Mengapa Aku Tak Seperti Perempuan Lain pada Umumnya

Mengapa Aku Tak Seperti Perempuan Lain pada Umumnya

myciin.com

Setiap bangun pagi, yang pertama aku pegang adalah ponsel. Lihat Facebook, Twitter, dan Instagram sekitar 15 menit, lalu bangkit dan sarapan. Apakah itu pertanda kehidupan nyata kurang memuaskan, sehingga harus mencari pelarian di media sosial?

Yang pasti, dinding Facebook masih penuh dengan status drama keluarga. Banyak sekali foto keluarga bahagia saat piknik atau pesta, lalu tersenyum secara berjamaah. Di Instagram, misalnya. Terakhir saya lihat tagar #happyfamilyday dikirim sebanyak 47.103 kali. Kemudian #lovelyfamilytime sebanyak 55.898 kali, #lovefamily 507.010 kali, dan #happyfamily sampai 1.807.461 kali!

Sempat terlintas dalam pikiran, betapa kurang beruntungnya undian keluarga yang saya dapatkan. Tiga tahun lalu, seorang kenalan bahkan pernah memprotes status emosional saya yang berisi kemarahan kepada mama. Dia bilang, “Lo seharusnya menghargai jerih payah nyokap yang sudah melahirkan dan membesarkan lo sehingga bisa seperti sekarang. Dasar anak durhaka.”

Tiga tahun berlalu, saya pun duduk termenung di teras rumah. Sambil minum kopi lanang, saya memandangi pakis liar yang mencuat dari tembok pembatas. Tanaman-tanaman itu seolah memberontak ingin menyampaikan pesan. Pikiranku kemudian kembali ke masa-masa lampau.

Papa mama itu sebenarnya rajin banget. Kami tinggal di rumah yang nempel dengan usaha konfeksi kecil. Papa menangani semua urusan ke bank dan berhubungan dengan langganan. Sedangkan mama jadi mandor dari jam 7 pagi sampai 5 sore.

Mama jarang sekali menyia-nyiakan waktu, bahkan untuk memasak dan bersenang-senang menemani saya, satu-satunya bungsu perempuan. Sementara kebanyakan anak perempuan lain menghabiskan waktu bermanja-manjaan dengan ibunya, seperti main ke pusat perbelanjaan, icip-icip fast food, atau sekadar jalan-jalan sore.

Kami pun menyerahkan urusan rumah yang remeh temeh kepada asisten rumah tangga. Makanya, ketika seorang pengasuh pulang kampung dan saya nggak diberitahu bahwa dia nggak akan kembali kerja, saya pun nangis sejadi-jadinya selama tiga hari lima malam.

Sekarang baru sadar, sesungguhnya itu menjadi ajang latihan luar biasa untuk menghadapi kesedihan pada masa dewasa. Kesedihan putus cinta, misalnya. Kita menjadi orang yang cepat move on. Tak perlu unggah video nangis terngehek-ngehek di Youtube segala. Mungkin perempuan yang seperti itu masa kecilnya terlalu bahagia, sehingga tak siap menghadapi duka. Sedih sedikit, lebay terasa.

Oh ya, rumah kami juga sangat terbatas. Dua kakak laki-laki tidur satu kamar, sedangkan saya tidur bareng orangtua sampai lulus SD. Tiap malam, papa putar kaset lagu barat evergreen semacam My Way, Moon River, The Way We Were, dan lain-lain buat pengantar tidur. Berbeda dengan anak lain, yang punya kamar sendiri dan ditemani boneka lutjue serta hiasan kamar warna-warni bak princess.

Tapi, ada hikmah dari tidur sempit-sempitan. Saya jadi cinta mati Bahasa Inggris, lalu hafal lagu-lagu yang kemudian jadi bahan cari duit ngejob manggung piano/harpa/kecapi China (guzheng) di hotel-hotel.

Untuk urusan main sehari-hari juga kalah tertinggal dari anak-anak perempuan yang lain. Saya harus main dengan dua kakak dan dua sepupu laki-laki anak mitra bisnis papa. Main bola, robot, jigsaw, perang bantal, kejar-kejaran di halaman berlantai semen seukuran garasi. Akhirnya saya tumbuh jadi perempuan yang aktif, sehat, dan kuat. Gemar berolahraga tanpa mempedulikan selaput dara.

Lalu bagaimana dengan urusan penampilan? Tak ada baju dan perhiasan yang glamor mencolok. Mama pakai blouse yang sama untuk ke kondangan selama lebih dari 10 tahun. Make up? Sama sekali nggak penting. Seumur-umur mama nggak tahu caranya pakai blush on apalagi eyeliner dan mascara, meskipun waktu mudanya pernah jualan kosmetik. Ke kondangan cukup dengan bedak dan lipstik.

