu, sudah tak ada lagi orang yang memegang jabatan jenderal pemburu drakula. Begitu pula dengan kolonel pemburu drakula, mayor, atau bahkan letnan. Letnan terakhir mati tujuh dasawarsa lalu akibat jantungnya tertembak senapannya sendiri.

Yang tersisa adalah sersan pemburu drakula, seorang lelaki lulusan teknik elektro yang percaya bahwa dunia tak butuh lebih banyak lagi orang yang mengakrabi kabel, dioda, dan setrum arus bawah. Namanya Jermija Goodhope.

Sersan Goodhope adalah anak kunci untuk membuka pintu misteri tentang drakula, karena menurut sumber terpercaya, lelaki inilah satu-satunya manusia yang tahu persis tempat tinggal drakula yang tersisa. Kami meminta ia mengantar ke sana, dan ia bersedia.

***

Termometer menunjuk angka 56 derajat celcius, suhu yang terbilang normal untuk Gurun Mure Ore, padang pasir misterius yang tak pernah ada di dalam peta. Matahari telah tergelincir ke barat, tetapi teriknya masih membakar. Tak ada tanaman apa pun sejauh mata memandang. Dan, kompas kami sedari tadi macet bekerja. Jarumnya terus berpusing seperti baling-baling.

Untunglah kami sudah dekat dengan tujuan: pondok batu berbentuk limas di balik bukit pasir, tepat di jantung Gurun Mure Ore. Pondok itu berada di luar jalur karavan, tersembunyi oleh keganasan alam dan letak geografisnya.

Pondok batu itu tak berpintu, juga tak berjendela. Batu yang disusun dengan presisi itu tak menyisakan celah sedikit pun untuk cahaya masuk, membuat kami menebak-nebak dengan cara apa penghuninya keluar-masuk.

Dan, berhubung penghuninya lebih memilih untuk mengunci diri kala matahari masih bersinar, kami terpaksa menunggu hingga petang. Tetapi drakula yang ini tak keluar saat senja.

***

“Zaman dulu belum ada apotek 24 jam.”

Lelaki paruh baya itu membuka percakapan. Sebelumnya, ia menuang anggur lalu bersulang untuk pertemuan kami. Sebelumnya lagi, ia membakar cerutu dan mengisapnya penuh gaya dan mempersilakan kami duduk di meja makan yang panjang.

Sebelum semua itu, ia menemukan kami, manusia-manusia tak diundang ini, tertidur di luar pondoknya ketika ia hendak meregangkan otot untuk memulai hari. Ia membangunkan kami dengan desisan panjang. Hal pertama yang kami lakukan adalah meraba dengan panik tengkuk masing-masing.

Namun, dengan sopan, ia menyuruh kami masuk ke pondoknya. “Angin gurun tak baik untuk persendian,” ujarnya. Kami pun bersedia sambil memastikan bahwa enam butir granat masih tersimpan di dalam tas.

Kenyataannya, bangunan limas itu hanyalah kubah bagi kediaman sang drakula. Pondoknya di bawah tanah, bertingkat empat ke bawah dengan tiap tingkatan berukuran cukup luas untuk menggelar turnamen Wimbledon. Meja makan ada di tingkat terbawah.

“Zaman dulu belum ada apotek 24 jam,” ulangnya.

Terlepas dari penampilannya yang menguatkan stereotipe drakula, suaranya amat nyaman didengar, sehingga cukup mengherankan ia selama ini tak melamar menjadi penyiar berita.

“Semua orang juga tahu,” kata sersan Goodhope.

Sejak bersulang tadi, ia tampak gusar dan agak ketus, dan ini mungkin berkaitan erat dengan profesinya. “Bisakah anda menjelaskan sesuatu yang bukan omong ko…“

“Begini… Victor Prince adalah moyang kaumku. Ia tak pernah berjemur sejak perubahan fisiologis pada tubuhnya. Sebagai gantinya, perlu kalian catat, ia mulai mengonsumsi darah segar untuk mengganti nutrisi.”

