Menguji Cinta Sejati Ridwan Kamil dari Jarak 150 Km

Menguji Cinta Sejati Ridwan Kamil dari Jarak 150 Km

Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung pada Februari 2017, tapi geliatnya sudah mulai menghangat. Salah satu kandidat yang disebut-sebut akan dijagokan untuk maju adalah Walikota Bandung Ridwan Kamil (RK) atau akrab disapa Kang Emil.

Berbagai kalangan melihat RK sebagai pesaing berat Ahok, karena dianggap kompeten, beragama Islam, dan santun. Meski demikian, seberapa besar peluang RK maju ke Pilkada DKI? Mari kita tinjau bersama.

1. Cinta Sejati

Tidak ada yang meragukan cinta sejati RK kepada Bandung. Buktinya, bio twitternya tertulis ‘The caretaker of lovable Bandung’.

Maklum, RK lahir, tumbuh besar, bersekolah, mencari nafkah, dan menemukan pasangan hidupnya di Bandung, sebuah kota yang berjarak 150,2 kilometer (km) dari Jakarta via tol Cipularang.

RK pun sering mengajak istrinya, Atalia Praratya, untuk berbagai urusan pemerintahan, setidaknya terkait komunikasi seperti pada video penyambutan Konferensi Asia Afrika (KAA) belum lama ini.

Ini menunjukkan RK memiliki keluarga yang harmonis. Tapi itu terkadang membuat bingung, jangan-jangan wakil walikota sudah berganti dari Mang Oded ke Teh Atalia.

2. Memegang Komitmen

RK bukan politisi kutu loncat, setidaknya belum terbukti begitu. Salah satu bukti RK memegang teguh komitmen bisa dilihat saat dia mengubah sistem penerimaan siswa baru.

Sistem ini mendorong warga Bandung menyekolahkan anaknya di sekolah dekat rumah dan memprioritaskan warga kelas bawah untuk masuk sekolah negeri.

Tujuannya untuk mengurangi beban lalu lintas, menghilangkan sekolah-sekolah favorit, dan memberikan akses pendidikan yang lebih merata.

Namun, gelombang protes tetap muncul dari banyak orang tua siswa, karena dinilai minim sosialisasi sehingga membingungkan.

Mereka pun meradang, karena walikota dinilai tidak konsisten. Mereka tidak memilih sekolah yang dekat dengan rumah demi bisa masuk ke SMA favorit.

3. Bandung Banget

Salah satu kritik bagi RK muncul dari seorang seniman yang menganggap sang walikota memainkan gimmick untuk menarik perhatian warga Bandung. Tapi, apakah gimmick ini salah?

Tulisan ‘Bandung as a Gimmick City’ menunjukkan bahwa pejabat yang serius menggarap gimmick itu belum tentu salah. Tanpa bermaksud men-generalisir, rupanya gimmick telah menjadi gaya hidup warga Bandung.

Pemerintah kolonial Belanda pun dulu merancang Bandung menjadi kota yang indah, sehingga pada 1933 pernah menjadi acuan model kota modern dunia. RK pun seorang arsitek pecinta keindahan. Hasilnya, warga Bandung bersuka ria menerima hadiah taman-taman cantik dan air mancur bercahaya warna-warni.

Meski jalanan kian macet, angkot-angkot butut makin rajin ngetem, dan ancaman banjir masih mengintai, yang penting warga happy.

4. Visioner

Orang yang menjalankan sesuatu secara setengah-setengah tidak akan mempunyai visi yang besar. Kalau perlu, bikin program-program yang jauh di luar jangkauan APBD.

Salah satu visi besar RK adalah Bandung Teknopolis. RK mengimajinasikan kantor Google akan bertetangga dengan Facebook, Microsoft, dan RIM di kawasan ini. Untuk memuluskan agenda ini, RK bela-belain sampai berkunjung ke Silicon Valley.

