Mengagumi Tere Liye yang Jadi Idola Emak-emak

Mengagumi Tere Liye yang Jadi Idola Emak-emak

thebadatcleaningblog.com

Ketika pertama kali mendengar nama Tere Liye, yang terlintas di kepala waktu itu adalah seorang penyanyi asal India. Jangan salahkan beta, kecuali beliau dipanggil nama depannya saja, Darwis. Belakangan beta baru tahu dari teman kalau Tere Liye adalah nama seorang penulis asal Sumatera sana. Pengetahuan beta soal penulis memang minimalis.

Selama ini, beta hanya sekadar tahu nama Tere Liye. Jangan tanya pernah baca karyanya atau belum, toh melihat orangnya saja tidak pernah. Yang dimaksud dengan karyanya itu adalah novelnya, bukan petikan-petikan kalimat di medsos. Kalau petikan kalimat dari Tere Liye, beta seringkali menjumpainya.

Tapi beta tidak penasaran untuk mencari karya-karyanya. Jangan kitorang sinis dulu, ini murni pandangan subyektif. Toh yang beta rasakan kutipannya tak jauh beda dengan Raditya Dika atau Shitlicious.

Belakangan penulis tersebut berhasil menyita perhatian publik. Tere Liye dengan telengas menganggap orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, dan pendukung liberal tidak mempunyai sumbangan apapun terhadap kemerdekaan Indonesia. Bung Tere memang sudah beri klarifikasi dengan bermain kata-kata. Tapi beta tetap penasaran, buku sejarah apa yang dibaca oleh bung Tere?

Btw, enaknya dipanggil Tere apa Liye sih? Mungkin Liye saja, soalnya Tere kalau di Ternate artinya kaku. Tak menarik kan kalau lagi membahas seseorang yang arti namanya memaksa otak membayangkan hal yang kaku-kaku. Bisa kaku tulisan beta. Tidak bisa masuk voxpop pula.

Oh ya, beta hampir lupa, berkat postingan Liye yang meramaikan jagat nusantara itu, beta jadi tahu kalau beliau ternyata cowok. Untung tak jadi manggil Tere.

Balik lagi ke buku sejarah yang dibaca Liye. Wajarlah kalau bikin penasaran. Bagaimana tidak, beta sulit temukan buku sejarah tentang perjalanan kemerdekaan Indonesia yang tak menuliskan nama-nama seperti Semaoen, Henk Sneevliet, Tan Malaka, atau Muso. Tentunya bukan di buku-buku sejarah keluaran Orde Babe (Orba).

Tapi apa iya seorang penulis tersohor hanya membaca buku-buku hasil kreativitas Babe? Baiklah, kitorang berpikir positif saja kalau Liye memang hanya membaca buku-buku tersebut. Tapi masalahnya tetap sama, toh di buku-buku jaman Orde Babe juga tetap mencantumkan nama-nama seperti Sutan Sjahrir, HOS Cokroaminoto, dan bahkan Soekarno, yang notabene mereka itu adalah bagian dari kelompok yang Liye anggap tak mempunyai sumbangsih kepada kemerdekaan.

Sampai di sini, beta bingung dengan maksud Liye. Pertanyaan besarnya adalah kok bisa penulis novel best seller semembingungkan itu argumentasinya? Kok bisa penulis yang petikan kalimatnya berseliweran di medsos itu tergolong orang yang tuna sejarah?

Apakah ini hanya strategi marketing? Apakah tak lama lagi novel terbaru Liye akan terbit, mengingat ia memang cukup rajin menerbitkan karyanya. Bukankah jaman sekarang butuh sensasi untuk menyita perhatian publik, sebagaimana bacotan Syahrini?

Buktinya, karena begitu ramainya komentar terhadap posting-an Liye, membuat beta berpikir untuk menulis tentang dia dan dengan sendirinya akan mencari tahu lebih dulu siapa dia. Tak menutup kemungkinan bagi yang tak kenal siapa itu Liye dan kebetulan membaca artikel ini akan berkomentar, “Penulis apaan se-ngawur itu?” Dan, saking penasarannya, kitorang kemudian mencari tahu siapa beliau sebenarnya.

