Mengucap Hari Ibu dengan Lidah Kelu

Mengucap Hari Ibu dengan Lidah Kelu

best morning photography/shatrani.blogspot.co.id

Hari ini tanggal 22 Desember. Sekitar 87 tahun yang lalu diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia pertama di Yogyakarta. Seperempat abad kemudian, Soekarno meresmikan tanggal tersebut sebagai Hari Ibu. Darimana saya tahu? Ya Googling keleeus…

Ya, gerakan perempuan hebat Indonesia itu yang menjadi dasar generasi ahistoris hari ini untuk bergabung dalam gerakan alay bersama mengucapkan selamat Hari Ibu. Hari dimana ribuan puisi, lagu, hadiah, dan selfie bersama ibu akan mendominasi timeline media sosial.

Inilah hari yang membuat ibu merasa sangat dihargai, walau hanya sehari. Inilah hari yang membuat semua orang seperti memiliki kewajiban berlebay-lebay dengan ibu walau hanya sehari.

Biasanya para pejabat dan rezim pun akan membangun citra yang sama: sungkem, cipika cipiki dengan ibu, ziarah kubur, atau melakukan seremonial-seremonial demi penyerapan anggaran #eaaaa.

Hari yang menjadi penanda kongres perempuan bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, mengalami penyempitan makna. Menjadi hari untuk memanjakan ibu dalam sehari. Sudah itu saja. Berjalan bertahun-tahun seperti nyaris tanpa makna.

Kita menyelenggarakan Hari Ibu setiap tahun di tengah angka kematian ibu melahirkan yang cukup tinggi. Ya, sebanyak 350 ibu dari 100 ribu kelahiran di Indonesia meninggal dunia.

Millennium Development Goals menargetkan angka kematian ibu menjadi 102 dari 100 ribu kelahiran. Target itu harusnya tercapai akhir tahun ini. Entahlah tercapai atau tidak. Rasanya mustahil.

Kita memberikan selamat sehari kepada ibu-ibu yang beruntung memiliki keluarga yang supportif dan memberikan kebahagiaan. Tapi semua lupa untuk menyelamatkan calon-calon ibu masa depan. Negara melakukan pembiaran pernikahan perempuan usia 16 tahun dengan alasan yang kurang komprehensif.

Pendidikan seks yang seolah tabu untuk usia dini, dipadu dengan budaya patrineal, mengorbankan banyak calon ibu-ibu yang potensial. Kompas, 15 Desember lalu, menurunkan berita ‘Kehamilan Tak Diinginkan Memicu Tingginya Kematian Ibu dan Bayi’.

Data yang dikumpulkan dari Klinik Warga Utama PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) itu menunjukkan terdapat 64 kasus kehamilan yang tak diinginkan pada remaja usia 10-24 tahun belum menikah pada 2013.

Tahun lalu jumlahnya 67 kasus, Januari-November tahun ini 56 kasus. Kasus termuda adalah remaja hamil di usia 12 tahun. Mereka mayoritas dari kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Keseriusan mengurus calon-calon ibu masa depan tak nampak.

Kita merayakan Hari Ibu dengan gegap gempita dalam sehari. Sembari menikmati pertumbuhan ekonomi negeri ini, namun melupakan kontribusi ibu bekerja. Ya, ibu bekerja di sektor formal dan informal perannya tak tergantikan.

Mereka menjalankan tugas yang tak mudah: memberikan kontribusi perekonomian sekaligus menjadi pilar penghasil generasi terbaik. Dipuji hanya di mulut, tapi untuk mendapatkan hak cuti hamil enam bulan pun tak kunjung datang #molaaaaik.

Ibu bekerja seolah menjadi milik korporasi. Harus patuh nurut aturan bahkan kadang kepentingan anaknya ditinggalkan demi perusahaan. Ibu bekerja itu milik keluarganya, bukan hamba sahaya korporasi.

Mereka berhak mendapatkan waktu untuk mengurus anaknya sungguh-sungguh. Negara dan ekonomi mendapatkan benefit dari tenaga ibu bekerja sembari tak peduli mereka harus memompa ASI di dalam toilet atau terbebani biaya babysitter yang mahal.

