Mengenal Karakter dan Identitas Lewat Sepiring Mie Aceh

Mengenal Karakter dan Identitas Lewat Sepiring Mie Aceh

Mie Aceh Kepiting dan Kerupuk Mulieng

Kajhu adalah nama sebuah kampung di Baitussalam, Aceh Besar. Letaknya tak jauh dari Banda Aceh, hanya beberapa menit saja. Di Kajhu, berdiri satu bangunan yang menjadi ‘ikon’ bagi orang untuk mengenal daerah yang sebetulnya banyak terdapat pabrik batu bata ini. Bangunan itu adalah penjara. Ya, penjara!

Banyak orang di Aceh kalau mendengar nama Kajhu langsung teringat hotel prodeo tersebut. Tidak susah menemukannya, sebab letaknya memang di pinggir jalan. Tepat di belakang penjara itulah, berdiri perumnas Pola Keumala, tempat saya tinggal kini.

Sewaktu gempa dan tsunami melanda Aceh pada 2004, wilayah Kajhu rata dengan tanah. Semua kampung dan ribuan penduduk yang dulu tinggal di sini tergulung ombak besar saat bencana paling dahsyat pada abad 21 itu menerjang Serambi Mekkah. Tapi sekarang wajah Kajhu kembali ceria. Kehidupan telah kembali menggeliat.

Adalah pria bernama Muslim, yang ikut menggeliatkan kembali kehidupan di Kajhu. Dia adalah penjual Mie Aceh dengan paduan kepiting payau. Muslim sebenarnya berasal dari Pidie, sebuah kabupaten di Aceh, yang berjarak puluhan kilometer dari Banda Aceh. Sudah tiga tahun dia berdagang di dekat rumah.

Saya sendiri baru enam tahun tinggal di Kajhu. Tapi selama ini, pandangan saya benar-benar luput dari keberadaan ‘mutiara yang terpendam’ itu. Padahal, kalau ingin menjumpainya, hanya butuh menempuh jarak 300 meter saja. Tapi tak perlu berkecil hati, walau baru sekarang dipertemukan. Bukankah nikmat dari kehidupan ini salah satunya adalah menunggu?

Malam itu, karena masih menyandang status fakir asmara seperti Nabilah JKT48 – maaf dik Nabilah, ini sebenarnya cuma pembelaan diri – saya memutuskan untuk bermesraan dengan makanan saja, ya Mie Aceh milik Bang Muslim itu, lengkap sama kepitingnya.

Kebetulan malam itu, malam minggu. Entah mengapa, ketika itu lagi malas menyambangi warung langganan yang letaknya di kota, yang pasti jalan menuju ke sana padat. Bukankah terjebak macet sendirian di tengah manusia yang sedang berpasang-pasangan adalah kecelakaan yang amat tragis?

Bulat sudah keputusan waktu itu untuk bermalam mingguan di warung Mie Aceh dekat rumah, yang kepitingnya tampak begitu menggoda. Lidah pun siap bergoyang. Tanpa berpikir lama-lama lagi, saya melajukan sepeda motor ke jalan Laksamana Malahayati arah ke Krueng Raya, dan berhenti di simpang tiga Cot Paya. Jaraknya yang cuma 300 meter rasanya seperti sekali tarikan gas motor saja.

Di situlah warung Mie Aceh milik Bang Muslim berdiri. Ada tiga warung yang menjajakan Mie Aceh. Warung milik Bang Muslim diapit oleh dua warung lainnya. Di dalam warung suasana ramai. Malam itu hanya tersisa tiga meja yang kosong.

Setelah celingak-celinguk ke seisi warung, memperhatikan pelanggan yang sedang larut mengelupas isi kepiting, seorang laki-laki mengenakan kaos putih dan bercelana jeans datang menghampiri. Tingginya kurang lebih 170 sentimeter. Dialah Bang Muslim.

“Mau pesan mie pakai apa, Bang? Udang atau kepiting? Atau, mie biasa aja?” tanya dia.

“Pakai kepiting, Bang. Tapi tolong kepitingnya direbus lama dikit. Oh ya, pedas ya,” balas saya.

Di Aceh, nyaris semua kulinernya berhubungan dengai cabai, karena rata-rata orang Aceh suka pedas. Mamak saya di rumah bisa menghabiskan berkilo-kilo cabai dalam sebulan. Mau cabai merah, cabai rawit merah, sama saja. Kalau harga cabai lagi meroket, baru diakal-akali takarannya.

Yang jelas, tanpa membubuhkan cabai pada masakan khas Aceh, makanan itu belumlah paripurna. Lewat pengaruh itu pula, karakter orang Aceh terkenal pemberani, tegas, dan berwatak keras.

Tak lama menunggu, sepiring besar Mie Aceh lengkap dengan kepiting setelapak tangan orang dewasa, terhidang sudah di meja. Turut serta acar mentimun berpadu irisan kecil wortel dan bawang merah. Sepotong jeruk nipis juga tampak menyeruak di balik acar. Fungsinya untuk menangkis bau amis dan pengganti cuka yang asalnya dari campuran bahan kimia itu.

Namun, ada satu lagi yang tidak boleh tertinggal, kalau sedang menyantap Mie Aceh. Dia adalah kerupuk mulieng (emping melinjo). Di Aceh, emping melinjo banyak terdapat di Kabupaten Pidie, kampung halaman Bang Muslim. Biasanya, kerupuk mulieng sering dibuat oleh kaum perempuan untuk mengisi waktu luang.

Kini, dengan seturut perkembangannya, kehadiran kerupuk mulieng di Mie Aceh memang tidaklah wajib. Bisa diganti dengan kerupuk jenis lain. Tergantung selera. Begitu juga dengan cara penyajian Mie Aceh. Tergantung keinginan pelanggan. Ada yang dimasak dengan kuah nyaris penuh menyentuh bibir piring. Ada pula yang digoreng basah atau kering.

Di warung milik Bang Muslim, harga Mie Aceh dengan sajian kepiting atau udang dibandrol Rp 25 ribu per porsi. Kalau mie biasa saja, artinya tanpa kepiting atau udang, pelanggan cuma perlu merogoh kocek Rp 10 ribu saja. Mie Aceh milik Bang Muslim bisa dibilang salah satu kuliner favorit di Tanah Rencong.

Kini, Mie Aceh sudah hadir di sejumlah provinsi di Indonesia, bergandengan dengan kuliner setempat. Makanan berkari ini sudah terkenal layaknya Rendang dari Padang, Sumatera Barat. Mie Aceh bisa dikatakan sejajar dengan Rendang. Ia bukan sekadar makanan pedas pengisi perut, ia adalah identitas.

Ketika mendengar nama Aceh, orang mungkin tidak lagi mengingat daerah konflik atau musibah gempa dan tsunami, tapi langsung teringat bahwa di sana terdapat makanan penggoyang lidah bernama Mie Aceh.

Menikmati Mie Aceh di Aceh tentu memiliki sensasi tersendiri. Tapi, yang pasti, di balik sensasi kenikmatan, ada makna yang tersimpan. Kita pun bisa mengenal karakter orang Aceh yang pemberani, tegas, dan berwatak keras, lewat sepiring mie tersebut. Bagaimana dengan kuliner di daerah Anda?

  • D Sukmana Adi

    saya belum keturutan makan mie aceh kak bro..tapi plus kepiting gitu makin enak pasti