Akibatnya, saya tumbuh sebagai gadis culun nan konservatif. Eh, maksudnya gadis sederhana. Dengan rambut keriting, maka jadilah saya anak sipit berambut kribo dan berkacamata setebal toples. Sementara anak lain suka diajak mamanya ke salon, bersolek, kalau perlu sekolah modeling.

Dengan penampilan itu, saya kerap di-bully di sekolah. Pedih, pasti. Sempat terlintas sebuah pertanyaan, “Apa itu pelajaran yang didapat dari bersolek sejak dini dan sekolah modeling? Menjadi perempuan-perempuan kemasan yang jauh dari esensi hidup?” Sekarang baru sadar, bully-an teman-teman dan bahkan gebetan di sekolah menjadi tempaan mental untuk menjadi lebih kuat, nggak cepet baper, dan terus tekun membuktikan diri.

Kuliah pun pakai kaos bekas kakak laki-laki, celana jeans, dan sandal gunung. Sementara fakultas sastra kami terkenal seantero kota sebagai “candid catwalk”. Karena penampilan yang sederhana cupu itu, nggak ada cowok yang antre mau ngapelin. Jadinya nggak pernah nongkrong.

Setiap hari, hanya belajar dan les ini-itu. Nggak ada rengekan minta dibelikan rok pendek model terbaru, sepatu high heels, aksesoris lucu-lucu, make up, apalagi games dan gadget. Tak seperti anak lain, meski orangtuanya bela-belain gasak sana gesek sini.

Karena nggak hobi main game, sementara uang saku hanya dikasih 15% UMR sebulan (pelit banget gilaaa, padahal orangtua punya konfeksi 40 pegawai dan kami diantar jemput ke sekolah pakai sopir), saya menghabiskan waktu dengan membaca majalah Bobo, koran dan majalah langganan orangtua. Hasilnya, sejak SMA, saya sudah bikin cerpen dan berhasil dimuat di Bobo dan Kompas Anak.

Saat kuliah, saya bisa dibilang kecepetan lulus. Menyesal, tak menikmati pergaulan anak muda, kehidupan aktivis kampus, dan ikutan curhat berjamaah harus ngulang mata kuliah dan perjuangan menyusun skripsi. Semester lima sudah mulai kerja manggung. Skripsi beres dalam dua bulan. Empat tahun persis sudah wisuda, dengan IPK 3,81. Lulus langsung diterima ngajar kursus Bahasa Inggris dan orangtua berhenti ngasih uang saku.

Tiap kali kami mau berusaha menyenangkan papa mama dengan mentraktir makan atau membelikan kue ulang tahun dan hadiah kejutan, mereka akan bertanya, “Berapa harganya?” Kalau mahal, tentu kami akan mendapatkan petuah bijak tentang bagaimana cara berhemat. Kami jadi belajar untuk kreatif membeli hadiah yang sangat berguna saja, seperti setrika, mesin cuci, dan ponsel.

Papa mama juga jarang memuji. Sekeren apapun saya muncul di TV atau koran, papa akan selalu mengkritik. Make up yang terlalu menor lah (padahal didandani make up artist dari studio TV tersebut), atau kurang senyum ke arah kamera. Bagaimana itu kalau orangtua lain? Saya bisa bayangkan kata-kata ini akan meluncur deras, meski kadang harus lebay sedikit. “Kamu hebat sekali, Nak. Cantik lagi.” Dan… seterusnya.

Papa mama juga sempat nggak setuju saya menikah dengan pilihan saya sendiri, karena dinilai kurang mapan. Kami terpaksa harus menunjukkan bahwa kami bisa mandiri, dengan membiayai pesta kawin dengan uang sendiri, untuk 1.200 tamu. Tunai. Lima tahun kemudian, kami beli mobil bekas, juga tunai. Semoga nggak lama lagi, kami bisa beli rumah.

Kini, apakah saya harus menyesal nggak bisa menjadi perempuan pada umumnya, yang menghabiskan waktu bergaul dan berlebay-lebayan di medsos? Ketika perempuan-perempuan lain botraman, arisan, atau ikut senam, saya malah asyik mengetik, manggung, dan berenang gaya kupu-kupu.

Dan, ketika mereka pasang foto pose manis pakai baju feminim plus bibir yang dimonyong-monyongin, saya justru unggah foto ngecat rumah sendiri (tetap saja dianggap malas oleh papa, karena nggak mau ngedempul dan ngamplas pagar besi rumah sebelum mengecat ulang). Apa? Kamu bilang kamu perempuan dan tanganmu halus lentik? Itu hanya alasan! Perempuan hebat harus bisa melakukan segala hal.

Saya pun tak menyesal telah menjadi pakis, tanaman pionir yang kuat dan keras kepala itu. Bukan bunga mawar yang indah dan fragile seperti perempuan-perempuan lain pada umumnya.

  • Menil

    So many shaming. Your article is far from empowering. Different woman has different way to express themselves. What is wrong with women who express themselves by using cosmetic or good clothes? Or women who join senam and arisan? Is it wrong? You think you are better than anybody else?