Tujuannya adalah Teknopolis bisa menjadi pemicu inovasi bagi para pelaku usaha teknologi di Bandung. Walau belum jelas bagaimana proses dan mekanisme inovasi yang dimaksud, namun Bandung Teknopolis yang dipresentasikan dengan ilustrasi 3 dimensi yang indah telah memukau banyak orang.

Visi besar RK lainnya adalah dalam bidang transportasi. Bandung direncanakan akan memiliki light rail transit (LRT) sebanyak 2 koridor. Untuk membangun infrastruktur transportasi ini, sampai-sampai RK mendatangi sendiri vendor LRT di Inggris.

Bagaimana cara RK membiayai program-program besarnya? Bandung Teknopolis membutuhkan dana Rp 80-100 triliun. Sedangkan APBD Kota Bandung hanya Rp 5,9 triliun.

Sementara itu, LRT per satu kilometer memerlukan dana sekitar Rp 400 miliar, sehingga akan butuh Rp 8 triliun jika akan membangun sepanjang 20 kilometer. Jelas terlihat bahwa APBD Kota Bandung akan kewalahan.

Di sini orang bisa bertanya, mengapa kok tidak menyusun program strategis yang terjangkau oleh APBD. Misalnya, memberikan subsidi bagi angkot, sehingga tidak ada lagi yang ngetem dan ugal-ugalan.

Dana Rp 400 miliar yang hanya cukup untuk membangun LRT satu kilometer bisa dipakai untuk menyubsidi Rp 200 ribu per hari bagi seluruh angkot di Bandung yang berjumlah 5.000-an tersebut.

Tapi bukan RK namanya jika menyerah pada keadaan. Demi mewujudkan visi besar untuk kota yang menjadi cinta sejatinya, RK berani menjajaki calon-calon investor dari luar negeri, tanpa takut dianggap antek asing.

Perdana Menteri Inggris David Cameron baru-baru ini sowan ke RK untuk menegaskan komitmennya membantu merealisasikan visi tersebut. Terlihat jelas bahwa Bandung memang tidak salah memilih pemimpin.

Maju atau Tidak?

Melihat empat faktor tersebut, sangat kecil kemungkinan RK maju ke Pilkada DKI. Hanya mereka yang iseng, memiliki kepentingan politik, atau pengamat abal-abal yang hendak ‘test the water’. RK dan Bandung adalah ‘match made in heaven’, tidak ada satu orang pun yang mampu memisahkan keduanya.

Ganjalan justru bisa muncul dari dalam negeri. Ketika politisi PKS @Fahrihamzah berkicau, “Negara kita masih mewarisi sentralisme dan semua berpusat di Jakarta. #AspirasiDaerah.”

@ridwankamil menanggapi ‘kolonialisme versi baru’. RK memang diketahui telah berulang-kali meminta dukungan dari pemerintah pusat. Apakah twit itu berarti pemerintah pusat kurang menanggapi proposal RK? Wallahu a’lam.

Wajar kemudian jika muncul kecemburuan sosial pada diri RK terhadap Ahok yang bisa berfoya-foya dengan anggaran Rp 69 triliun di DKI Jakarta. Sementara RK harus bersusah payah mencari investor dan Ahok malah tidak becus membelanjakan anggarannya.

Sebagai contoh, tahun lalu, penyerapan anggaran di DKI hanya sekitar 40%, paling rendah se-Indonesia. Yang lebih menyebalkan, dengan nada kurang enak, Ahok mengatakan bahwa pembangunan LRT sebanyak 7 koridor hanya habiskan Rp 35 triliun. Sungguh, persoalan anggaran ini adalah wujud kesenjangan yang nyata.

Afterall, RK adalah seorang arsitek yang membaktikan hidupnya untuk membenahi kota yang dicintainya. Jika Kota Bandung gagal membiayai visi-visi dan cita-citanya, bukan tidak mungkin RK akan menjadikan DKI Jakarta sebagai ‘klien’ barunya.

Foto: kaa2015.ucontest.info