“Di film tidak begitu,” sergah sersan Goodhope. “Drakula butuh darah untuk hidup abadi, bukan untuk mengganti nut…”

“Sejak kapan film-film itu memutar kebenaran, anak muda? Moyangku mengerti bahwa menghisap darah orang lain adalah perbuatan barbar, tapi ia tak punya pilihan. Belum ada apotek 24 jam saat itu. Seandainya perubahan fisiologisnya terjadi di zaman ini, ia lebih senang memborong kapsul penambah darah dan obat-obat lainnya, bukannya keluyuran dan mencucup leher orang.”

Kepala sersan Goodhope seolah mengeluarkan uap. Ia tak senang disela dua kali oleh siapa pun, apalagi oleh seseorang yang mestinya ia habisi.

***

Setelah itu, sang drakula lebih banyak menuang anggur, menghisap cerutu, dan bercerita kisah-kisah fantastis yang amat sulit kami percayai. Misalnya, ada banyak bangsawan yang menikahi drakula secara tak sengaja, lalu membikin legalitas pembasmian drakula di teritorinya. Juga penyihir.

Dua recorder terus merekam percakapan ini.

“Paradoks yang menyenangkan, bukan?” tutur sang tuan rumah. “Tetapi akibat peraturan sialan itulah aku tersudut hingga ke sini. Terbuang dari peradaban dan terpisah dari keluarga besarku yang mengagumkan. Maksudku sebelum mereka berbondong-bondong menikah dengan manusia dan merusak gen murni yang semestinya mereka pelihara.”

“Apakah ada efek buruk dari pernikahan semacam itu?”

“Mereka tak lagi nyaris abadi.” Wajahnya datar ketika berujar. “Entahlah. Mereka memang menjadi bangsawan dan praktis menguasai Eropa, dan tak bisa kusangkal kalau mereka amat jenius. Tetapi, hidup tak sampai seratus tahun terdengar buruk.”

“Jadi,” dengan hati-hati kami bertanya sesuatu yang menjadi alasan kami ke sini, “Dengan semua kejeniusan dan prestise yang kaum anda miliki, apakah ada ambisi untuk menguasai dunia?”

Sang tuan rumah menuang anggur untuk dirinya sendiri. Ia diam sejenak dan memandang kami sebelum menjawab, “Dunia tak pernah bisa dikuasai oleh siapapun. Hanya manusia biasa yang mampu berpikir sekonyol itu.”

Kami memandangnya dengan tatapan yang seolah-olah berkata, “Kau belum menjawabnya.” Tapi ia tampaknya tahu sehingga menenggak tandas anggurnya, menuang anggur lagi ke gelasnya, lalu menenggaknya hingga tandas lagi. Cukup mengherankan melihat pipinya tak bersemu merah.

“Ya, ya, baiklah – dengar! Generasi saat ini memang berumur pendek dan tak begitu berselera pada darah. Kudengar sebagian dari mereka malah menjadi vegetarian yang taat. Tetapi, yah, mereka tetaplah drakula. Selalu ada ambisi untuk melakukan sesuatu yang kalian sebut dengan kekejian, suatu dorongan naluriah untuk menguasai sesuatu, yang ternyata lebih menyenangkan ketimbang menguasai dunia. Sebut saja itu ketakutan.”

Mulai menarik.

“Generasi muda kaumku menyusup ke pelbagai lini kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, militer, hingga teologi. Apa pun.” Sang tuan rumah memantik ulang cerutunya. “Mereka tak mengubah substansi keyakinan orang-orang. Mereka hanya menanam benih ketakutan pada apa pun yang orang-orang yakini.”

“Tetapi masyarakat modern mampu menalar dengan lebih jernih dan…”

“Dan oleh sebab itulah lebih mudah dikuasai, anak muda.” Tiga kali ia memotong ucapan sersan Goodhope, dan itu membuatnya makin sebal. “Mereka menanamkan ketakutan di dalam nurani, dan berhasil. Lain waktu mereka memberi rasa takut terhadap akal, dan berhasil pula. Orang-orang modern sebenarnya tak tahu harus memakai apa untuk bertindak.”

Ia pun kembali menyerocos.

“Kami merasa puas melihat orang-orang bergerak atas dasar ketakutan. Orang-orang takut dijajah; mereka menciptakan senjata. Orang-orang takut lapar; mereka menjajah wilayah lain. Orang-orang takut pertikaian; mereka menciptakan sistem pemerintahan. Orang-orang takut tersisih; mereka menghancurkan sistem pemerintahan. Paradoks, anak muda, adalah seni tertinggi yang bisa dihasilkan oleh ketakutan.”

