Mengapa Kita Harus Iri Seiri-irinya kepada Islandia

Mengapa Kita Harus Iri Seiri-irinya kepada Islandia

ftw.usatoday.com

Tujuh tahun lalu, segelintir orang dari negara kecil di utara Eropa, beberapa di antaranya tidak bekerja full time di bidang sepak bola, melakukan perjalanan studi banding ke Inggris. Misi mereka hanya satu. Belajar tata kelola akademi sepak bola, lalu mengembangkan sepak bola di negaranya, Islandia.

Bukan kebetulan mengapa Inggris menjadi tujuan. Kendati prestasi timnas sepak bolanya jeblok, Inggris bukan negara kemarin sore untuk urusan tata kelola sepak bola. Liganya berjalan sangat glamor dan mewah. Banyak pemain bintang dan bergaji maksi berlarian di kompetisi antar klub kasta tertinggi di Inggris, yang setiap musim selalu menjadi kiblat para jamaah sepak bola di segala penjuru dunia.

Islandia, yang merupakan salah satu negara Nordik, tahu betul fakta tersebut. Meski demikian, awalnya mereka tidak berharap terlalu tinggi saat datang ke Inggris. Bagi negara dengan jumlah penduduk yang hanya 2,5 kali lebih sedikit dari populasi penduduk Kota Malang, sepak bola adalah eskapisme yang asyik di sela kesibukan mereka menggembala domba, mengecek rataan jumlah gempa tektonik, hingga bergumul dalam kegelapan Reykjavik – ibukota Islandia – yang senantiasa sepi dari jadwal kunjungan matahari.

Dan, tujuh tahun kemudian, negara ‘Tanah Es’ tersebut lolos ke Piala Eropa 2016 di Prancis, bahkan berhasil menyingkirkan Inggris yang notabene adalah guru mereka dalam mengembangkan sepak bola. Dunia seketika tumpah ruah dalam euforia yang sulit dijelaskan.

Islandia dan negara-negara liliput semisal Wales adalah contoh terbaik bahwa sepak bola tidak melulu soal kapabilitas taktik, keunggulan teknik, kemantapan fisik, atau rataan data statistik. Mengutip ucapan Eduardo Galeano, esais kondang asal Uruguay, sepak bola adalah berkah terbaik yang sengaja ditinggalkan Tuhan untuk umat manusia. Tentu saja itu metafora dan sedikit hiperbolis. Lagipula mana mungkin Tuhan mewariskan sepak bola dan agama dalam satu waktu? Mau dicap kafir kalian?

Manusia boleh percaya bahwa agama adalah warisan yang adiluhung dan penuh nilai keluhuran. Tapi sepak bola adalah manifesto dari kehidupan yang hakiki. Ya walaupun rating-nya masih kalah jauh dibanding tayangan sinetron di negara minim prestasi sepak bola, seperti Indonesia.

Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, sepak bola masih menjadi bahasan yang lebih asyik diobrolkan di warung kopi sembari bercengkerama dengan banyak orang. Maksud saya, bukankah asyik membahas sepak bola sembari meneguk secangkir kopi dan mencomot beberapa sajian gorengan? Lagipula, rasanya agak surealis membayangkan di kala bersantai dan bercengkerama dalam suasana hangat, kita sibuk berdiskusi tentang plot drama Uttaran atau Anak Jalanan, bukan?

Inilah yang kemudian memantik rasa iri bagi saya, orang Indonesia tulen, rakyat dari sebuah negara besar di Asia Tenggara dengan populasi penduduk lebih dari 250 juta jiwa, kepada Islandia yang andaikata Kota Madiun menggalakkan pertumbuhan penduduk dalam dua tahun, niscaya populasi penduduk di kota kecil di Jawa Timur itu akan mengungguli Islandia.

Salah satu pemandangan di Islandia/dailymail.co.uk
Salah satu pemandangan di Islandia/dailymail.co.uk

Ketika orang Islandia datang ke Inggris untuk belajar bermain dan mengelola sepak bola, pikiran saya terbang melayang membayangkan berapa besar dana negara kita yang dipakai sejumlah wakil rakyat di Senayan untuk studi banding ke beberapa negara mapan di luar sana? Dan, semuanya tidak memiliki hasil yang bisa dibanggakan bagi rakyat untuk setidaknya bisa menepuk dada dan mengklaim diri sebagai orang Indonesia yang hebat.

Pada satu hal, Indonesia sebenarnya memiliki beberapa kemiripan dengan Islandia. Secara geografis, kedua negara sama-sama berada di wilayah yang rentan dengan gempa dan letusan gunung berapi. Namun, Indonesia jelas jauh lebih unggul dalam berbagai hal. Tanah di Indonesia, yang konon katanya tanah surga, bisa dipakai bercocok tanam segala jenis tanaman.

Dan, sebagai negara tropis, asupan sinar matahari di penjuru Nusantara sepanjang tahun sangat membantu kita menjadi negara agraris yang subur dan kompeten, harusnya. Islandia? Namanya juga ‘Tanah Es’. Negaranya cukup dekat dengan kutub utara, yang membuat curah sinar matahari di wilayahnya sangat jarang dan tak sedikit mereka menghabiskan waktu dalam gelap.

Tapi ya itu tadi, menengok Islandia dan membandingkannya dengan Indonesia adalah ironi tersendiri. Saya bergidik dan terharu melihat Aron Gunnarson, kapten kesebelasan Islandia, yang pada pertandingan pertama Grup F Piala Eropa 2016 melawan Portugal, sempat ditolak Cristiano Ronaldo saat akan bertukar kostum. Tapi Gunnarson nggak minder. Beliau malah memimpin rekan-rekannya, ‘The Our Boys’, untuk melakukan chants bersama 8.000 lebih suporter Islandia yang datang ke Prancis. Itu masih perkara sepak bola, belum perkara lain yang bisa bikin kita iri seiri-irinya.

Dalam hal mengurus dan mengelola sepak bola saja, Indonesia masih kepayahan untuk mengejar perkembangan masif Thailand dan Malaysia. Bagaimana bisa kita tidak menyimpan rasa iri yang teramat sangat kepada Islandia? Itu masih konteks pengelolaan sepak bola, belum tentang kesigapan Islandia dalam menangani bencana alam di negaranya, yang akrab dengan gempa tektonik dan letusan gunung berapi sewaktu-waktu.

Saat Gunnarson dkk melakukan penghormatan untuk suporter mereka yang datang ke stadion saat laga melawan Inggris, saya duduk terdiam sunyi di sofa kosan. Mata menatap nanar layar televisi. Bukan karena negara jagoan saya, timnas Inggris, harus keok dan mengalami Brexit kedua dalam satu pekan, tapi karena sebuah negara minimalis mampu tampil jauh lebih luar biasa dibanding Indonesia dalam konteks permainan sepak bola.

Ketika tayangan di televisi usai, saya kembali ke realita. Memandang sepak bola Indonesia yang bobrok. Melihat konstelasi elit politik yang saling sikut dan berebut kekuasaan. Melihat banyak umat beragama saling ejek perihal sederhana saat berpuasa. Realitas memang kejam dan rasa iri kepada Islandia masih mengendap di dada. Setelah berdiam diri hingga menjelang imsak, saya pun tersadar. Saya tidak lagi bangga mendaku diri sebagai orang Indonesia.