Mengapa Sebaiknya Kita Berhenti Bilang Terserah

Mengapa Sebaiknya Kita Berhenti Bilang Terserah

livinghours.com

Bagi Anda yang sudah berpasangan – mohon maaf bagi yang jomblo – pasti akrab dengan ucapan kata terserah. Apalagi yang statusnya masih gebetan, masa-masa dimana pencitraan dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Biar afdol, dibutuhkan jasa buzzer untuk memoles performa. Lha, ini mau ngegebet atau kampanye sih?

“Ah sudahlah. Mending kita jalan aja yok, Dek.”

“Ayok, Bang. Udah lama gak ayok.”

“Kita ke pantai atau ke mana?”

“Terserah.”

“Nanti mau makan apa?”

“Terserah Abang aja.”

“Pulangnya mampir dulu ke toko buku ya.”

“Ikut aja, Bang.”

Coba sodara-sodara bayangken pola dialog tersebut. Sadar atau tidak, kata-kata terserah bikin orang gak kritis, karena sifat dialog yang searah. Dalam kehidupan demokrasi, ehmm, itu lemah secara esensi. Sekali kata itu dikumandangkan, maka tertutup pula peluang-peluang rekonsiliasi dan solusi.

Saya ambil contoh debat kandidat dalam Pilkada DKI Jakarta, acara yang disiarkan langsung dan disaksikan juga oleh warga Pulau Obi nun jauh di sana hingga mace-mace di Papua. Seandainya di tengah debat tiba-tiba ada pasangan calon dengan enteng mengucapkan kata terserah. Maka, surut semua argumentasi yang dibangun sejak awal. Tak ada solusi yang dihasilkan dan akhirnya surut pula perolehan suara paslon tersebut.

Di media sosial, kata terserah banyak ditemukan dalam sebuah perdebatan. Kalau sudah begitu, paling hanya bisa menjawab dengan emoji ketawa ngakak yang sambil bercucuran air mata itu. Tapi itu sih bagus-bagus aja kalau untuk guyonan, tapi bagaimana kalau dikasih emoji POP alias Pile of Poo?

Saya berani bertaruh, kita bisa beda dalam menentukan pilihan, tapi di hadapan kata terserah, kita semua sama! Tunduk dan tak tahu mau melakukan apa. Logika dan nalar seolah lumpuh.

Beberapa waktu lalu, ada artikel di Voxpop berjudul “Bahagia Jadi ‘Haters’ Baru” yang ditulis Reinard L Meo. Tulisan yang menggeledah fenomena haters dari sudut pandang tiga filsuf beken sekaligus. Ia menyinggung ihwal kekhasan definisi yang justru menjadi batasan, seperti yang disebutkan oleh Martin Heidegger.

Kira-kira maksudnya begini. Ketika suatu hal didefinisikan, maka secara tak langsung ia mengalami pembatasan-pembatasan dari penafsiran lainnya. Sederhananya semua merujuk hanya pada satu kebenaran saja, yakni definisi yang telah dibuat itu.

Tapiii… Bukankah setiap manusia bisa khilaf? Sebagaimana dua pesohor yang saling caci-maki di acara kontes dangdut? Begitu juga dengan para filsuf, termasuk Martin Heidegger yang mantan kekasih Hannah Arendt yang juga filsuf itu.

Kalau boleh lancang, Heidegger seharusnya membuat pengecualian dalam pandangannya itu. Begini lho… seharusnya kata terserah menjadi pengecualian. Bagaimana tidak, bagi saya, ia bebas dari batasan-batasan. Ia berada di ruang-ruang hampa, yang tak tergapai oleh jiwa-jiwa yang sekarat. Masya Allah…

KBBI boleh bilang kata terserah mempunyai makna ‘(sesuatu) yang sudah diserahkan’. Menyerahkan seutuhnya kepada kamu yang bersangkutan. Tapi toh, definisi tetap saja definisi, sekumpulan makna yang memusingkan. Kata terserah tetap memiliki kedigdayaannya sendiri di tengah dialog masyarakat.

Saya yakin sepandai-pandainya Heidegger mencetus teori, tetap saja takluk oleh Hannah Arendt. Misalnya, mereka sedang berdebat sengit. Apa yang lebih seru dari dua sejoli filsuf yang tengah berdebat? Bagaimana jadinya, kalau di tengah perdebatan, Arendt mengeluarkan ‘senjata pemusnah nalar’, yaitu kata terserah? Mengucapkan kata itu dengan cuek sambil menghembuskan asap rokoknya. Mati kau, Heidegger!

Saya teringat waktu kawan-kawan zine menggelar diskusi yang bersinggungan dengan sejarah dan kesusastraan. Seorang pembicara sempat mengungkapkan bahwa yang menjadi kebutuhan sastra kiri saat ini adalah bagaimana bisa merebut sebuah makna.

Nah, di sini persoalannya, bung dan nona…

Ketika orde babe sukses dengan eufemismenya, maka bagaimana para begawan bisa menghapus makna-makna yang sudah kadung melekat sejak berpuluh-puluh tahun lalu? Dan, yang pertama dan paling utama, tentu saja bagaimana kita memberikan makna (yang pasti) pada kata terserah?

Sebagaimana kita tahu, kata tersebut mempunyai makna yang Masya Allah memusingkan, bahkan mungkin perlu riset yang mendalam untuk menentukan maksudnya, terutama saat pacar kita mengucapkan itu. Salah sedikit bisa bubar, dibilang gak peka lah, nggak perhatian lah. Ini kata yang sama memusingkannya dengan kata-kata ‘kamu terlalu baik buat aku’.

Eh bentar, ini kok jadi curhat…

Jadi begini… Sebagai anak muda yang kritis – asyik – rasanya agak aneh kalau tak menilai sesuatu dari berbagai sisi. Kalau sudah begitu, tak afdol kalau tak mengutip kata-kata Pramoedya Ananta Toer, bukan? Yang itu lho… “Terpelajar harus adil sejak dalam bedongan pikiran, apalagi perbuatan”.

Tapi, bukan berarti, kata terserah tidak ada sisi positifnya. Ada! Justru bisa menjadi obat paling mujarab dalam menghadapi zaman yang semakin edan. Ia bisa bertindak sebagai benteng paling aman dari risiko ikut-ikutan edan.

Ketika ada seorang pengusaha sekaligus politisi yang berbicara tentang ketimpangan sosial dan mengutuk kapitalisme, maka tanggapan yang paling cihuy adalah dengan cara pasang muka ala Young Lex dan teriak terserahhh…

Ketika kawan-kawan berubah menjadi ahli agama di media sosial, padahal kita tahu ia uring-uringan kalau Kalijodo dibongkar, maka jawabannya adalah terserahhh…

Ketika Pak Tua yang biasanya gerah dengan hoax, tapi malah menyebarkannya saat kabar yang disebar itu menguntungkan jagoannya, maka katakan terserah, Pak Tua, terserahhh…

Ketika fans klub sepak bola masih menganggap timnya gagah – padahal nyungsep – sembari menyodorkan lembaran-lembaran sejarah, maka jawaban yang tepat adalah terserahhh…

Dan, apapun tanggapan Anda tentang tulisan ini, jangan katakan terserah, hehe… Sebab, penulisnya masih waras dan pastinya ngangenin…