Sementara sebagian perempuan level tinggi yang menjadi eksekutif tak mau mengulurkan tangan membantu sesama perempuan. Bahkan dengan gaya sombong yang dibungkus (sok) profesional berkata, ‘Saya hanya cuti hamil sebulan, lalu kerja lagi bisa kok.”

Ya, dia pikir semua orang seberuntung dia. Mampu mendaki jenjang karir yang tinggi, bergaji ratusan juta dan bisa bayar babysitter 10 sekaligus untuk merawat bayinya. Itu sebenarnya profesional atau melarikan diri dari repotnya mengurus new born baby?

Kita mengucapkan selamat Hari Ibu sembari menikmati bonus demografi. Menikmati indahnya belanja online dan kebutuhan-kebutuhan lain yang tidak masuk kategori first thing first.

Sementara Asia Timur sudah mulai dilanda ageing population. Korea Selatan, Jepang, Tiongkok mulai menggendong beratnya beban ekonomi karena ageing population.

Generasi muda yang dulu peduli dengan orang tua mulai repot mengurusi hidupnya sendiri. Gaya hidup yang kian jauh dari mendahulukan hal-hal penting membuat mereka kian jauh dari nilai-nilai menjaga keluarga dan orang tua.

Kondisi di Asia Timur membuat Bank Dunia perlu mengingatkan Indonesia dan Vietnam karena 2035-2040 bisa jadi akan mengalami kondisi serupa.

Dengan senyum mengembang kita serahkan seikat bunga ke ibu dan istri kita. Bahagia? Tentu. Tidakkah lebih bahagia jika ada tenaga yang dicurahkan bersama agar kebijakan pemerintah juga mendasarkan pada pengarusutamaan gender?

Pernahkan bisa terpetakan dari Rp 2.000 triliun lebih anggaran dalam APBN diperuntukkan sungguh-sungguh untuk perempuan? Mengapa bisa ada Rp 270 triliun lebih uang APBD mengendap di bank dan tidak terdistribusi ke masyarakat yang membutuhkan?

Lalu mengapa bisa ada anggaran pembangunan fisik ini-itu yang diresmikan seolah pilar penting negeri ini, namun tak ada pembangunan women crisis center untuk mendampingi perempuan-perempuan yang membutuhkan? Saya lebay?

Bacalah Media Indonesia 15 Desember lalu. Ada berita berjudul ‘Tingkat Perceraian Meningkat’. Dari sekitar dua juta pernikahan per tahun di Indonesia, 10% berujung pada perceraian.

Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, Prof Nasarudin Umar mengaku khawatir. Dari data Kemenag, 2,2 juta pernikahan, 324 ribu berakhir perceraian pada 2013. Angka ini melonjak drastis dibanding 2009 dimana terjadi 2,1 juta pernikahan dengan 216 ribu perceraian.

Sebanyak 70% penggugat cerai adalah pihak perempuan. Masalah utama adalah ekonomi dan ketidakcocokan. Akarnya adalah pernikahan dini dan budaya kawin siri.

Tak ada upaya negara untuk membuka konseling atau pendampingan perempuan. Bahkan negara tak memberi efek jera terhadap pria-pria bangsat yang meninggalkan perempuan dengan beberapa anak tanpa memberi nafkah untuk kehidupan mereka. Ya, mereka perempuan yang mungkin tak merayakan Hari Ibu dengan meriah.

Beginilah brutal facts yang harus dihadapi para ibu. Baik yang usia dini maupun yang sudah menjadi warga senior. Perayaan Hari Ibu boleh saja hanya sehari, namun perhatian kepada perempuan Indonesia harusnya berjalan setiap hari.

Selamat Hari Ibu wahai seluruh perempuan Indonesia. Kalian hebat. Selamat Hari Ibu, maafkan saya mengucapkannya dengan lidah yang kelu…

  • Daru

    Good stories from Mr Kokok… Keren mas! Gatel banget nih mau nulis banyak terutama soal ekonomi boleh ya di voxpop hehe…