Menguji Konsistensi Kebijakan Cuti Hamil 6 Bulan

Menguji Konsistensi Kebijakan Cuti Hamil 6 Bulan

Asyiyatunnisa. Itu adalah nama yang diberikan, Friska, karyawati Opal Communication, ke putri pertamanya yang lahir minggu kemarin. Alhamdulillah, lahir normal, sehat wal afiat tak kurang suatu apapun.

Sesuai janji saya sebagai (uhuk) CEO sekaligus pemegang saham pengendali perusahaan (kecil tapi belagu) tersebut, maka Friska akan mendapatkan hak cuti hamil 6 bulan dengan tetap menerima gaji penuh.

Dikurangi cuti sebelum melahirkan sekitar 1 bulan 10 hari, Friska kira-kira dapat menikmati 5 bulan cuti dan menikmati masa-masa menjadi ibu, serta fokus memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

Ketika april lalu, saya dan teman-teman direksi yang lain memutuskan kebijakan cuti hamil 6 bulan, rasanya sudah diperhitungkan cukup matang. Masalah gaji, masalah beban kerja Friska yang akan diserap karyawan lain, dan hal-hal administratif yang menyertai lainnya.

Ternyata rencana tak sesuai harapan. Pekerjaan kantor ternyata malah meningkat untuk akhir tahun hingga semester pertama tahun depan. Memang ini di luar perkiraan sih. Kami mendapat tambahan beberapa klien dengan pekerjaan yang cukup menantang.

Alhasil, karyawan lain yang kami prediksi punya sedikit waktu luang untuk menyerap beban kerja Friska juga bakal ketiban pekerjaan yang tidak sedikit.

Bisa jadi perusahaan akan membuka rekrutmen karyawan dengan status kontrak 5-6 bulan untuk menggantikan Friska selama cuti. Tentunya dengan opsi menjadi karyawan permanen tetap terbuka.

Ya beginilah membuka usaha kecil dengan mimpi-mimpi besar. Acap kali saya dan pemegang saham lainnya harus melakukan banyak improvisasi agar roda ekonomi tetap berputar.

Inkonsistensi rencana dan realisasi ini sering kami alami, walau deviasinya tidak terlalu tajam. Misalnya ketika perusahaan berdiri, kami berjanji akan menjalankan usaha dengan apa adanya. Tidak akan merepotkan teman atau keluarga saat kondisi keuangan perusahaan berat.

Ya, tapi rencana tinggal rencana. Realisasinya perusahaan jalan tiga bulan, modal awal sudah habis. Bagaimana tidak habis, klien belum datang, perusahaan sudah harus bayar THR. Terpaksa menjilat ludah sendiri untuk cari pinjaman dari kawan-kawan.

Alhamdulillah berjalan bulan ketujuh, semua utang lunas dan perusahaan bisa jalan hampir tiga tahun tanpa pinjam-pinjam uang teman lagi. Mungkin ini yang disebut rezeki anak sholeh #halah.

Setelah Friska melahirkan tahun ini, tahun depan giliran Eka yang akan melahirkan. Tahun depan akan lebih menantang, karena beda kasus. Friska adalah staf administrasi keuangan alias functional unit, Eka adalah staf media monitoring alias bagian dari core business perusahaan.

 

Tentunya permasalahannya sungguh berbeda, jika Eka cuti hamil 6 bulan. Sudah pasti Opal harus open rekrutmen lebih awal, karena harus ada pelatihan dan menyamakan speed karyawan baru dengan kecepatan kerja tim media monitoring.

Ini tentu menjadi permasalahan menarik yang harus kami pecahkan. Namanya juga pengusaha, ya harus berusaha. Yang penting karyawan bahagia… Aku gampang #tsaaaah

Di kantor Opal juga lagi dibicarakan untuk maternity leave buat suami. Mungkin agak panjang ini pembahasannya. Tapi sudah mulai dilakukan. Belum ada titik terang, tapi kami yakin akan ada jalan keluar. Semua berangkat pada pentingnya peran suami membantu istri pasca melahirkan. Menemani agar tidak baby blues, mengasuh new born baby bersama-sama.

Saya merasa konsistensi untuk terus menjalankan cuti hamil 6 bulan akan terus menghadapi tantangan zaman. Perusahaan belum mengalami dua atau tiga dari 23 karyawan kami harus cuti hamil 6 bulan bersamaan misalnya. Atau setelah cuti panjang tiba-tiba memilih resign, padahal perusahaan sangat membutuhkannya.

Tapi kok saya tidak begitu peduli. Saya sangat yakin, semakin banyak tantangan yang harus dihadapi, semakin banyak juga uluran tangan membantu kita menyelesaikan tantangan tersebut.

Rasanya memang tak mudah untuk menjalankan kebijakan cuti hamil 6 bulan ini. Saya sarankan kalau ada yang (sok-sokan) terinspirasi perusahaan kecil belagu seperti Opal Communication, persiapkan dari awal masak-masak.

Hitung semua kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Juga dampak keuangan dan beban kerja organisasi seperti apa. Langkah heroik tanpa persiapan justru akan membahayakan.

Buat yang tidak ingin menerapkan cuti hamil 6 bulan (dengan alasan apapun) silakan saja. Tidak ada aturan yang dilanggar juga kok, hehehe. Asal jangan saya diserang seolah memberi peluru buat asosiasi buruh atau organisasi ibu menyusui untuk mendorong cuti enam bulan jadi kebijakan negara hehehe…

Apalah saya ini, cuma remah-remah rempeyek dalam seporsi nasi pecel. BTW, tidak ada yang menyerang saya kok selama penerapan kebijakan cuti hamil 6 bulan. *cari aman*

Saya sendiri tak mampu membayangkan, jika perusahaan besar dengan banyak sekali karyawan perempuan menerapkan kebijakan cuti hamil 6 bulan. Pasti tantangannya berat sekali. Tapi bisa jadi ringan sih, kalau tidak pernah terjadi hahaha…

Mana ada direksi perusahaan besar dengan status terbuka mengusulkan cuti hamil 6 bulan? Bisa dihabisi pemegang saham mereka dan kehilangan bonus, fasilitas berikut tantiemnya.

Jadi kapan RI mulai memikirkan cuti hamil 6 bulan? Entahlah. Saya tidak peduli juga. Yang penting saya melakukan apa yang saya pandang baik. Bodo amat orang memandang saya seperti apa…

Foto: skinoverhaul.com

  • Areef

    Anjir langkah yg lu ambil luar biasa, semoga makin maju perusahaan lu dengan diiringi doa . Ada aamiin ?

  • Good innovation mas! 🙂

  • Kasma Ervina Haida

    Halo mas Kokok…jika saya ingin melakukan penelitian di Opal Communication terkait kebijakan ramah keluarga tersebut apakah terbuka peluangnya…saya mhs magister profesi Psikologi…terimakasih…

  • Mbak Kasma Ervina Haida, makasih atensinya. Bisa kirim alamat email dan no tlp mbak ke mail@voxpop.id ? Kita akan kirim no tlp mas Kokok. Makasih…