Mengintip Sedikit Demokrasi Gembira Ala JKT48

Mengintip Sedikit Demokrasi Gembira Ala JKT48

kapanlagi.com

Salah satu syarat dari demokrasi adalah perputaran rezim. Bukan rezim lo lagi lo lagi. Dan, salah satu cara mewujudkannya melalui pemilihan umum. Indonesia sendiri, beberapa tahun lalu, sudah merayakan pemilu. Pemilu yang rasa sakitnya masih terasa di sini. Padahal, berdemokrasi itu seharusnya simpel. Dari, oleh, dan untuk senyumanmu rakyat.

Kalau begitu, berarti yang memegang kendali penuh adalah rakyat? Kalau kata dedek-dedek gemez sih begitu. Rakyat yang menentukan pantas atau tidak pantas seorang pemimpin. Vox populi alias voxpop alias suara rakyat. Halahh…

Tapi sialnya, demokrasi kita sekarang ini bukan lagi kerakyatan. Lebih tepatnya demokrasi ala pejabat dan politisi. Oligarki! Mereka yang segelintir menyetir rakyat. Rakyat dipaksa takluk oleh pejabat. Pejabat yang terkena kasus hukum pun bisa melenggang dengan mudah dan kembali menjadi pejabat daerah. Eh, ini karena pejabat atau rakyatnya yang benci-benci tapi rindu?

Belum lagi banyaknya kampanye politisi yang terlalu rasis. Terlalu menyudutkan pihak-pihak tertentu. Modal yang dibawa pun agama. Agama yang seharusnya bisa bikin rukun umat, malah dijual-jual buat alat pemecah belah. Memangnya agama barang pecah belah? Kalau pecah berarti membeli gitu?

Maka dari itu, jangan salahkan kalau rakyat memilih untuk tidak percaya lagi dengan politisi. Bagaimana mau percaya, kalau setiap hari kau membuat kami kecewa. Sudah eneg? Nggak usah ditanya lagi. Mau muntah tapi kantong kresek harus bayar 200 perak. Sayang kantong kreseknya. #EnegBerbayar

Sebagai bukti, partisipasi masyarakat dalam politik yang tercermin dalam keikutsertaan dalam pemilu sangat rendah. Berdasarkan data CSIS dan Cyrus Network, pada pemilu 2014, jumlah golput mencapai 25%. Suara mereka bahkan lebih tinggi dibandingkan PDI-P yang menang pemilu sebesar 18,95%.

Atas dasar keenegan itu pula, saya menyarankan untuk mengintip sejenak perayaan demokrasi ala JKT48. Ya, JKT48. Anda tidak salah baca dan saya tidak salah nulis. JKT48 memiliki acara rutin sejak 2014, namanya senbatsu sousenkyo. Senbatsu sousenkyo adalah ajang bagi para fans untuk menentukan member yang akan mengisi single terbaru JKT48. Caranya melalui voting yang dibuka secara umum. Semua orang bisa memilih.

Meskipun di Indonesia sistem yang JKT48 lakukan adalah hal yang baru, tapi di negara asalnya, Jepang, sistem pemilihan seperti ini sudah dilakukan oleh kakak tertua mereka, AKB48. Tahun 2009, AKB48 menggunakan pemilihan terbuka untuk memilih 30 member (21 senbatsu dan 9 undergirl) yang akan mengisi single terbaru mereka, yang berjudul ‘Iiwake Maybe’.

JKT48 melakukan pemilihan untuk pertama kali pada 2014 dan menempatkan Melody Nurramdhani Laksani (as usual) sebagai pemenang atau center dalam single terbaru mereka saat itu, ‘Gingham Check’.

Dan saat itu pula, muncul beberapa member yang dulunya dianggap remeh oleh banyak pihak termasuk manajemen, saat pemilihan mampu masuk 10 besar. Bisa dikatakan pemilihan member oleh fans adalah jalan alternatif yang diberikan manajemen untuk member agar bisa berprestasi.

Pada 2016, pemilihan member JKT48 diikuti oleh seluruh member JKT48, dari generasi pertama sampai keempat yang jumlahnya 64 member. Kok bukan 48? Lha, member JKT48 dari awal berdiri sampai saat ini memang belum pernah mencapai angka 48 kok.

