Mengapa Bersyukur Harus Melihat ke Bawah?

Mengapa Bersyukur Harus Melihat ke Bawah?

isigood.com

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Penggalan lirik lagu ‘Jangan Menyerah’ dari d’Masiv itu tentu sangat memotivasi. Namun, banyak kaum papa yang tak tahu bagaimana caranya untuk tetap optimis. Alih-alih mengajak melakukan yang terbaik, tapi malah terjebak dalam situasi pasrah terhadap keadaan.

Selama ini, hidup masyarakat kelas bawah selalu digambarkan tampak menderita. Hal ini barangkali sebagai pembenaran terhadap idiom yang begitu populer bahwa masih banyak yang tidak beruntung. Pertanyaannya, kita tahu dari mana kalau masyarakat kelas bawah selalu tidak beruntung?

Pemikiran ini kemudian terinspirasi dari ucapan Albert Camus, orang yang mengusung konsep absurditas bahwa hidup ini sia-sia dan secara esensi tak memiliki tujuan. Ia lalu mengenalkan tentang tujuan hidup manusia dengan kisah Sisyphus yang termasyhur itu.

Sisyphus adalah seorang raja para dewa dari mitologi Yunani. Ia dipuja dan dielu-elukan selayaknya raja. Hingga pada suatu masa, ia berusaha untuk memusnahkan Dewa Maut bersama dewa lainnya. Setelah berkecimpung dalam sebuah tipu daya untuk menangkap Dewa Maut, Dewa Maut kemudian kabur. Tak ada satu pun yang senang dengan nasib sial Sisyphus. Sebagai hukuman, Sisyphus dihukum hidup selamanya di bawah tanah.

Namun, penderitaan itu tak berhenti. Lebih buruk, hukuman itu tak berhenti sampai di situ. Sebagai bagian dari hukumannya, raja yang telah jatuh ini ditugaskan untuk mendorong sebuah bongkahan batu raksasa (mungkin seperti batu yang guling-guling dari gunung) menuju ke permukaan bumi hingga akhir masa. Untuk menambah rasa perih, setiap kali Sisyphus membawa batu ini ke atas, batu ini lagi-lagi turun. Ia terus berusaha memulai lagi dan lagi. Sesuatu yang menjengkelkan.

Anda mungkin akan merasa iba, dan seakan hal ini mempertegas apa yang disebut Camus sebagai absurditas. Dan, di sini letak menariknya. Apa yang terjadi pada Sisyphus adalah untuk menemukan kebenaran dan esensi dari kehadirannya dalam hidup ini. Sebuah jawaban dari Camus, jika ditanya kenapa kita masih harus hidup kendati pun itu sia-sia.

Camus kemudian menjelaskan bahwa kita perlu membayangkan bahwa ia turun lagi untuk mengambil batu besar tersebut. Dalam perjalanan macam itu diklaim bahwa bisa saja ditemukan sebuah makna: tak ada poin (mengapa ia akan berhasil), tak ada penghargaan, dan tak ada kebebasan. Namun, ia tetap berusaha.

Tak hanya terus berusaha, namun ia juga menemukan sesuatu dalam upayanya yang sia-sia itu. Ia menemukan kebahagiaan. Ia aman dari pengetahuan dimana aksinya akan mendefiniskan dirinya. Ia bebas. Ia bebas dari kekacauan dari mencari makna hidup yang sesungguhnya tak ada. Hanya ada; kini dan sekarang. Tak lebih, tak kurang.

Dalam kehidupan dunia nyata, kita semua mungkin seringkali terjebak dalam hidup penuh kesia-siaan, seperti yang Camus coba uraikan dengan Sisyphus. Masyarakat kelas menengah yang menderita, karena dikekang rutinitas. Pergi pagi, pulang petang, untuk sesuatu yang ia rasa bukan dirinya. Di antara itu semua, kita lalu bergumam, “Ya, aku beruntung. Masih banyak yang tak seberuntung diriku.” Ini bila mengacu pada kehidupan ekonomi kelas bawah, yang selalu dianggap lebih tidak beruntung.

Di televisi, misalnya. Dahulu tenar acara televisi di mana mereka menunjukkan kehidupan orang-orang kelas bawah dengan perasaan penuh elegi. Atau, melihat orang-orang kelas bawah yang masih jujur, kendati pun mereka hidup serba kekurangan. Atau, yang paling menggelikan: seorang calon presiden dulu sempat berpura-pura menjadi tukang becak. Dalihnya, ingin merasakan kehidupan wong cilik.

Hal ini lambat-laun mengarah pada masyarakat kelas bawah yang tak sedikit mengkerdilkan diri. Menghidupi teologi Jabariyah. Teologi Jabariyah yang super deterministik dalam menggantungkan nasib dan kehendak manusia pada kehendak Tuhan. Menjadikan masyarakat kelas bawah seringkali pasrah terhadap keadaan. “Ya mau gimana, kita sudah miskin.” Setidaknya begitulah ungkapan penuh elegi dari mereka yang merasa tak lagi memiliki alasan.

Dan, karena tak ada alasan lagi, mereka berusaha menikmati hidup mereka tanpa memandang yang lain. Itu yang kemudian membuat mereka yang berada di kelas bawah juga bebas dan memiliki perspektif yang beragam untuk bersyukur. Karena segala kesusahan kelas menengah dan kelas atas menjadikan mereka objek untuk dikasihani.

Tentu sangat populer sekali sebuah adagium, “Sakit orang miskin paling pusing sama demam.” Hal ini menandakan bahwa kelas bawah juga masih beruntung, masih dianugerahi kesehatan. Ya, hal ini menggambarkan bahwa secara kesehatan, kelas bawah aman.

Tak sedikit kelas menengah dan bahkan kelas atas yang malah menghabiskan uangnya untuk pengobatan. Ke luar negeri ke sana kemari demi mengangkat sakit yang ia rasakan. Lalu, menghibur diri dengan menyaksikan kelas bawah dan mencap mereka sebagai orang yang kurang beruntung.

Begitupula dengan gaya hidup yang lebih sederhana, penuh canda tawa karena menikmati kerja yang katanya lebih berat. Sementara kelas menengah dan kelas atas seringkali terjebak dalam hidup yang keras dan banyak tuntutan. Rezeki tak cuma harta. Tergantung cara memberi dan cara menerimanya, ia bisa memiliki makna yang berbeda.

Atas sebab itu, tentu sangat absurd terus memandang masyarakat kelas bawah untuk bersyukur. Tentu kita harus menolong siapapun yang kesusahan, tak hanya kelas bawah. Namun, bukan karena perspektif yang sangat sempit bahwa selalu ingin berkaca kepada orang yang kurang beruntung untuk bersyukur. Tapi kita ingin membagi perspektif yang kaya, karena bahagia itu sendiri tak melulu soal harta dan status sosial. Ia memiliki subyektivitas yang kita seringkali gagal memahaminya.

Sebagai penutup argumen tentang Sisyphus, Albert Camus mengatakan begini, “Perjuangan macam ini cukup untuk memenuhi perasaan seseorang. Seseorang harus membayangkan Sisyphus bahagia.”