Walaupun beta sebelumnya tak terlalu peduli dengan Liye, bukan berarti tak punya pengalaman ihwal karyanya. Setidaknya menyangkut kawan beta. Belum lama ini, junior di kampus meminta rekomendasi novel bagus untuk modal caper ke gebetan. Salah satu kawan merekomendasikan “Pulang”. Lantas junior beta itu langsung pergi ke toko buku.

Beberapa hari kemudian, ia menenteng sebuah buku dan menuju tempat kitorang sedang duduk-duduk ganteng. Tapi ia langsung protes ke kawan beta yang kasih rekomendasi. Junior beta itu bilang kalau novel yang ia beli ternyata biasa saja.

Lalu, kawan beta melihat novel yang diserahkan kepadanya. Ia pun tampak heran, “Lho, bukan ini bukunya!” Kawan beta lalu meluruskan bahwa yang ia maksud itu novel “Pulang” karya Leila S Chudori. Sedangkan yang dibeli adalah “Pulang” karya Tere Liye. Karena kawan beta memang tak kenal siapa itu Liye dan yang ia tahu novel berjudul “Pulang” itu hanya karya Leila, maka ia hanya menyebutkan judulnya saja.

Ada satu lagi pengalaman beta dengan karya Liye ini. Kawan SMA beta pernah mem-posting foto buku-buku yang baru ia beli. Di antara buku-buku itu ada karya Tolstoy dan tentu saja ada Tere Liye.

Beta kemudian mengomentari posting-an tersebut, “Wah, Tolstoy,” celetuk beta. Kawan beta itu lantas membalas, “Yoi dong,” sambil senyum. Beta lalu iseng membalas, “Tapi kok ada Liye yak?” Tak lama kemudian ia membalas lagi, “Kok pertanyaannya gitu, parah lo, idolanya nyokap gue itu,” sambil ngakak.

Beta lantas terkagum-kagum, ternyata Liye ini agak mirip dengan ustadz Felix Siauw. Sama-sama jadi idola emak-emak. Bagaimana Liye tak jadi idola, petikan kalimatnya di medsos memang bisa menghipnotis emak-emak. Bahkan, kalau baca di berita, peluncuran buku Liye sering dihadiri juga oleh emak-emak.

Coba kitorang baca kutipan Liye ini yang wara-wiri di medsos. “Ibu rumah tangga memang tidak ngantor pagi-pagi ini. Tapi mereka sudah ‘ngantor’ sejak tadi subuh. Ibu rumah tangga tidak pulang malam-malam. Tapi mereka baru selesai bekerja setelah anak-anaknya tidur pulas.” Sungguh, mulia betul Liye ini.

Coba kitorang baca lagi. “Ibu rumah tangga tidak menggapai karir tinggi, jabatan, posisi, tapi lihatlah suami dan anak-anaknya. Mereka ‘mengorbankan diri’ dengan tulus demi orang yang disayangi. Jika ibu rumah tangga itu profesi, dia sama mulianya dengan guru, dokter, perawat, dsb. Jika ibu rumah tangga itu pekerjaan, ia sama pentingnya dengan presiden, CEO, jenderal, dsb.” So sweet kan? Seperti beta punya kawan, sweet-sweet semuanya.

Jadi Bung Liye bersabar saja, walau dibuli netizen. Beta yakin banyak emak-emak yang berada di sampingmu. Tapi bung harus mau foto bareng, kalau perlu selfie-selfie, sama emak-emak. Bung Liye sih hanya mau foto bareng sama orang yang usianya masih di bawah 12 tahun. Kan tidak ada emak-emak yang umurnya segitu, bung.

Itu saja sih bung. Beta hanya sekadar berbagi, jadi jangan nyinyir dulu. Beta memang tak punya karya best seller seperti Bung Liye, tapi setidaknya beta bisa berterima kasih kepada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, dan pendukung liberal yang sudah mempertaruhkan hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia.

Tabik.