Sistem pemilihan ala JKT48 dan pemilu di Indonesia sedikit berbeda. Kalau di pemilu, berlaku one man one vote, maka di pemilihan ala JKT48, prinsip itu tak berlaku. Karena setiap orang tidak dibatasi untuk memberikan suaranya. Mau memberikan 100 suara untuk satu member sekalipun, itu sah saja.

Atau, mau memberikan 100 suara untuk 20 member pun bebas. Prinsipnya, siapa yang mampu mengumpulkan uang lebih banyak, maka mereka menang. Lho?

Kalau ada yang bilang biaya politik para anggota DPR saat nyalon itu mahal, maka biaya politik yang dikeluarkan member dalam setiap pemilihan juga mahal. Pada 2015, suara yang masuk untuk seorang Jessiva Veranda, pemenang pemilihan member JKT48 adalah 22.404 vote. Satu vote oleh fans dijual dengan harga Rp 5000 (angka 5000 saya dapatkan dari penjualan tiga vote yang ada di dalam tiket handshake event dan dihargai 15.000).

Kalau dihitung-hitung, Veranda harus mengeluarkan lebih dari Rp 100 juta untuk bisa menang. Bedanya, dalam pemilihan member JKT48, member tidak mengeluarkan biaya apapun. Fans lah yang mengeluarkan uangnya untuk membuat member idolanya menang. Mungkin ada beberapa orang tua member yang memberikan bantuan untuk fans, tapi jumlahnya tidak begitu besar. Apakah ada? Ya ada dong.

Dalam pemilihan member JKT48 juga dikenal kampanye, seperti pemilu-pemilu yang sudah dilakoni di Indonesia. Kampanye yang dilakukan oleh member JKT48 pun sempat diliput oleh salah satu stasiun televisi swasta yang letak studionya berdekatan dengan JKT48 Theater. Sudah seperti kampanye ala anggota DPR, bukan?

Bedanya, member tidak memberikan janji-janji palsu, yang tidak mungkin mereka lakukan. Member tak akan meniru langkah partai-partai yang menyatakan bahwa mereka anti-korupsi dan mengatakan tidak pada korupsi, padahal korupsi. Member cukup kampanye dengan kedipan mata dan memberikan perhatian-perhatian palsu untuk fans.

Sungguh, hati fans sebegitu mudah luluh. Jangan dikira wota yang suka ngamuk-ngamuk nggak jelas di timeline Twitter itu jagoan di dunia nyata. Cukup suruh Melody foto dengan pose duck face, sesangar apapun wajah wota akan berubah jadi lugu, njijiki, dan jadi ingin nabok.

Member tak perlu repot-repot mengeluarkan dana untuk membuat banner, spanduk, ataupun kaos murah yang bisa dipakai fans saat kampanye terbuka. Tak perlu. Fans lah yang akan melakukan segalanya buat member. Mungkin ini yang disebut militansi tanpa batas.

Andaikan Bu Megawati mau melirik JKT48 dan menjadikan mereka sebagai kiblat dalam melakukan kampanye, Bu Mega pasti akan membuat JKT48 Perjuangan dan mendapuk Melody sebagai ikon partai. Toh, nama mereka sudah sama-sama diawali dengan huruf M. Klop.

Buat kalian yang mulai muak dengan kampanye kotor ala politisi, yang menjual agama demi kepentingan politik dan jabatan tertentu, sudah saatnya kalian beralih untuk merayakan demokrasi bersama JKT48. Jangankan black campaign, sindiran-sindiran halus pun jarang mereka gunakan dalam menggaet fans.

Mereka sadar, saat mereka mengeluarkan isu-isu sensitif, fans akan meninggalkan mereka. Jangan dikira fans JKT48 bodoh-bodoh. Fans JKT48 lebih bijak dalam memilih andalan. Mereka tak mudah tertipu hasutan dan kampanye busuk. Tak seperti kalian. Iya kalian yang mudah terprovokasi dengan kampanye politik anti ini-itu.

Bagaimana teman-teman, masih percaya sama kampanye busuk ala politisi nggateli, atau mau merayakan pesta demokrasi dengan gembira?