“Bukankah itu sama saja dengan menguasai dunia?”

“Kau keliru lagi,” kata si tuan rumah. “Dunia tak pernah dikuasai siapa pun, dan akan terus begitu hingga akhir. Tetapi ketakutan bisa dikuasai, dan hal tersebut lebih memuaskan.”

Sang drakula kemudian kembali melanjutkan kata-katanya.

“Perhatikanlah dengan saksama di sekelilingmu. Tak ada lagi orang tulus di dunia ini. Orang tua memelihara anaknya dengan dasar ketakutan, anak menghormati orang tua dengan dasar ketakutan, pemerintah memperlakukan rakyatnya dengan dasar ketakutan, dan rakyat menjatuhkan pemerintahan dengan dasar ketakutan. Terangkan padaku, ketulusan macam apa yang menggerakkan mereka?”

Kami mengangguk-angguk, karena retorika tersebut tak perlu jawaban. Kami pun kembali bertanya, “Ketakutan yang seperti apa, yang membuat kaum anda paling berpuas diri? Ah, coba saya tebak, takut mati, bukan?”

Ia tertawa, dan tawanya jelek sekali. “Sebagian besar manusia takut mati sebesar ketakutan mereka pada hidup itu sendiri. Tapi, tidak. Ketakutan semacam itu tak memuaskan.”

“Lantas?”

“Tidak ada yang lebih menggembirakan kaumku saat ini selain melihat manusia takut tak dianggap saleh. Andai saja iman bisa dilombakan, aku yakin manusia-manusia itu saling bertikai ketika mengambil nomor pendaftaran. Darah pun tertumpah di jalan.”

***

Sudah pukul empat dini hari. Sang tuan rumah menandaskan anggurnya dan membuang cerutu yang masih berbara ke lantai, lalu menginjaknya. Puntung itu hilang, tetapi setelah mendengar semua informasi yang ia berikan, kami tak lagi punya tenaga untuk sekadar memekik heran.

Ia memberi isyarat bahwa ia harus kembali ke petinya sebentar lagi. Jam tidurnya telah terpola dengan disiplin, dan ia tak ingin merusaknya dengan alasan apa pun.

Namun, kami belum tahu identitasnya lebih rinci. Bagaimana pun, pembaca majalah kami adalah orang-orang rewel yang akan segera menulis surat protes ketika mendapati sumber beritanya ditulis anonim, apa pun alasannya. “Tuan, dengan nama apa kau ingin ditulis?”

“Asal kalian tahu, berabad-abad lalu nama asliku pernah ditulis dalam pelbagai puisi. Meski di situ aku digambarkan sebagai tokoh jahat, yang kuanggap itu sebagai pujian. Kupikir namaku cukup enak dilafalkan. Jadi, tulis saja nama asliku di majalah kalian. Victor Prince.”

Bila efek kejut bom atom Hiroshima diukur dengan skala, maka keterkejutan kami kira-kira berskala sepuluh dari sepuluh. Victor Prince, si moyang drakula, bukankah telah mati berabad-abad lalu dalam sebuah duel?

“Oh ya… Sebelum aku kembali bermimpi, aku harus meminta maaf pada kalian karena dua hal. Yang pertama, aku minta maaf karena sedari awal tak memberi tahu kalian bahwa semua informasi yang kubagikan tak pernah gratis. Ada harga yang harus kalian bayar. Dengan darah.”

Secara refleks, kami berlari ke sudut terjauh dan membuka tas yang semula berisi enam butir granat. Tapi ternyata… hilang!

“Itulah alasanku meminta maaf untuk kali kedua.” Victor berjalan mantap ke arah kami. Ia menyeringai, memamerkan taringnya yang panjang mengancam. Tangannya terjulur ke depan, seperti hendak mencekik kami, atau sekadar menunjukkan kukunya yang terhunus dan membiarkan kami berimajinasi tentang hal-hal buruk.

“Nah, anak muda, mari kita percepat permainan ini. Tengkuk siapa yang sebaiknya kuhisap lebih dulu?”