Menggagas Gerakan “Auk Ah”

Menggagas Gerakan “Auk Ah”

fyqyfz.com

“Pemimpin kafir yang adil atau pemimpin muslim yang zalim?” tanya seorang teman, yang ikut-ikutan update keriuhan di media sosial. Hmmm… Pertanyaan yang berat di tengah malam minggu yang sedang sik-asik. Saya pun menjawab, “Auk ah.” Lalu, teman saya itu tertawa terbahak-bahak plus dibumbui emoticon yang mangap-mangap.

Jawaban itu memang singkat, terkesan cuek, atau bahkan tampak bodoh. Tapi bagi saya, jawaban itu sungguh brilian. Sebuah jawaban yang tidak main-main, karena sudah melalui kontemplasi yang mendalam, melampaui para filsuf muda gadungan macam Wahyu Alhadi, Hinayana, Gege Sureggae, atau pun Elvan De Porres.

Sekarang begini. Kenapa pertanyaan yang membanding-bandingkan antara pemimpin kafir yang adil dan pemimpin muslim yang zalim itu muncul atau sengaja dimunculkan lagi? Sangat jelas untuk menangkal serangan isu SARA yang ditujukan ke Ahok.

Kita tahu, bahkan warga yang tidak punya hak pilih di DKI pun lebih tahu, kalau suhu politik lokal di Jakarta mulai memanas menjelang Pilkada 2017. Belakangan, yang cukup signifikan, muncul isu dan tagar ‪#‎PilihPemimpinYangSeiman.

Saya tak ingin mengulas mana yang lebih sahih, meski saya jebolan pesantren. Ya betul, pesantren kilat waktu SMA dulu. Tapi bagi saya, yang santri kilat ini, perang opini yang sudah jual-jual agama itu seperti bom waktu berdaya ledak tinggi. Kita tidak perlu memakai kacamata anti gerhana matahari untuk melihat itu. Bisa kita saksikan secara langsung dengan mata telanjang bulet, kalau ini demi kepentingan politik.

Situasi di Jakarta atau bahkan Indonesia saat ini beda-beda tipis dengan Eropa saat awal-awal abad pertengahan. Lebay ya? Ah, nggak juga. Saat berlangsungnya abad pertengahan pada tahun 470-1453, agama menjadi alat untuk melegitimasi atau merebut kekuasaan. Pada masa itu pula banyak terjadi ‘perang suci’ atas nama agama. Kalau menjelang Pilkada DKI masih saja jualan agama, bisa jadi bakal ada ‘perang suci’ layaknya di Eropa saat abad pertengahan.

Lalu, ada yang membisiki saya, “Ini masalah dakwah, akhi…” Lha, kalau masalah pemimpin muslim dan non-muslim diklaim sebagai bagian dari dakwah, kenapa selalu muncul menjelang suksesi kepemimpinan? Sekali lagi, kita bisa lihat dengan mata bugil tanpa diblur, kalau itu hanyalah alat politik. Siapa yang berperang, siapa yang akan menikmati harta rampasan?

Apakah itu sudah clear? Belum ya. Baiklah kalau begitu. Berarti pola pikir anda masih berada di antara tahun 470-1453. Mungkin anda highlander seperti Connor MacLeod dari Britania Raya yang hidup abadi dari zaman ke zaman. Tapi highlander pun merasakan sebuah masa yang dikenal dengan sebutan renaissance atau kelahiran kembali. Suatu masa dimana terjadi transformasi intelektual sebagai jembatan antara abad pertengahan dan zaman modern.

Tapi sepertinya gelombang renaissance tidak sampai ke negeri yang sekarang bernama Indonesia ini. Kita masih berkutat dengan masalah yang itu-itu saja. Sedangkan bangsa lain sudah mempersiapkan diri untuk membangun kehidupan di Mars atau menambang emas di Bulan.

Jadi masih mau berdebat sampai urat leher putus soal pemimpin muslim dan non-muslim? Saya haqul yakin, agama juga tidak ribet-ribet amat. Penggiringan opini soal memilih pemimpin yang seiman atau dikotomi antara pemimpin kafir yang adil dan pemimpin muslim yang zalim itu nggak banget kalau kata alayers.

Maka dari itu, sikap kita yang ‘Auk Ah’ terhadap isu-isu SARA akan menjadi sangat penting dan strategis. Ketika teman-teman kita berbagi tautan berita, update status, atau berbicara langsung soal pemimpin muslim dan non-muslim, jawab saja singkat, “Auk Ah.” Kita pun sepertinya perlu memasang tagar ‪#‎AukAh sebagai konter atas kemunduran pola pikir yang lama-lama menjadi identitas bangsa ini.

Saya sendiri sudah memulainya, ketika ada tautan berita soal haram memilih gubernur kafir. Saya lupa sumber beritanya, mungkin karena situsnya abal-abal. Saya hanya berkomentar begini. “Kalau dulu ikut ekskul palang merah di sekolah, yang ini namanya P3K alias Pertolongan Pertama Pada Kebencian: “Auk ah…”

‘Auk Ah’ adalah obat mujarab yang tersimpan di dalam kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kebencian). Jakarta, yang katanya jadi barometer nasional, butuh kotak-kotak P3K tersebut. Bukan kotak pandora ala sop Jonro, Hafidz Ariel, atau Mas Puyengan. Sebab, kotak-kotak yang mereka punya itu hanya akan menjadi petunjuk bagi kita untuk mengetahui isi dan kapasitas bagasi otak mereka.

Kotak P3K ini juga tidak perlu disematkan label halal oleh MUI. Sudah pasti halal hukumnya. Para ulama di MUI itu cerdas-cerdas dan bijak, meski kadang khilaf. Ulama kan juga manusia. Lagipula, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menebar kebencian. Bukan begitu pak kyai?

Mengenai pilihan siapa yang pantas memimpin DKI 1 nantinya, itu sih urusan masing-masing saja. Yang mau ‘Ahok Ah’ karena dia galak, ya silakan. Yang mau ‘Yusril Ah’ karena penggemar Mickey Mouse, ya terserah. Yang mau ‘Dhani Ah’ karena keganjenan, ya itu hak anda. Yang mau ‘Sandi Ah’ karena tajir, ya up to you.

Tapi, kalau ada yang lebih memilih ‘Auk Ah’ karena nggak ada pilihan, ya monggo… Yang mau komentar ‘Auk Ah’ sama tulisan ini juga no problemo