Mengapa La La Land Terhubung Langsung dengan Kita?

Mengapa La La Land Terhubung Langsung dengan Kita?

Summit Entertainment

Academy Awards atau yang lebih lazim dikenal sebagai Piala Oscar dilaksanakan setiap tahun pada bulan Februari. Tahun ini, salah satu kandidat terkuat peraih penghargaan Best Picture atau Film Terbaik adalah ‘La La Land’.

Selain menjadi award-darling di berbagai acara penghargaan dunia, ‘La La Land’ juga lumayan laris dengan penghasilan menembus US$ 100 juta di Amerika Utara saja. Film yang menampilkan chemistry mantap Ryan Gosling dan Emma Stone ini juga sempat ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia dan memikat baik penonton tua maupun muda.

Nah, selain kedua pemainnya memang sudah good-looking dari sananya dan lagu-lagu di filmnya memang memorable, kira-kira apa yang membuat orang menyukai ‘La La Land’?

Mimpi.

Itulah tema besar film arahan sutradara Damien Chazelle ini. Meski bagian akhir film yang sedikit nyesek juga menjadi bahan pembicaraan banyak orang, sebenarnya dari kaca mata saya, tema mimpi atau impian-lah yang menjadi inti cerita.

Karakter Mia (Stone) yang bermimpi menjadi aktris, Sebastian (Gosling) yang bermimpi membuka klub musik jazz, serta perjuangan jatuh-bangun mereka menjaga mimpi itu tetap hidup.

Tema ini langsung terhubung dengan kita sebagai penonton, karena tentu saja, kita semua mempunyai mimpi yang sedang berusaha kita capai. Lewat sesi audisi terakhirnya, Mia menekankan pentingnya menjadi ‘orang bodoh yang bermimpi’. Karena toh, semuanya dimulai dari mimpi.

Summit Entertainment
Summit Entertainment

Frase ‘fools who dream’ atau ‘orang bodoh yang bermimpi’ yang dinyanyikan sebagai lagu latar oleh Emma Stone terasa begitu menohok. Sekarang di dunia ini banyak orang yang merasa paling hebat, sehingga mengerdilkan arti penting bermimpi.

Saya teringat salah satu teman, ehmm.. sebenarnya nggak terlalu kenal dekat sih, tapi teman atau kenalan ini pernah mencetuskan sesuatu di media sosial tentang novel ‘The Alchemist‘ karangan Paulo Coelho.

Ia mencela-cela ‘The Alchemist‘ sebagai novel membosankan yang tidak jelas dari awal sampai akhir dari segi penceritaan hingga tema ‘menjual mimpi’. Ini sedikit menyakiti hati, bukan hanya karena saya menyukai ‘The Alchemist’.

Saya adalah salah seorang dari jutaan pembaca novel tersebut, yang jadi berani bermimpi setelah membaca khotbah penuh kiasan Paulo Coelho di salah satu novel terlaris dunia tersebut. Saya sebenarnya tidak terlalu menyukai Paulo Coelho, tapi novel ‘The Alchemist’ menjadi salah satu favorit sepanjang masa.

Apa yang salah dengan menjual mimpi? Supply karya kreatif yang menjual mimpi meningkat, karena demand masyarakat yang butuh ‘asupan mimpi’ meningkat, kan? Di kondisi sehari-hari yang serba susah, banyak anak muda berijazah cum berbakat, tapi sulit berkembang. Mereka sebetulnya cuma butuh satu: militansi, sesuatu yang mulai jarang kita dapati pada generasi milenial.

Summit Entertainment
Summit Entertainment

Banyak anak muda yang bermimpi bisa lanjut kuliah bahkan sampai ke luar negeri, yang perlu memperoleh inspirasi dari film-film seperti ‘Laskar Pelangi’. Seperti kata Giring Nidji, “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia.”

Biasanya, ketika usia memasuki kepada tiga, banyak orang harus selalu sering-sering diingatkan untuk tidak pernah berhenti bermimpi. Maka, di sinilah fungsinya film-film seperti ‘La La Land’. Untuk mengingatkan kita bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan, jika kita berani untuk mengejarnya. Klasik, tapi selalu relevan.

‘La La Land’ sendiri jenis film drama musikal komedi. Dalam film tersebut, Mia adalah seorang barista yang berusaha untuk lolos casting demi mengejar impiannya menjadi aktris terkenal.

Sementara Sebastian adalah pemain piano. Ia bermimpi untuk bisa menghibur para penggemar jazz di sebuah kelab miliknya. Sebastian mengalami banyak sekali penolakan dan pergulatan di dalam dirinya sendiri mengenai mimpinya itu.

‘La La Land’ juga mengisahkan bagaimana Sebastian dan Mia saling jatuh cinta di tengah upaya mereka mengejar mimpi. Pada titik itulah, kesetiaan mereka pada mimpi dan cinta masing-masing diuji. Tak luput, guyonan segar menjadi bumbu di film tersebut, sehingga menjadikan ‘La La Land’ sebagai paket komplet layak tonton.

Jadi, terus-lah bermimpi!

Mimpi itu abadi, yang fana cuma tafsiran-tafsirannya!